
Bapak Puspa diam membeku saat para tamu memperhatikan mereka bertiga.
"Eh siapa gadis itu"
"Iya . Mungkin putri dari suaminya Rina"
"Mungkin. Tapi tidak beretika"
"Entah siapa yang salah"
"Tidak tau malu bertengkar di acaranya seperti ini" Bisik-bisik mulai terdengar.
Bapak Puspa mengusap wajahnya kasar.
"Puspa.. Bukan maksud Bapak untuk-"
"Hikss... Aku... Benci kalian berdua." Puspa menyeka air mata dan ingusnya.
"Heh Gadis kecil. Bisakah kamu tidak mengacaukan acaraku? untuk apa hadir jika hanya untuk membuat keributan"
"Aku tidak bicara denganmu Ja*lang!!. Tutup mulut kotormu itu!"
Arga yang di ambang pintu terkejut melihat Puspa yang begitu galak. Sangat berbeda dengan Puspa yang biasanya.
Arga berdiri menyender ke pintu. Ia akan hadir di tengah-tengah tamu saat waktunya tiba.
"Oh.. Itu Bapaknya Puspa. Kurasa ada sesuatu di antara mereka bertiga" Arga memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
"Beraninya Kau"
'PLAAAK'
Semua tamu terkejut saat sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi kiri Puspa.
Arga juga mulai terpancing emosinya. Namun ia tetap berusaha tenang.
"RINAA!!! DIA ITU PUTRIKU!!"
"DAN KAMU ADALAH SUAMIKU, MAS!"
Suasana hening...
"Haha.. Hanya itu? " Puspa tertawa garing dan meremehkan Rina.
Puspa menuju meja prasmanan dan mengambil tisu. Ia mengelap wajahnya tepat di hadapan Rina dan Bapaknya.
"Kurasa... Pipiku sangat kasihan telah di sentuh tangan Kotor"
"KAAUU-" Rina hendak melayangkan tamparan lagi namun cepat di tangkis Bapaknya.
__ADS_1
"Rina kendalikan dirimu"
"Lepaskan aku Mas. Anakmu ini harus di beri pelajaran!" Rina berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Bapak Puspa.
"Ho ho... Pelajaran? Aku tidak butuh pelajaran dari seorang ja*lang sepertimu Lampir Rina. " Puspa menekankan suaranya saat mengucapkan nama Rina.
"Kaauu... Tidak tau Malu Puspa! Kau ini hanya simpanan pria hidung belang kan. Datang ke acaraku hanya untuk membuat kekacauan!"
Puspa menatap tajam Rina. Begitupun Arga yang mulai emosi, ia mengepalkan tangannya dan rahangnya mulai mengeras.
"Wanita sialan, murahan! Sama seperti Ibumu yang sudah jadi bangkai!" Teriak Rina tepat di depan wajah Puspa.
'PLAAAKKK' Puspa menampar Rina dengan keras sampai Rina agak terpental.
"Puspa.. "
"DIAM PAK!!. BODOHNYA DIRIMU SAAT IBUKU DI HINA DAN KAU MASIH MAU MENGHENTIKANKU! SUAMI MACAM APA!!"
Hati Bapak Puspa berdesir.
"Seorang wanita murahan... Seorang janda kegatelan... Seorang wanita yang tidak punya urat malu sedikitpun! dan seorang wanita yang tidak bisa menghargai orang lain.. KAU BELA! AKU... AKU PUTRIMU.. PUTRI KANDUNGMU... PUTRI YANG SELALU MENDOAKANMU.. YANG SELALU MENGKHAWATIRKANMU.. Kau biarkan aku terhina!! Kau biarkan Ibuku terhina.. Bagaimana bisa aku tidak membencimu. KATAKAN!!!. YANG DURHAKA ITU AKU APA DIRIMU PAK.!!"
"Hiks.. Nak.."
"Apa Nak Nak!. Ketika kau tua nanti... Aku yang bersedia merawatmu.. Tanpa upah. Aku siap merawatmu sampai kau tiada, Pak!!. Kucoba tanamkan kasih sayang padamu setelah Bapak menghancurkan perasaan kami Tapi apa yang ku dapat? Sebuah hinaan!"
Bapak Puspa tidak bisa menahan tangisnya.. Ada sebagian para tamu undangan juga berlinang air mata.
"DRAMA APA!! KAU YANG BERDRAMA JA*LANG"
"Heii kau.. Kenapa sejak tadi kau mengatakan ja*lang terus" Tanya seorang tamu.
"Jangan kalian dengarkan ocehannya.. Dia sendiri yang ja*lang." Rina mengelak. Puspa yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi,
"KAU.. TELAH MEMPERMALUKANKU..." ucapan Puspa lambat namun penuh penekanan di sertai amarah.. Itu terdengar menakutkan. Ia melotot dan matanya sudah merah
"Kau juga menghancurkan keluargaku..."
"UNTUK APA KAU KENAKAN KEBAYA INI!!"
'Kreekkkkk'
Puspa merobek Kebaya Rina di bagian sepanjang bahu hingga belahan dada Rina terlihat.
"Aaarrgggggghhhh!!."
"KAU TIDAK PERLU MENUTUPI TUBUH KOTORMU ITU !" Puspa mengambil segelas jus dan menyiramnya tepat di muka Rina.
Bapak Puspa langsung tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Puspa berlari ke belakang tubuh Rina dan menekan tubuh Rina dari belakang hingga Rina berjongkok, Puspa pun masih menekan bahunya.
Para tamu makin terkejut Puspa mampu melakukan itu. Apalagi Arga sampai melongo.
"Kalian ingin tau kenapa aku terus mengatakan ja*lang?!"
"Ya ampunnn bisa seperti itu"
"Galak sekali"
"Waw keren." Bisik-bisik lagi
"Kalian lihat pria yang tergeletak pingsan ini? Dia Bapakku. Suami Si Rina ini. Kalian tau? Setelah kematian adikku, Rina telah bermain api bersama Bapakku. Mereka main Gila!! Hingga Rina hamil dan Ibuku... Ibuku meninggaaalll.. Hikkkss" Puspa menarik rambut Rina, Puspa mendekat pada telinga Rina.
"Ternyata di balik cengengmu, tersimpan kekuatan super galak ya. Hahaha" Gumam Arga.
"Jangan karena selama ini aku diam, aku tidak bisa melakukan apapun. Kau menghina Ibuku? dan juga aku? Lihat pembalasanku. Aku akan membuatmu kehilangan muka di depan semua orang" Puspa makin mengencangkan cengkraman pada rambut Rina.
"Aku bisa saja menghabisi janin di dalam perutmu, tapi aku tidak mau membunuh adikku." Puspa langsung menjambak rambut Rina.. Hingga Rina tidak berdaya.
Semua orang melongo terutama teman-teman Rina. Ayah Rina yang baru masuk setelah rapat dadakan terkejut melihat Rina, Putrinya menangis tersedu-sedu dan kondisi acak-acakan.
"Halo. Bawa teman-temanmu.. Ada pekerjaan untuk kalian malam ini. Hm lokasi akan aku kirim. Cepat" Arga mengirim alamat Rina pada seseorang di seberang telfon sana.
"Ada apa Ini!!" Ayah Rina langsung menutupi tubuh Rina menggunakan Jasnya.
"Ayah... Hikss.."
"Tenang.. Ada Ayah."
"Hoo.... Si Ayah sudah datang.."
"Kau.. Tidak punya sopan santun! Beraninya kau"
"Dan anakmu itu lebih tidak punya sopan santun dan dia lebih cocok untuk ku bunuh!"
"Jaga Bicaramu!!" Ayah Rina hendak memukul Puspa.
"HENTIKAN!!"
Semua orang menoleh ke asal suara. Arga berjalan perlahan dan terlihat cool.
"Siapa lagi dia."
"Waahhhh tampan sekali"
"Benar.. Tampan"
'Tak tak tak' Suara hentakan sepatunya yang beradu dengan lantai.
__ADS_1
"Siapa kau?" Tanya Ayah Rina.
"Berani menyentuh wanitaku, akan ku hancurkan ekonomi mu. Putrimu sudah menyentuh wanitaku, Akan kubuat kau kehilangan pekerjaanmu" Arga tersenyum sinis.