Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Pedas?


__ADS_3

🍀🍀🍀


Usai memasak, Puspa memanggil Arga untuk menyantap makanan selagi hangat.


Arga menatap salah satu menu di atas meja.


"Apakah ini pedas?" Tanya Arga menunjuk tumis buncis


"Tidak.. Hanya memakai 1 kilo cabai rawit" Ucap Puspa seraya mengambil nasi untuk dirinya sendiri.


Arga memicingkan matanya


"Apa iya 1 kg cabai bumbunya terlihat sedikut seperti ini?"


"Hmmm makan saja. Aku tidak akan membunuhmu." Puspa malas berdebat.


"Hm baiklah. Ambilkan aku nasi" Titah Arga


Puspa melotot


"Kedua tanganmu masih berfungsi. Ambil sendiri. Aku mau makan" Tolak Puspa


"Ambilkan atau ku banting meja ini" Ancam Arga


Puspa mengepalkan tangannya


"Baiklah oke oke. Jangan hancurkan isi rumahku. Oke?! " Puspa meletakkan nasi di piring Arga dengan kasar.


"Yang Ikhlas!"


"Diamlah!" Bentak balik Puspa.


Puspa kembali duduk di kursinya. Ia menyantap makanannya dengan ganas


"Bisakah lebih halus dalam hal makan?" Sindir Arga. Ia mengambil tumis buncis. Mencium aromanya dan memasukkan kedalam mulutnya.

__ADS_1


"Aman " Gumam Arga. Arga menikmati makanannya.


"Bagaimana? pedas?" Tanya Puspa saat melihat Arga menikmati masakan yang penuh umpatan saat proses pembuatannya


"Hm" Sahut Arga


"Hanya hm? Haha sudah dari dulu dia begitu" Lirih Puspa


"Jika aku punya suami sepertimu, aku yakin aku akan mati muda" Puspa memasukkan nasi ke dalam mulutnya


"Hmm terserahlah. Memangnya aku mau jadi suamimu?"


'Jleb'


Puspa tersenyum hambar.


Inikah yang namanya di tolak sebelum menyatakan perasaan?


Puspa tersadar. Untuk apa ia merasa sedih? Toh tidak ada rasa apapun terhadap pria di depannya ini.


Puspa melahap nasinya dengan lemas. Hatinya terasa di gelitik rasa sakit.


🍀🍀🍀


"Aku mau pulang" Ucap Arga sambil melirik jam tangannya yang menunjukkan waktu pukul 16:15


"Iya. Terima kasih tumpangannya" Puspa tersenyum


"Hm. Oh iya, kau kemarin bersama dia itu datang darimana?" Tanya Arga saat akan melewati pintu


"Bukannya tadi sudah pamit pulang?" Puspa menahan tawa


"Hmm jawab saja" Arga memutar matanya


"Wkwkwk. Aku beli Hp dan kebetulan bertemu Ilham"

__ADS_1


"Aku tidak bertanya namanya. Tidak penting" Arga melangkahkan kakinya keluar rumah Puspa


"Haiihhh Aku serba salah" Puspa menghentakkan kakinya, kesal.


"Hati-hati" Ucap Puspa saat Arga masuk ke mobilnya.


Arga hanya terseyum tipis dan menatap Puspa sekilas.


🍀🍀🍀


Disisi lain di RS


"Ibu sekarang percaya bukan?"


"Percaya apa?" Tanya balik Ibu Ilham


"Ya percaya kalau Puspa itu masih lajang" Ilham tersenyum


"Iya percaya... Apalagi Puspa sendiri yang mengatakan itu"


"Itu Artinya Ilham masih punya kesempatan, Bu"


"Ibu akan mendoakan yang terbaik untukmu, Nak." Ibu Ilham mengelus kepala Putranya itu


"Terima kasih do'anya, Bu."


"Tapi... Pria itu mengatakan bahwa Puspa itu Istrinya, Kenapa begitu?" Tanya Ibu Ilham


"Dia saingan Ilham, Bu. Ya mungkin"


"Dia juga suka pada Puspa?"


"Kelihatannya seperti itu. Tapi Puspa dan Ilham sudah kenal sejak masih kecil. Pasti Puspa akan memilih Ilham" Ucap Ilham dengan bangga.


"Aamiin.. Ibu harap juga begitu. Jika memang dia di takdirkan untukmu, jaga dia baik-baik."

__ADS_1


"Ibu.. Ilham akan menyayangi Puspa... Ilham tidak akan melakukan hal seperti yang di lakukan oleh Bapak. Ibu percaya kan pada Ilham?"


Ibu Ilham mengangguk. Mengingat itu membuat hatinya kembali sakit, beberapa tahun yang lalu, Almarhum suaminya meninggalkan dirinya demi gadis SMA yang sangat cantik. Hingga suatu hari Almarhum suami dan gadis itu mengalami kecelakaan yang merenggut nyawa mereka.


__ADS_2