Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Menginap


__ADS_3

Puspa tertegun...


Arga?


Puspa menarik dirinya dari pelukan Bapaknya. Ia gelisah.


"Ada apa? " Tanya Bapak Puspa


"Eemmm tidak ada apa-apa, Pak" Puspa berbohong lagi.


"Kamu kenapa berkeringat seperti ini?" Bapak Puspa memperhatikan telapak tangan Puspa


"Eee itu.. Em Pak, Bapak jam berapa pulang?"


Bapak Pupsa menautkan alisnya.


"Kamu ngusir Bapak?" Tanya balik Bapaknya


"Bukan begitu. Nanti istri Bapak khawatir dan berfikir yang aneh-aneh." Puspa memutar bola matanya, bosan.


"Tadi Bapak sudah pamit kok." Bapak Puspa tersenyum


"Pamit?"


Puspa membayangkan pasti Rina emosi karena Bapaknya mengunjungi dirinya. Terbesit ide untuk merebut Bapaknya kembali padanya.


"Ah bagus kalau begitu, Pak. Bapak menginap saja disini untuk malam ini" Puspa menyeka bekas air matanya dan tersenyum


Bapak Puspa terdiam.


"Bapak tidak izin untuk menginap. Bapak sih sebenarnya masih merindukanmu" Bapak Puspa menunduk.

__ADS_1


"Hmm.. Puspa tau. Rina lebih penting kan daripada aku? Baiklah Puspa ngerti kok. Bapak silahkan pulang" Puspa berdiri


Ia membalikkan badan dan spontan Bapak Puspa menarik pergelangan tangannya.


"Bapak akan tidur disini malam ini" Bapak Puspa berucap lirih dan dis selingi senyum.


Mata Puspa berbinar.


"Benarkah? Baik Puspa akan menyiapkan kamar untuk Bapak dulu ya" Puspa meraih tas nya dan melangkah menuju kamar


"Menyiapkan? Maksudnya?"


Puspa menghentikan langkahnya.


"Sejak kita meninggalkan rumah ini, Puspa bekerja dan Bapak ikut Rina, Kamar disini memang Puspa kosongkan terutama kamar Bapak dan Ibu. Untuk apa kamar itu di rapihkan sedangkan pemiliknya sudah pindah haluan." Puspa menjawab dengan pelan dan tanpa menoleh. Ia melanjutkan langkahnya.


Bapak Puspa diam terpaku.


"Maafin Bapak, Bu" Lirih.


Ia mengedarkan pandangan dan mendapati foto pernikahannya dengan mendiang Istrinya yang ternyata masih di pajang di tembok.


Ia jadi teringat masa mudanya saat dia masih menjadi orang yang berada. Setidaknya ia pernah membahagiakan mendiang Istrinya dengan harta yang bergelimang.


Hingga akhirnya dia harus kehilangan semuanya dan pergi menjauh dari kantornya. Ia juga sempat pergi meninggalkan kota ini bersama mendiang Istrinya dan saat itu Puspa masih balita. Tetapi ia memutuskan kembali ke kota ini dan menetap di desa dimana di desa itu belum ada yang mengenalinya. Ia juga mengganti identitasnya.


Walaupun ia mengganti identitasnya, nama panggilannya masih ia selipkan. "Dion", Nama panggilan itu masih ia gunakan sampai sekarang.


Bapak Puspa tersenyum getir mengingat kejadian masa lalu itu.


"Jika saja hal itu tidak terjadi.. Kamu pasti hidup dengan kemewahan, Nak" Gumamnya.

__ADS_1


🍀🍀🍀


"Arga yang kamu lakukan tadi pagi itu adalah sebuah hal yang sangat memalukan!" Mama Arga mondar mandir sambil marah-marah.


Arga hanya diam saja duduk dan mendengarkan ocehan orang tuanya. Papa Arga memijit pelipisnya melihat tingkah putranya yang mencoreng muka Papa nya di hadapan Kasek dan siswa itu.


"Kamu ini pewaris tunggal dari semua aset yang Papa miliki. Kamu bikin malu saja" Ketus Papa Arga


"Hmmm" Balasan dari Arga membuat kedua orang tuanya melongo.


"Arga! Kamu jangan memancing emosi Papa!" Bentak Papa nya.


"Kalian terlalu berlebihan. Sejak pagi kalian terus mengoceh seperti burung. Dan Arga rasa suara ocehan burung lebih indah daripada kalian." Arga berdiri.


"Arga mau menjelaskan tapi kalian selalu memotong ucapan. Apakah kalian tau kejadian yang sebenarnya tadi pagi? Tidak, Kan?."


"Arga! Tapi kamu bikin malu apalagi bersama wanita itu!" Bentak Mama Arga.


"Apa yang salah dengan Puspa? Dia tidak bersalah tapi Mama selalu memandang dia rendah. Tidak puas kah Mama membuat dia pergi dari rumah ini? hingga dia pergi pun Mama masih membencinya." Arga menatap sinis.


"Arga kau-"


"Papa sekali-kali dengarkan perkataanku. Aku juga punya hak untuk mengangkat suara. Selama ini Aku juga sudah menuruti keinginan kalian"


"Tapi tidak pernikahan" Imbuh Mamanya. Arga mendengus sebal


"Pernikahan lagi yang di ungkit. Arga muak!" Arga meninggalkan kedua orang tuanya yang emosi itu.


"Arga tunggu!" Arga menghentikan langkahnya. Papa nya menghela nafas.


"Jelaskan kejadian tadi"

__ADS_1


Arga tersenyum tipis. Akhirnya dia punya kesempatan berbicara.


__ADS_2