
🍀🍀🍀
"Dia tidak kenapa-napa, hanya ku beri sedikit hadiah"
"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi?" Puspa berusaha bangun dari posisi berbaringnya
"Tidak ada apa-apa" Arga membantu Puspa duduk dan bersandar di bantal
"Tanganmu terluka" Puspa memandangi lengan Arga yang terkena goresan pisau Ilham tadi
"Hanya luka kecil" Arga ikut memandangi lukanya. Arga terkejut saat Puspa meraih lengan Arga
Puspa menarik lengan Arga supaya ia dapat melihat lengan Arga lebih dekat
Arga tidak bisa berkata-kata. Ia kikuk, wajahnya sedikit memerah
"Hmmmm, lukanya lumayan parah. Ini agak dalam. Tuan, sebaiknya lukamu di obati dulu"
Arga hanya terdiam memandangi Puspa yang fokus memandangi tangan Arga
"Bagiku lebih sakit saat kau di sentuh pria lain" bathin Arga
"Ini tidak sakit sama sekali" Arga menarik lengannya dari Puspa
"Tapi lukanya lumayan dalam. Tuan, apa yang Ilham lakukan kepadamu?"
"Perkelahian kecil. Aku tidak lemah juga" Arga menyunggingkan bibirnya
"Dasar" Puspa memicingkan matanya
🍀🍀🍀
Ibu Ilham membantu Ilham berdiri, Ilham mengusap air mata Ibunya
"Ibu, jangan menangis. Maafkan Ilham"
"Harusnya kau tidak melakukan hal yang akan membahayakanmu. Jika keberuntungan tidak berpihak padamu hari ini, kau akan meninggalkan Ibu sendirian di dunia ini" Ibu Ilham menahan sesak di dadanya
"Maafkan Ilham, Bu" Ilham mengusap air mata Ibunya lagi. Ia menahan sakit di pahanya yang masih tertancap pisau.
Pak Satpam yang melihat Ibu Ilham membawa Ilham dengan kondisi seperti itu langsung membantu mereka masuk ke Rumah Sakit dan menangani Ilham
***
Arga mengenakan kemejanya dan keluar dari ruangan Puspa dan menuju toilet. Arga menepuk jidatnya saat ia sadar meninggalkan Hp-nya di mobil. Arga langsung bergegas menuju mobilnya di parkiran
__ADS_1
Arga berpapasan dengan Ilham yang terluka dan di bantu oleh Satpam dan Ibunya. Ilham mulai merasakan pandangannya pudar. Ibu Ilham tidak berani menatap Arga
Arga memandangi mereka dengan tatapan datar. Kemudian Arga melanjutkan langkahnya ke parkiran
Alasan Arga tidak membunuh Ilham adalah ia tidak mau berurusan dengan Polisi, apalagi sudah ada saksi mata. Walaupun ia memiliki banyak uang, Arga tidak mau membuangnya dengan sia-sia apalagi untuk menyuap oknum tertentu.
Arga sudah mulai bisa mengendalikan dirinya. Melihat Puspa yang bekerja, ia mulai mengerti susahnya mencari uang.
Setelah mengambil dompet dan Hp nya, Arga masuk kembali ke dalam Rumah Sakit. Saat sedang berjalan, ia tidak sengaja melihat Ibu Ilham yang sedang berada di ruang tunggu. Arga heran, Ibu Ilham bahkan tidak protes ataupun marah kepada Arga. Padahal saat Arga menancapkan pisau di paha Ilham, ia melakukannya di depan mata kepala Ibunya sendiri
Ibu Ilham justru tidak berani mengangkat kepalanya di depan Arga saat berpapasan tadi.
Ilham melanjutkan langkahnya menuju toilet dan ruang rawat Puspa
"Puspa" panggil Arga saat menutup pintu kembali
"Iya??"
Arga duduk di samping Puspa.
"Aku akan menanyakan hal ini lagi"
Puspa mulai serius mendengarkan Arga
"Kau mau kuliah?" tanya Arga
Puspa menurunkan pandangannya
"Kuliah ya? Aku tiba-tiba ingat Elisa. Saat ini pasti dia sudah mau wisuda. Dia pasti menjadi Siswa teladan"
"Aku tidak dapat kesempatan untuk menyainginya" Puspa tiba-tiba murung
"Aku menanyakan apakah kau mau kuliah, bukan menyuruhmu untuk bernostalgia" ucap Arga dengan nada datar
"Maaf" Puspa mengangkat kepalanya dan tersenyum
"Aku ingin kuliah, tapi"
"Baiklah kalau begitu, setelah ini kau bisa kejar paket. Dan kau bisa kuliah"
"Eh?" Puspa terkejut
"Aku yang akan menanggungnya. Lagipula setelah ini aku akan dapat pekerjaan tetap" Arga meraih Hp nya
"Tapi..."
__ADS_1
"Aku tidak akan menawarkannya lagi"
Hati Puspa berbunga-bunga, tapi disisi lain ia juga merasa ragu apakah ia mampu melakukan itu semua, dan tentunya ia akan memiliki hutang besar pada Arga
Puspa mengangguk mengiyakan tawaran Arga
"Tapi dengan 1 syarat" ucap Arga tiba-tiba
"Aihhhh, Tuan. Kau mengerjaiku" Puspa mendapat firasat tidak enak
"Syaratnya hanya 1, tidak susah, dan kau sudah mengalami hal tersebut jadi tidak akan asing bagimu"
"Eh? Apa persyaratannya?"
"Persyaratannya kau tidak boleh menolak apa yang akan ku perintahkan setelah ini"
Puspa langsung berfikir kemana-mana
"Apa dia akan menyuruhku untuk melayaninya? Atau menyuruhku menjadi badut?"
"Buang fikiran kotormu" Arga langsung menyentil dahi Puspa
"Aawwhh"
"Kau menyebalkan, Tuan"
"Hm, bagaimana? Apa kau menerima persyaratanku?"
"Katakan dulu apa yang akan kau perintahkan, Tuan"
"Rahasia" Arga tersenyum tipis.
Puspa nampak berfikir keras,
"Ku tunggu jawabannya 1 jam lagi, aku mau cari makanan dulu. Dan akan menemui Suster yang tidak becus itu"
"Heeeh kenapa 1 jam? Itu pilihan yang sulit tau"
"Oke, 30 menit" Arga langsung beranjak dari tempat duduknya, ia keluar dari ruangan Puspa
"Hah??? 30 menit? Kau gilaaaaa" pekik Puspa dari dalam ruangan
"!#*#!*!!//!*!" Puspa mengomel tidak jelas
Arga terkekeh mendengar Puspa yang sedang mengomel
__ADS_1