
"Aku benar-benar akan mati" bathin Puspa.
Puspa pingsan lagi, mereka segera membawa Puspa ke kamar yang sudah di tentukan.
Sesampainya di kamar hotel, Puspa ditidurkan di ranjang empuk. Bodyguard tadi meletakkan barang Puspa di samping Puspa dan mereka keluar kamar meninggalkan Puspa berdua dengan sosok laki-laki
Setelah hampir 1 jam Puspa sadar, ia membuka matanya yang terasa berat. Puspa menyisir sekelilingnya dengan pandangannya dan mendapati Arga duduk dipinggir ranjang
"Tuan?" panggil Puspa
"Hmmm sadarmu lama sekali" Arga berdiri
"Ini dimana?" tanya Puspa
"Di ruangan" jawab Arga dengan enteng. Puspa menyipitkan matanya
"Iya aku tau itu, maksudku ruangan apa ini? Kenapa aku disini?"
Arga diam.
Puspa langsung menyingkap selimutnya, takut telah di perko*sa😎. Ia bernafas lega saat pakaiannya masih lengkap
"Kau fikir aku akan menidurimu?" tanya Arga dengan nada mengejek
"Ya kan bisa saja, kau laki-laki normal, Tuan"
"Aiiisshhh kau belum menjawab pertanyaanku tadi, ini dimana?"
Arga menggaruk bagian belakang kepalanya, ia gugup
"Tuan? Kau bisu?"
"Diamlah" Arga berjalan mendekati Puspa, Puspa berfikir negatif, ia memeluk dirinya sendiri dan menghindari Arga
"Jangan macam-macam, ya. Keluarkan aku dari sini" Puspa menyelimuti tubuhnya sambil mengancam Arga dengan mengepalkan tangannya seolah-olah akan menonjok Arga
"Diamlah, Puspa. Bergerak sedikit lagi akan ku lempar kau dari balkon"
Puspa langsung diam,
"Jangan macam-macam, loh. Aku tidak akan memaafkanmu"
Arga nampak sedang berfikir sambil memegangi dahinya
"Aku tidak mesum, diam dan tenanglah. Jangan membuatku semakin kesulitan" ucap Arga dengan nada serius
Puspa melemaskan tubuhnya dan diam memandangi Arga yang terlihat sedang berfikir keras. Arga menyingkirkan tangannya yang menghalangi pandangannya, mata keduanya saling bertatapan
Puspa memasang wajah polos saat mereka bertatapan. Arga yang melihat Puspa setenang itu malah semakin kebingungan
10 menit berlalu...
"Tuan, seben-"
"Diamlah" sela Arga. Ia kembali berfikir menyusun kata-kata yang tepat. Latihannya selama ini jadi kacau
"Cih, latihanku selama 1 bulan kacau dalam beberapa jam" bathin Arga
Arga duduk di ranjang dan membelakangi Puspa, ia menarik nafas dalam-dalam
"Puspa" panggil Arga
"Emmm?"
"Tidak. Kau keluarlah dulu, aku akan mengantarmu pulang" Arga berdiri membelakangi Puspa.
Puspa mengernyitkan dahinya,
__ADS_1
"Apa maksud semua ini? Aku tidak mengerti"
"Keluar ku bilang"
Puspa menghendikkan bahu, ia bergegas turun dari ranjang dan mengambil barang-barang miliknya.
"Kau tidak apa-apa, Tuan? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Puspa sebelum membuka pintu kamar
"Ya, keluarlah dulu"
"Baiklah" Puspa keluar dari kamar
Setelah Puspa menutup pintunya kembali, Arga menghela nafas lega. Ia duduk di ranjang sambil menunduk dengan perasaan kecewa atas dirinya sendiri
Selama sebulan ia berlatih menyiapkan kalimat untuk menjadikan Puspa sebagai kekasihnya, namun dalam hitungan jam saja semua latihannya kacau dan bahkan ia tidak melontarkan 1 saja kalimat yang romantis
***
Di dalam mobil
"Kenapa penjagamu banyak sekali di hotel?" tanya Puspa sambil memandangi Arga yang sedang menyetir
"Tidak usah di fikirkan"
"Tapi tadi beberapa penjagamu ada yang senyum-senyum tipis, apa kalian merencanakan sesuatu? Lagipula kau menculikku pastinya ada sebuah alasan kan?"
"Hm, lupakan saja"
"Kau menyuruhku untuk melupakannya dengan mudah, Tuan. Kau fikir diculik itu enak? Aku sempat panik. Aku takut aku akan dibunuh atau lainnya" Puspa agak kesal
"Nyatanya kau tidak apa-apa, kan? Jadi lupakan saja"
"Kau... Hmmmm" seketika badmood
20 menit mereka hanya diam,
"Hm??" Arga melirik Puspa sekilas, dilihatnya dari wajah Puspa yang sedang badmood
"Kau kemana saha sebulan ini?" Puspa mengulangi pertanyaannya
"Dirumah dan bekerja"
Mendengar jawaban Arga yang enteng membuat Puspa semakin merasa kesal
"Hmmm.. Kau tidak menanyaiku balik?" Arga melirik Puspa lagi
1 menit kemudian, terlontarlah sebuah pertanyaan dari Arga
"Apa?" tanya Arga
"Astagaaaaaaa bukan bertanya 'apa' yang ku maksud" bathin Puspa
"Ya sudahlah" Puspa melepas sabuk pengamannya
"Aku mengantuk" Puspa memiringkan tubuhnya membelakangi Arga.
"Pakai -"
"Sudah ku bilang aku mengantuk!" sela Puspa, ia meremas bagian dadanya yang sedikit sesak
Arga memilih diam hingga sampai dirumah Puspa
"Puspa, kita sudah sampai" Arga melepas sabuk pengamannya dan menyentuh lengan
Puspa. Puspa tidak merespon karena ia terlelap.
Arga menghela nafas, ia keluar terlebih dahulu dan menggendong Puspa ke kamarnya. Setelah itu Arga tidak langsung pulang, ia duduk santai di ruang tamu sambil membuka isi hp Puspa
__ADS_1
Tidak ada yang mencurigakan, laki-laki saingan Arga pun nampaknya tidak pernah menghubungi Puspa. Arga tenang akan hal itu.
"Entah bagaimana kondisinya sekarang, yang jelas aku akan memberinya pelajaran jika dia berani macam-macam lagi"
🍀🍀🍀
08:00
Andre mengetuk pintu kamar rawat Yuli sebelum masuk.
"Selamat pagi" ucap Andre sambil tersenyum. Yuli duduk di ranjang
"Pagi. Kau tidak perlu mengetuk pintu, Dokter. Aku sudah di periksa dan aku baik-baik saja. Aku akan pulang besok"
"Kau masih saja dingin seperti itu, Yuli. Apa yang kau tidak suka dariku?" Andre ikut duduk di samping Yuli
"Entahlah. Lagipula mau apa kau kesini? Pasienmu menunggumu, tuh"
"Eitsss sudah ku tangani, mangkanya aku bisa menjengukmu"
"Ooh~"
"Lain kali jangan mengurung diri lagi sampai tidak makan begitu, ujung-ujungnya kau ke Rumah Sakit kan" Andre mengelus kepala Yuli namun Yuli langsung menepis tangan Andre
Andre merasakan ada rasa bersalah didalam hatinya, tapi ia tidak mengerti kenapa bisa seperti itu.
"Aku ingin istirahat, keluarlah dulu"
Andre langsung berdiri dan Yuli berbaring kembali sambil membelakangi Andre
"Andre" panggil Yuli, Andre tersenyum setelah 1 bulan lebih Yuli enggan memanggilnya.
"Katakan, apa yang kau butuhkan" Andre girang
"Jika aku dan gadis yang kau sukai itu sedang diancam oleh 2 preman dengan pisau di leher kami, lalu preman tersebut meminta tebusan 200 juta namun kau hanya memiliki 100 juta hingga akhirnya kau hanya bisa menyelamatkan salah satu di antara kami. Siapa yang kau selamatkan? Aku atau gadis yang kau suka?"
Andre membisu,
"Yuli, pertanyaan apa ini? Aku seorang Dokter, aku punya uang lebih dari 200 juta itu, jadi aku bisa menyelamatkan keduanya"
"Itu hanya 'seandainya' , Andre. Pilihlah" Yuli masih membelakangi Andre
"Pasti akan ku usahakan menyelamatkan keduanya" Andre merasakan suhu ditubuhnya panas dingin
"Kau tidak mengerti atau tidak mau mengerti? Aku memberi dua pilihan. Menyelamatkanku atau gadis yang kau suka"
"Yuli, kalian berdua sama-sama penting. Aku tidak bisa memilih-"
"Oke, aku sudah faham. Keluarlah, Andre" Yuli menitikkan air mata
"Yuli, jangan membuatku memilih salah satu kalau keduanya bisa kuselamatkan"
"Ya. Maaf, harusnya aku tidak menanyakan sesuatu yang sudah ku ketahui jawabannya. Maaf" Yuli menutupi dirinya dengan selimut dari ujung kaki sampai kepala
"Ternyata aku masih saja egois, setelah ku putuskan untuk membuang perasaan ini, pada nyatanya aku masih terus berharap. Mogok makan selama 1 minggu kenapa tidak membuatku langsung mati saja"
"Yu-"
"Keluarlah, Andre" dengan suara gemetar. Yuli menggigit bibir bawahnya untuk menahan isak tangis
"Kau menangis? Apa jawabanku menyakitimu"
"Ku bilang Keluar! Kau tidak tuli kan? Aku membencimu!" usir Yuli dari balik selimut sambil mencubit pahanya sendiri
"Yuli" lirih...
Andre keluar dari kamar rawat Yuli dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1