
🍀🍀🍀
Arga akhirnya memilih diam saat Puspa mulai berpamitan pada Ortu Arga. Arga merasa ia hanya seperti mengemis meminta Puspa tetap disini. Harga dirinya seakan di injak-injak.
"Tunggu" Puspa berhenti di depan gerbang.
Arga menyodorkan amplop.
"Ini gajimu. Pergilah jika kau masih bersikukuh pergi"
Hati Puspa seperti di gelitik terbesit sedikit sakit.
Mama Arga hanya tersenyum dari balik jendela menyaksikan kepergian Puspa.
"Terima kasih" Puspa menerima amplop itu sembari tersenyum kecut.
"Hm. Aku tidak akan memaksa orang tetap disini jika bukan dari kemauannya sendiri." Arga membelakangi Puspa.
Tersirat kesedihan di mata Arga, tapi Puspa tidak menyadari itu.
Sedangkan Bi Ina masih terisak.. Beberapa bulan bersamanya membuat dia merasakan kebahagiaan bersama putrinya yang sudah lama tiada.
"Aku keluar juga karena terpaksa. Aku juga tidak mau bertahan disini jika yang mempertahankan aku tidak sungguh-sungguh."
Arga memejamkan matanya. Rasanya seperti sebuah sindiran.
"Bukan tidak sungguh-sungguh, hanya saja yang di pertahankan tidak pernah menghargaiku" Arga melangkah meninggalkan Puspa.
'DEG'
__ADS_1
"Kenapa.. Aku merasa sakit disini?" Puspa memegangi dadanya yang sesak.
Puspa membalikkan badan dan masuk ke dalam taxi yang sudah Arga pesankan.
Puspa membuka kaca mobil dan menatap rumah itu.
"Selamat tinggal." Tidak terasa Puspa meneteskan air mata.
Arga menatap taxi yang sudah berlalu itu. Rasanya seperti ada yang hilang.
"Bagus lah kalau sudah pergi"
Mama Arga mendekati Arga yang berdiri di teras.
"Mama keterlaluan" Papa Arga memilih keluar untuk menghindari amarah yang sudah menumpuk.
"Papa apaan sih belain dia terus. Papa mau kemana ini?"
"Mama puas kan sekarang?" Arga meninggalkan Mama nya
"What? Kenapa aku yang di anggap bersalah?" Mama Arga tidak terima
🍀🍀🍀
'Krieeettt' Puspa membuka pintu rumahnya. Sekilas ingatannya mengingat masa-masa indah bersama keluarganya.
"Puspa pulang.." Suara Puspa menggema di rumah nya yang sama sekali tidak ada penghuni.
Tidak ada sahutan.. Bulir bening mengalir dari ujung matanya.
__ADS_1
"Sekarang aku benar-benar sendirian" Puspa masuk ke kamarnya dengan lankgah gontai sambil menyeret kopernya.
Puspa menatap dirinya di cermin.
"Aku harus kuat. Sendiri bukan berarti lemah. Strong" Puspa menarik ujung bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman.
"Baiklah.. Langkah pertama adalah.. Bersih-bersih" Ucap Puspa semangat walau dengan suara yang parau khas usai menangis lama.
Ia meletakkan kopernya di sudut kamar dan menuju ruang tamu sambil membawa sapu. Ia mengikat rambutnya dan menyisir isi rumah menggunakan ujung matanya.
"Semangat" Puspa dengan gesit menyapu lantai . Mencopot gorden dan membawanya ke kamar mandi untuk di cuci.
Mengelap kursi beserta perabot rumah itu.
Sesekali ia mengusap keringatnya yang menetes dari dari dan hidungnya.
Waktu mulai petang dan adzan maghrib sudah berkumandang. Puspa mengakhiri kegiatannya itu mulai membersihkan diri.
Saat masuk kamar mandi, ia ingat saat masih bekerja di ruma Arga.
Saat Arga menyodorkan pakaian Puspa, Puspa baru menyadari satu hal.
"Apa dia melihat pakaian dalamku? Memalukaann" Puspa menggelengkan kepalanya dan wajahnya memanas.. Malu.
Puspa membayangkan Arga melihat Bh dan Cd nya. Wkwkwkw.
"Ya ampun otakku." Puspa tersenyum-senyum. Tapi ia juga teringat saat akan pergi dari rumah itu.
"Apa aku tidak menghargainya? Apa benar yang dia katakan? Apa aku egois?" Puspa termenung.
__ADS_1
"Bukan tidak sungguh-sungguh, hanya saja yang di pertahankan tidak pernah menghargaiku" Arga melangkah meninggalkan Puspa.
"Kenapa dia tidak menatapku.. Apa ucapanku sangat keterlaluan?"