
Rina berkacak pinggang di samping ranjang
"Bisa-bisanya kau tidak melawan orang itu sampai mukamu babak belur"
"Kau juga, bisa-bisanya hanya tetap diam di kamar"
"Ya itu karena aku menjaga anak kita supaya tidak terbangun akibat keributan tadi"
Bapak Puspa diam, ia menarik selimut
"Pertunangan-pertunangan, emang kamu punya biayanya? Memalukan!"
"Kebutuhan sehari-hari saja aku harus irit, belum kebutuhan anak, dan sekarang malah mau tunangan-tunangan. Bilang saja padanya agar dia yang mengurus segala keperluannya"
"Rin, sudahlah"
"Anak sama Bapak sama-sama tidak berguna" Rina pergi keluar kamar
Perbedaan yang sangat jelas antara Ibu Puspa dengan Istrinya yang sekarang.
****
Disisi lain di rumah Arga
"Darimana?" judes
"Dari sana. Ada yang ingin Papa bicarakan dengan Mama" Papa Arga duduk di kursi, Arga juga ikut duduk
"Sana mana? Kalian tumben sekali keluar bersama"
"Mama, tenang dulu" ucap Arga dengan datar
"Kami bertemu keluarga Puspa, lebih tepat Ayahnya"
Mama Arga memicingkan mata
"Kalian benar-benar tidak menghargaiku" dengan sinis
"Toh Mama akan senang mendengar beritanya, jadi buang dulu fikiran negatifmu itu"
"Papa jangan mancing-mancing emosi Mama, deh. Kenapa kalian tidak bisa menurutiku untuk kali ini saja"
"Ma-"
"Dengar, ya! Mama tidak mau kalau sampai perempuan itu menjadi menantu Mama!. Okelah abaikan perjodohan Arga dengan anak sahabat kita, tapi Mama tidak sudi kalau Arga memilih perempuan itu"
"Arganya mau, tuh"
"Papa! Jangan bercanda"
Arga diam saja melihat kedua orang tuanya
"Ini akan sesuai dengan keinginan Mama"
"Sesuai bagaiamananya? Jelas-jelas kalian... aaaarrgghhh ribet!"
"Kami sudah bertemu dengan Ayahnya Puspa itu, yaaa sempat ada masalah sedikit tapi akhirnya keputusannya ia merestui Arga dengan Puspa"
"Cih. Palingan juga mereka orang miskin, Mama tidak setuju"
Arga menghela nafas
"Nama Ayahnya itu Dion, Ma" ucap Arga
__ADS_1
"Jangan asal bicara. Mentang-mentang Papa dan Arga menyukai perempuan itu, lalu kalian akan membohongi Mama, begitu?"
"Eh?!" Mama Arga baru sadar sesuatu. Ia menatap Arga dengan bingung, ia merasa tidak pernah menyebut nama Dion dihadapan Arga. Mungkin pernah, sih. Tapi kalau hanya sekali apa bisa Arga mengingatnya
"Pasti Papa yang mengajarimu"
Arga memasang wajah malas
Suasana menjadi hening...
"Pa, maksudnya apa ini?" Mama Arga sedikit terkejut bercampur panik
"Ya sesuai dengan apa yang Arga katakan. Itu Puspa, Puspa yang ingin kamu jodohkan dengan Arga"
"Haaaaaaa!"
"Mana mungkin, ya kan? Papa bilang kalau keberadaannya sampai sekarang belum di temukan, kan? Kalian jangan menghalu" tubuhnya sedikit bergetar
"Panjang ceritanya, dan intinya Puspa adalah anak dari sahabat kita, sekarang tidak ada alasan lagi untuk menolak Puspa"
Mama Arga tidak bisa berkata-kata, ia terdiam dan merasakan sekujur tubuhnya lemas dan panas dingin
"P-Pa?"
"Papa tidak bercanda. Kami memutuskan akan melaksanakan pertunangan, Ma. Secepat mungkin" ucap Arga, lalu ia berdiri dan melangkah pergi dari ruang keluarga meninggalkan kedua orang tuanya
"Dan Arga harap Mama tidak lagi membencinya" imbuhnya
"Haaa??"
Papa Arga mengelus kepala Istrinya dan mengecup keningnya
"Meminta maaf itu tidak ada salahnya. Apa yang Mama inginkan selama ini juga akan segera terkabul" ucap Papa Arga lembut
"Sebaiknya kita istirahat sekarang. Besok kita akan berdiskusi lagi terkait kelanjutan hubungan mereka"
Papa Arga meraih tangan Mama Arga, dirasakannya telapak tangannya dingin dan sedikit basah
"Ada aku disampingmu"
Mama Arga menoleh, matanya mulai berair
"Paaa" lemas
Papa Arga tersenyum, karena istrinya itu tidak kunjung berdiri, ia pun mengangkat Istrinya
"Hmm, tambah berat ya" goda Papa Arga
Mama arga memukul pelan bahu suaminya. Ia tidak tau harus bagaimana sekarang.
🍀🍀🍀
05:12
Matahari belum terbit sepenuhnya, udara segar dan sejuk menemani Bapak Puspa yang mengunjungi Makam Ibu Puspa dan Joni. Sambil membawa beberapa macam bunga untuk ditaburkan nantinya
Selesai mendo'akan mendiang Istri dan juga Joni, Bapak Puspa menaburi bunga di atas makam mereka berdua
"Bu, Puteri kita akan bertunangan. Perjodohan konyol yang antara dirimu dan Istri Arya benar-benar akan terwujud. Maaf aku jarang kesini, dan kuharap kamu bisa memaafkan semua kesalahanku"
"Bapak minta maaf juga pada Joni, Semoga kamu bahagia disana, ya"
Semilir angin mengiringi langkahnya saat keluar dari area makam, Bapak Puspa bergegas pulang dan bekerja.
__ADS_1
***
06:00
"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi ... "
Puspa mengernyitkan dahi, dari semalam Elisa tidak dapat dihubungi
"Tumben" gumamnya
'Ting' Chat dari Arga
"Minggu depan pertunangan kita akan dilaksanakan. Nanti malam kami akan berkunjung"
"Eh? Bagaimana dengan Nyonya? Apa semudah itu mereka membujuknya?" gumam Puspa
Baru saja Puspa akan membalasnya namun Arga sudah menelfonnya
"Hmmm? Halo" Puspa sambil malu-malu
"Kau sudah baca pesanku?" tanya Arga di sebrang sana
Puspa dengan jelas merasakan Arga gugup
"Y-Ya tentu"
"Eheeemm!" dengan keras
"Kau akan membuat gendang telingaku jebol"
"Hm"
Mereka sama sama terdiam
"Anu, kenapa cepat sekali. Bagaimanya dengan Nyonya?"
"Mama hanya diam saja dari semalam, Papa bilang Mama setuju"
"Huuufftt Syukurlah... Aku lega mendengarnya"
"Apa Bapakku sudah dikabari?" tanya Puspa
"Sudah"
"Oooohhh baiklah"
"Hm"
Mereka terdiam lagi
"Anu"
"Anu" (Bersamaan)
"Ah kau duluan saja" Puspa merasakan wajahnya panas
"Aku sibuk, sampai jumpa"
"Eh? Baiklah, sampai jumpa"
Arga mengakhiri telfon paginya itu, Puspa meletakkan Hp miliknya dan menepuk-nepuk piipinya yang terasa panas
"Aaaaa malunyaaaaa" sambil menggeleng kepala dan menghentakan kakinya dengan cepat
__ADS_1
Arga juga merasakan malu bercampur bahagia, wajahnya sudah memerah, namun ia tetap memasang wajah dingin andalannya