
"Maafkan aku" Puspa menutup matanya ketakutan karena tangan Arga sudah berada dilehernya dan bersiap mencekiknya.
'Cup' Arga mengecup pipi Puspa
"Aku mengampunimu" Arga terkekeh melihat ekspresi Puspa yang tegang
"Kau..."
" Memang menyebalkan" Puspa memukul pelan Arga
🍀🍀🍀
Jam menunjukkan pukul 10:00
"Tuan, sebaiknya isi perutmu dulu. Nanti kena Maag"
"Jangan mengaturku" Arga memainkan Hp nya
"Astagaaaaa!"
'Kriieeet' Pintu terbuka. Refleks Puspa dan Arga menoleh dan mendapati Ilham yang membuka pintu
"Tidak mengetuk pintu, sopan? Huh" Arga menatap sinis Ilham.
Ilham menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Maaf ya, Puspa. Aku tadi gugup jadi sampai lancang buka pintu" ucap Ilham
Puspa hanya menatap datar Ilham
"Silahkan masuk" ucap Puspa dengan suara datar, Arga tersenyum tipis melihat reaksi Puspa
"Tuan, Hp ku mana, ya?" Puspa baru ingat
"Ck" Arga berdecak
"Kurasa ada dirumahmu" mendengar jawaban Arga, Puspa melongo
"Rumah tidak dikunci?" tanya Puspa lagi
Arga menggeleng kepalanya
"Aduuhhh habislah aku" Puspa memasang wajah sedih. Arga yang melihat itu langsung menangkup wajah Puspa
"Maafkan aku, jangan menangis. Akan ku suruh orang untuk mengeceknya" hibur Arga.
__ADS_1
Ilham yang menyaksikan itu menutup pintu agak kasar. Arga menunjukkan tatapan mematikan untuk Ilham
"Keluarlah jika hanya ingin membuat masalah" ucap Arga dengan datar
"Aku kesini untuk menjenguk Puspa, apa hak mu melarangku?" Ilham tersenyum remeh. Ia berjalan mendekati Puspa.
"Lihat ini! Aku membawakan buah-buahan untukmu" Ilham tersenyum pada Puspa
"Iya, terimakasih" Puspa tetap memasang wajah datar
"Aku membungkusnya dengan penuh hati, aku berharap kamu mau memaafkanku" ucap Ilham lagi penuh dengan kehangatan
"Memaafkanmu bisa saja, tapi melupakan apa yang kau lakukan itu sulit" Puspa tersenyum getir. Hatinya sakit mengingat apa yang Ilham katakan di Chat pada saat itu
"Lidah memang tidak bertulang, bukan berarti kau tidak perlu mengontrolnya. Walau hanya sebuah ketikan, dalam keadaan emosi apa yang ketik bisa saja berdasar dari perasaanmu dan diikuti dengan gumaman mulutmu" Puspa menitikkan air mata.
Ilham menjulurkan tangannya untuk menghapus air mata Puspa, tetapi Arga langsung menepisnya
"Jangan sentuh milikku!" rahang Arga mengeras
"Puspa, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa mengontrol diriku. Aku mohon maafkan aku" Ilham sedih
"Iya, aku memaafkanmu" Arga terkejut, Ilham tersenyum lega
"Puspa" lirih Arga
Ilham membatu dan Arga bisa tersenyum kembali
****
Bapak Puspa berdiri dihalaman rumahnya yang lama. Ia melihat beberapa orang yang baru saja mengunci rumahnya itu.
"Kalian siapa?" tanya Bapak Puspa saat 2 orang bodyguard melewatinya
"Kami mendapat perintah dari Tuan Muda"
Bapak Arga kebingungan, sepertinya ia tidak asing dengan panggilan itu. Tapi ia mengabaikannya karena banyak orang kaya yang dipanggil seperti itu
"Oh, apakah rumah ini disita?" tanya lagi Bapak Puspa
"Tidak. Kami permisi"
Bapak Puspa mengangguk. Setelah bodyguard itu menghilang, Bapak Puspa berjalan mendekati rumah lamanya.
Ia terkejut saat di terasnya terdapat bekas tetesan darah. Matanya mengikuti bekas darah yang berhenti di tengah halaman rumahnya.
__ADS_1
Ia semakin terkejut karena darah itu juga mengarah ke dalam rumahnya dan di pintu bagian bawah juga terdapat bekas cipratan darah
"Puspa" lirih Bapak Puspa.
'Tok tok tok'
"Puspaa!!"
"Assalamua'alaikum Puspa! Ini Bapak!"
"Puspa?! Kamu di dalam?!"
Tidak ada sahutan.
"Puspaaaa!! Jangan membuat Bapak khawatir! Kamu di dalam?" Bapak Puspa semakin mengencangkan ketukan pintu
Bapak Puspa mulai panik. Ia menggedor-gedor pintu
"Puspaaa!!! Buka pintunya!!"
Tetap tidak ada sahutan
"Lah? Pak Amin? Nyari Puspa?" ada seorang tetangganya yang tiba-tiba muncul
Jadi warga setempat mengenal Bapak Puspa sebagai Pak Amin, ia mengganti identitasnya. Jadi tidak ada yang tahu nama aslinya
"Iya, Pak Darto"
"Saya tidak melihat Puspa selama kurang lebih 2 harian ini lah gitu, Pak"
Bapak Puspa semakin khawatir
"Hah? 2 hari? Kira-kira kemana ya?"
"Kurang tau sih, Pak. Cuma sehari sebelum itu dia ada tamu laki-laki sih"
"Laki-laki? Tua atau muda?"
"Muda masih, Pak Amin. Tampan juga dan kelihatannya kaya"
"Ah yasudah, Pak. Saya duluan ya" tetangganya itu langsung meninggalkan Bapak Puspa.
Bapak Puspa mengangguk, perasaannya menjadi campur aduk. Ia tidak bisa membohongi fikirannya yang berfikir Puspa diculik atau sengaja pergi dengan laki-laki yang tidak ada status dengan dirinya
Tapi melihat bekas darah itu, ia jadi befikir Puspa kenapa-napa
__ADS_1
"Puspa, dimana kamu, Nak" Bapak Puspa mengusap wajahnya.