
Hari mulai malam, Puspa dan Arga pamit pulang, para tamu yang datang melayat juga sudah pulang.
"Pak, kami pamit pulang,"
"Tidak menginap saja disini?"
Arga dengan wajah datar memberikan jawaban menohok.
"Istriku akan tersiksa tinggal seatap dengan Ibu sambung seperti dirinya. Kami pulang, Selamat malam."
Bapak Puspa diam tak bergeming, Arga mencium punggung tangan mertuanya itu lalu menarik Puspa ke dalam mobil.
"Kau seharusnya tidak perlu mengatakan hal seperti itu tadi,"
Arga yang menyetir menoleh sekilas, ia mencubit pipi Puspa.
"Aku tidak ingin kau tersakiti lagi, kau adalah Istriku."
Puspa malu-malu mendengar perkataan Arga.
"Terima kasih,"
Sesampainya di rumah~
"Darimana? Hp kalian berdua tidak bisa di hubungi." tanya Mama Arga
"Maaf, Ma. Kami dari rumah Bapak. Adikku.. Adikku meninggal."
Papa dan Mama Arga terkejut, tidak lama setelah itu mereka segera pergi ke rumah Bapak Puspa.
Puspa berdiri di balkon kamar sambil memandangi langit malam, hembusan angin malam menyapu wajahnya.
"Dan pada akhirnya Adikku pergi lagi." lirih
Arga memeluknya dari belakang dengan erat.
"Ada aku," ucap Arga pelan.
"Aku harap kita bisa bersama selamanya,"
"Walaupun aku tau, kelak kau akan merasa bosan padaku dan akan banyak bermunculan gadis muda," batin Puspa
"Aku tidak akan meninggalkanmu." Arga membalik tubuh Puspa dan mendaratkan kecupan hangat di kening Puspa.
"Semoga..."
🍀🍀🍀
2 minggu berlalu...
Puspa sedang melipat pakaiannya. Ia menghentikan kegiatannya ketika mendengar suara mobil Arga yang baru masuk ke halaman rumah. Puspa berjalan dengan langkah cepat ke balkon kamar dan melihat Arga yang masuk ke dalam rumah.
Puspa merapikan penampilannya dan juga memakai parfum. Puspa berdiri di balik pintu sambil menahan suara dan nafasnya.
'Ceklek' Arga membuka pintu kamar. Ia penasaran kenapa Puspa tidak ada di kamar. Arga melonggarkan dasinya dan meletakkan tas kerjanya, ia menuju ke kamar mandi dan Puspa tidak ada di dalamnya.
__ADS_1
Arga celingak-celinguk dan tetap tidak menyadari Puspa yang bersembunyi di balik pintu.
"Pasti di dapur," gumamnya.
Saat berbalik badan Puspa langsung memeluk Arga, ia tersenyum lebar, Arga sama sekali tidak terkejut.
"Yah, kok tidak kaget sih."
"Aku tidak pilek,"
"Oh iya, heheh."
Puspa melepas dasi Arga lalu meletakkannya di gantungan.
"Kau sudah makan malam? Aku tadi mencoba resep baru."
"Aku sudah melarangmu, bukan?"
"Habisnya aku bosan di rumah seharian," sambil melepas sepatu dan kaos kaki Arga.
"Hm."
Puspa membawakan handuk ke kamar mandi.
"Airnya sudah ku siapkan!" dengan senyum lebar.
Baru selangkah Puspa keluar dari kamar mandi tetapi Arga langsung menggendong Puspa masuk kembali ke kamar mandi.
"Aku sudah mandi, tau." Puspa berusaha turun dari gendongan Arga.
"Kyaaaa! Basah." Puspa membulatkan mata karena pakaiannya yang basah menjadi transparan.
Dengan cepat ia menutupi dad*anya dan menunduk malu.
"Ini Bra yang lama?" heran Arga karena Bh yang di gunakan Puspa sudah hampir putus talinya.
"Y-Ya begitulah. Kan masih bisa di gunakan," semburat merah tipis menghiasi pipi Puspa.
"Uang yang ku berikan tidak cukup untuk membeli yang baru?"
"Bu-Bukan begitu, aku sedang irit. Sudah, aku keluar duluan." Puspa meraih handuk namun langsung di tarik kembali oleh Arga.
"Akan ku buat kau menggunakan yang baru."
"Ha??" Puspa bingung.
Arga meletakkan kembali handuk di tangan Puspa lalu merobek baju atas Puspa. Puspa terkejut.
"Ini baru beliiii."
"Bisa beli lagi,"
Tali Bra Puspa yang sudah kelihatan langsung Arga tarik hingga putus, Puspa lagi-lagi tercengang.
"K-Kau-"
__ADS_1
Arga langsung mengulum lembut bi*bir Puspa, tangannya pun ikut aktif dengan melucuti pakaian Puspa. Puspa yang malu langsung memeluk Arga dan memejamkan mata. Arga menelan ludah saat merasa ada gumpalan kenyal menempel di dadanya.
"Malunyaaaaa! Dia akan melihat suamuanya!" batin Puspa.
Arga membuka kancing kemejanya dan kini tubuh keduanya menempel. Jantung Puspa serasa akan loncat dari sarangnya, ia tidak berani membuka matanya karena malu. Arga menarik dagu Puspa dan menciumnya lagi.
"Aku harus bagaimana ini?!" batin Puspa
'Deg' Lampu tiba-tiba mati.
Puspa terkejut, ia langsung membuka mata dan melihat sekelilingnya sudah gelap gulita. Ia refleks memeluk Arga dengan erat. Arga mengelus kepala Puspa.
"Tidak apa-apa." ucap Arga menenangkan Puspa
Arga lalu menggendong Puspa keluar dari kamar mandi, cahaya bulan samar-samar menyinari kamar itu. Arga merebahkan Puspa di ranjang.
"Kasurnya basahhh!" Puspa mau beranjak dari tempat tidur namun Arga langsung menindihnya.
"Celanamu juga basah aduh!"
"Jadi kau ingin aku tidak mengenakan celana?"
"Ya bukan seperti itu. Ganti dulu."
"Aku tidak mau."
Perlahan sinar bulan mulai menghilang dan berganti dengan awan gelap, tidak lama terdengar suara rintik-rintik air hujan.
Puspa terdiam...
"Aku mau malam ini, aku menunggu jawabanmu,"
"Eh?" Puspa gugup
"Tidak boleh menolak, Puspa. Nanti dosa! Tapi aku juga gugup,"
Cukup lama mereka terdiam, hujan di luar pun semakin deras. Arga berdiri lalu menghidupkan senter Hp dan menghadapkannya ke langit-langit kamar, ya lumayan lah ada penerangan sedikit.
"Aku akan menunggu sampai kau siap," ucap Arga, ia lalu pergi ke kamar mandi dan mandi.
Puspa merasa bersalah, ia hanya diam dan tetap di posisi terlentang di ranjang sampai Arga selesai mandi. Arga keluar dari kamar mandi dan mengambil pakaian tidurnya dan mengambilkan untuk Puspa juga.
"Pakailah, nanti masuk angin." Arga meletakkan baju tidur Puspa di samping kaki Puspa.
Baru saja Arga akan mengancing pakaian tidurnya namun tangan Puspa sudah melingkar di pinggangnya. Arga mengelusnya lembut.
"Ada apa?" tanya Arga.
"A-Anu, a-aku mau malam ini. Maksudnya si-siap malam ini untuk.. Ee-ee untuk itu..."
Arga menelan ludah setelah menyadari Puspa masih belum mengenakan pakaiannya.
"E-Eee aku, aku si-siap untuk di... di..."
"Astaga! Kenapa aku jadi lupa teks"
__ADS_1