
🍀🍀🍀
Kondisi Puspa semakin membaik, 2 hari telah berlalu.
"Aku ingin kau hadir di wisudaku nanti" pinta Arga yang terdengar seperti perintah
"Hihi, kapan? Apakah besok?" tanya Puspa
"Tidak. Masih lumayan lama. Skripsiku mendapat nilai sempurna"
"Waaaahhh Tuan pasti sangat cerdas" puji Puspa
"Tentu saja," Arga membanggakan diri
"Aku juga ingin kuliah, tapi..."
Arga menaikkan satu alisnya
"Tapi?" tanya Arga
"Tapi sekarang aku tidak menginginkannya" jawab Puspa tersenyum
Arga hanya mengangguk
"Apakah kau menyadari kapasitas otakmu?" ledek Arga
Puspa melotot.
"Bisa jadi" Puspa mengubah ekspresinya
"Lain kali ku belikan otak" Arga meledek Puspa lagi.
"Ingin rasanya aku memakanmu hidup-hidup" bathin Puspa
Mereka terdiam. Hingga bunyi perut Arga mengejutkan Puspa.
"Tuan, kau datang kesini jam berapa?"
Arga langsung melihat jam tangannya
__ADS_1
"Jam 5 pagi tadi" jawab Arga berusaha memasang 2 wajah dingin
" 3 Jam yang lalu? Sekarang waktunya sarapan, Tuan. Sarapanlah dulu"
"Tidak, aku akan tetap disini"
"Nanti kau kurus" ledek Puspa
Arga menatap tajam Puspa. Puspa menelan ludahnya.
"Maafkan aku" Puspa menutup matanya ketakutan karena tangan Arga sudah berada dilehernya dan bersiap mencekiknya.
***
Papa Arga bersiap pergi bekerja, Mama Arga merapikan dasi suaminya itu
"Ma, nanti Papa ke rumah sakit"
"Untuk?"
"Menemui Arga, Ma"
"Arga, Ma. Dia jarang pulang 2 hari ini. Pulang hanya mandi saja"
"Benar menemui Arga?" Mama Arga menyipitkan matanya
"Tentu saja" Papa Arga langsung mencium pipi Istrinya
"Papa sudah tua, jadi mana mungkin Papa berbuat tidak senonoh. Lagipula, gadis seperti Puspa itu cocoknya dengan Arga. Paham?"
Mama Arga mengangguk, tiba-tiba telfonnya bergetar, Jesi menelfonnya.
"Di lodspeaker" titah Papa Arga. Mama Arga mengangguk dan menerima panggilan Jesi.
***
Ilham sedang membungkus buah-buahan dikamarnya untuk dibawa menjenguk Puspa hari ini, sejak 2 hari lalu ia sempat ragu lagi untuk menjenguk Puspa.
Ilham menarik nafas dalam-dalam dan berharap Puspa akan senang dengan kehadirannya serta akan memaafkan kesalahannya
__ADS_1
"Cantik" puji Ilham melihat buah yang sudah selesai dibungkus
"Aku akan datang, Puspa" imbuhnya
🍀🍀🍀
"Mas" panggil Rina
"Kenapa, Rin? Aku harus berangkat bekerja. Aku sudah terlambat"
Bapak Puspa kini telah bekerja kembali sebagai kuli bangunan. Ayah Rina bangkrut dan harus memulai semuanya dari awal lagi.
"Jangan pulang malam terus kenapa sih? Perutku semakin membesar, loh" rengek Rina
Bapak Puspa berjalan mendekati Rina dan mengelus kepalanya
"Aku pulang malam kan untuk kita juga, tidak udah berfikir macam-macam" Bapak Puspa tersenyum
"Hilih... Bagaimana tidak kefikiran? Dulu aja kamu kerja maghrib sudah pulang. Nah sekarang? Kalau tidak jam 10 atau jam 11 tidak pulang" Rina menepis tangan Bapak Puspa
"Seperti lon-te yang kerjanya malam" imbuh Rina.
Bapak Puspa menahan emosinya
"Rina, siang malam aku bekerja untukmu, mengikuti gaya mewahmu, bahkan Ibunya Puspa saja tidak mengeluh sepertimu"
"Ooooohhh bandingin terus" Rina mulai emosi
Bapak Puspa terdiam
"Ayo! Banding-bandingkan lagi! Ingat, Istrimu yang dulu itu kolot, dia tidak tau fashion dan dia tidak tau masalah makanan. Aku jelas lebih baik darinya dilihat dari segi apapun" nafas Rina menggebu
"Tapi dia tidak pernah mengeluh"
"Cih, karena dia terbiasa hidup melarat" ledek Rina. Ia duduk di kursi sambil mengelus perutnya yang mulai membesar
Bapak Puspa mengepalkan tangannya, ia menahan emosinya. Bapak Puspa memilih diam dan berangkat kerja, mengabaikan Istrinya itu
"Kau tidak tahu, aku dulu tidak miskin, dan Ibunya Puspa sangat elegan" gumamnya saat keluar dari rumah
__ADS_1
Memang, buah betis tidak ada yang posisinya ada di depan. Sama seperti penyesalan, ia tidak pernah berada di awal melainkan ia ada di belakang