Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Titip Adik


__ADS_3

Hari-hari berlalu..


Andre berusaha menjadi dirinya yang dulu walaupun dikepalanya masih selalu terbesit bayangan Yuli. Sedangkan Yuli makin hari semakin merasa tidak karuan. Ia sering menangis dikala mengingat Andre.


Ia tidak mencoba untuk menelfon Andre lagi karena merasa Andre pasti sudah akan mengabaikannya karena ulahnya. Yuli sering melamun dan berharap menemukan titik terang dari semua ini.


***


17:00


"Kenapa tidak langsung pulang?" tanya Puspa sambil membawakan minum untuk Arga


"Hm"


"Hmmm kebiasaan burukmu ini apa tidak bisa di rubah?"


"Tidak" jawab Arga dengan cepat


"Kita makan malam di luar. Segera siap-siap"


"Ini sudah hampir maghrib, loh"


"Hm, jam 8 malam nanti aku akan menjemputmu" ucap Arga lalu meminum minuman yang Puspa suguhkan


"Tidak terlalu malam?"


"Tidak. Kita sudah ada ikatan, tidak usah mengkhawatirkan tetanggamu itu"


"Haha kau ini bisa membaca isi pikiran orang ya?"


"Hm. Aku pulang" Arga pun pamit pulang


"Hati-hati yaaaaa" Puspa melambaikan tangan yang tidak dibalas oleh Arga


"Oke semuanya berjalan dengan baik. Tapi aku dengar menjelang pernikahan pasti akan banyak rintangan. Kuharap kita mampu melewatinya, ya" gumam Puspa yang melihat mobil Arga sudah tidak ada lagi di rumahnya


"Ibu, mohon restunya"


'Dddrrrttt Drtttt'


"Assalamu'alaikum, Pak"


"Wa'alaikum salam, Nak. Bisakah kamu kemari? Bapak titip adikmu"


"Ha? Kenapa?"


"Rina dari pagi tadi terus berteriak dan membanting barang-barang"


"Iya, Pak. Puspa akan segera kesana"


"Bapak tunggu"


Puspa pun mengakhiri telfonnya dan segera bersiap-siap.


***


"Pak, tunggu sebentar ya, saya akan segera kembali" ucap Puspa pada Supir taxi


"Iya, mbak."


Puspa langsung masuk ke rumah Bapaknya


"Assalamu'alaikum! Ini Puspa, Pak"


"Wa'alaikum salam. Masuk, Nak"

__ADS_1


Puspa membuka pintu dan terkejut melihat isi rumah yang berantakan.


Bapak Puspa keluar dari kamar lain dan membawa bayi di gendongannya


"Pak, kok bisa seperti ini?" tanya Puspa dengan raut wajah keheranan


"Kyaaaaaaaaaa! Pergiiiiii!!!" terdengar teriakan Rina dari dalam kamarnya


"Bapak juga tidak tau. Bapak titip adikmu, ya. Perlengkapannya sudah bapak siapkan juga"


"Eh? Maksudnya dia tinggal dengan Puspa?"


Bapak Puspa mengangguk


"Puspa tidak pernah mengasuh bayi, Pak. Puspa takut"


"Bapak yakin kamu pasti bisa. Bapak titip 1 atau 2 hari"


Puspa kebingungan. Dengan kaku ia bersiap menggendong adiknya yang masih bayi.


"Pak, Puspa takut. Bagaimana kalau lehernya patah?"


"Tidak akan... Pelan-pelan" Adik Puspa pun berpindah gendongan


Puspa masih kaku dan gemetaran, terlebih bayinya terus menangis karena mendengar teriakan Ibunya


"Nak, bawa adikmu keluar. Bapak akan ambil perlengkapannya dulu"


Puspa mengangguk, ia berjalan perlahan dan menyeimbangkan tubuhnya yang terus gemetaran.


"Cup cup cup... Jangan nangis, ya" Puspa mencoba menghibur adiknya, namun ia tetap saja menangis


"Cup cup... Jangan menangis, ya. Ini Kakak loh"


"Puspa naik Taxi, Pak. Itu disana"


Bapak Puspa pun menuju Taxi di ikuti Puspa, ia memasukkan tas nya ke dalam mobil.


"Pak, dia menangis terus. Puspa harus bagaimana?"


"Kamu gendongnya agak di goyang sedikit, nanti buatkan dia susunya ya. Bapak akan mengurus Ibumu dulu"


"Tiri"


"Iya iya, sekarang kamu bawa adikmu ya. Bapak mohon bantuannya" ucapnya dengan buru-buru


Puspa pun mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.


Perlahan-lahan adiknya pun berhenti menangis, ia terus menatap ke wajah Puspa


"Baaaaaaaa" hibur Puspa sambil tersenyum


"Kamu jangan rewel ya" imbuhnya


Adiknya sesekali menggeliat sedangkan Puspa masih tegang.


"Duh, bagaimana caranya membuat bayi tertidur ya?" batin Puspa


"Tidur ya Dek, mohon kerja samanya" ucap Puspa pelan.


Adiknya terus memandangi Puspa


"Jika di lihat-lihat, bayi ini menggemaskan juga" Puspa menatapi mata bulat adiknya


Puspa sedikit menggoyang gendongannya seperti yang dikatakan Bapaknya dan Adiknya perlahan mulai mengantuk dan menguap.

__ADS_1


"Nah... Begitu, ayo tidur-tidur" ucap Puspa dengan suara pelan


Disisi lain di rumah Bapak Puspa.


Bapak Puspa di sibukkan menenangkan Rina yang terus ketakutan.


"Rina! Tenanglah" Bapak Puspa mencekal pergelangan tangan Rina


"Mas, dia akan membunuhku"


"Tidak ada apa-apa. Tenanglah"


Rina langsung memeluk suaminya dan gemetaran..


Flash Back On


Malam ini Rina baru selesai menyusui anaknya dan bersiap tidur, di lihatnya suaminya itu telah terlelap. Tiba-tiba ia teringat wajah Puspa saat memandangi wajah suaminya


"Cih" Rina berdecih


Karena kebenciannya pada Puspa, ia pun tidak suka akan hubungan antara Puspa dan Arga. Apalagi Puspa mendapat laki-laki yang kaya, hal itu membuat Rina semakin jengkel


"Kenapa tidak ma*ti saja seperti Ibu dan adiknya" ucap Rina dengan kesal, ia pun berbaring di ranjang dan mulai memejamkan mata


Di tengah malam Rina terbangun dan rasanya ingin buang air kecil. Ia pun dengan terpaksa membuka mata dan merenggangkan tubuhnya. Saat kakinya menginjak lantai, Rina terdiam kaku saat merasa ada yang menyentuh kakinya.


Rina perlahan melihat ke arah bawah dan tidak mendapati apapun. Saat ia menghadap kedepan ia di kejutkan dengan adanya gunting yang menempel di cermin lemarinya.


Rina tidak bisa berkata-kata. Gunting itu menghilang dan menyisakan bekas darah yang berbentuk gunting dan menempel di jendela. Jantung Rina berdebar saat darah itu perlahan hilang.


"Aaaaww" Rina merasa jantungnya tertusuk sesuatu dan terasa sangat nyeri


Perlahan ia melirik ke bawah tepatnya ke dadanya dan ada darah yang mengalir dari dada kiri yang merupakan tempat jantung. Keringat Rina mulai bercucuran saat ia menyentuh dan itu darah asli


"Sakit tidak?" suara lembut dan anggun yang terdengar seram baginya


Rina melirik ke arah sumber suara, ia tidak bisa mengeluarkan suara saat ekor matanya mendapati sosok Ibu Puspa dengan mata yang sembab


Rina meringis saat rasa sakit di jantungnya semakin terasa dan darah yang bercucuran semakin banyak.


"Sakit, ya?"


Rina menitikkan air mata karena takut dan kesakitan. Rina melihat dadanya lagi dan ada ujung gunting yang tembus di dada kirinya.


Rina menggeleng kepala dan tatapan matanya seakan memohon agar sosok itu tidak meneruskan aksinya


"Apa aku terlalu kasar melakukannya? Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang kalian berikan padaku" ucapnya di telinga Rina


Rina membulatkan mata saat merasakan gunting itu ditekan ke bawah dan seakan-akan bersiap membelah dirinya


"A-Ampun"


"Kau akan menebusnya" ucap sosok itu dengan seringai serta tangannya yang menyentuh kepala Rina


"Tidak... Tidak.. Tidaaaaaakk!!!" Akhirnya Rina bisa berteriak.


Rina membuka matanya dan ternyata itu hanya mimpinya saja, badannya basah oleh keringat dan Suaminya pun masih terlelap. Karena takut Rina pun memeluk suaminya dan melanjutkan tidurnya.


Tidak disangka saat ia tertidur lagi, ia memipikan hal yang sama. Saat pagi pun Rina berhalusinasi akan sosok Ibu Puspa yang siap menghabisinya. Rina mulai berteriak dan melempari sosok Ibu Puspa dengan barang-barang yang ada di dekatnya. Rina tidak sadar telah membuat bayinya terus menangis.


FLASH BACK OFF


Puspa merasakan tangannya mulai lelah dan agak linu, adiknya pun tertidur pulas. Melihat hal tersebut menimbulkan rasa lega bagi Puspa.


"Oke, 2 hari saja, dan aku pasti bisa" ucap Puspa dengan semangat

__ADS_1


__ADS_2