Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Aktivitas di Pagi Hari


__ADS_3

Keesokan paginya~


πŸƒKok tiba-tiba pagi? Puspa sama Arga bagaimana? Jawabannya, mereka tidurπŸƒ


Puspa bangun lebih dulu dari Arga, ia langsung menuju ke dapur untuk membantu Art menyiapkan makanan.


"Nona Muda tidak perlu repot-repot, ini tugas kami,"


"Tidak apa-apa, aku akan membantu."


"Tapi, Nyonya nanti marah kalau sampai melihat Nona kesini."


"Tidak akan, kok. Tenang saja."


Puspa mengambil teflon lalu meletakkannya di kompor.


"Hm,"


Puspa berbalik dan mendapati Arga dengan tatapan tidak suka. Semua Art yang bertugas di dapur langsung menghentikan semua aktifitas dan menundukkan kepala.


Dengan raut wajah polos tanpa dosa Puspa bertanya, "Ada apa?"


"Aku baru saja akan membuatkan sarapan untukmu, sudah hampir jam 6 pagi." lanjutnya.


Tanpa bicara sepatah kata Arga langsung menarik Puspa dan menuju kamarnya.


"Bi, tolong matikan kompor!"


***


"Ada apa?" tanya Puspa setelah mereka sampai di kamar.


Arga tidak menjawab, ia hanya berdiri di dekat jendela, Puspa menghampiri Arga dan berdiri di depannya.


"Ada apa? Apa aku membuat kesalahan lagi?"


"Ya,"


Puspa semakin bingung, pagi-pagi seperti ini ia sudah harus memikirkan apa kesalahannya kali ini.


"Baiklah, kalau begitu katakan apa kesalahanku?"


Arga tidak menjawabnya namun ia langsung menarik pinggang Puspa dan membuat tubuh mereka menempel.


"Aku menginginkannya," bisik Arga.

__ADS_1


Wajah Puspa langsung memerah.


"A-Aku sedang datang bulan,"


Arga menatap mata Puspa agak lama lalu perlahan mendekatkan wajahnya, Puspa memejamkan matanya, Arga menutup gorden. Bersamaan dengan gorden yang menghalangi cahaya matahari masuk Arga menempelkan bi*birnya di atas bi*bir Puspa.


Puspa membuka mata perlahan dan mata keduanya saling menatap. Puspa membuka mulutnya sedikit dan Arga berhasil menerobos masuk. Walaupun rasanya aneh, Puspa menahannya. Ci*uman yang halus dan pelan berlangsung 2 menit, Puspa dan Arga sudah mulai terbiasa dengan rasa anehnya dan mulai merasa 'Enak'. Arga melepas ciumannya dan menggendong Puspa ke ranjang.


"A-Aku sedang halangan," ucap Puspa dengan suara pelan dengan pandangan mata yang mulai sayu.


"Aku tau." Arga kembali menciumi Bi*bir Puspa.


Secara alami tangan Puspa juga beraksi menyentuh bagian-bagian yang harusnya jangan disentuh. Puspa menyentuh leher Arga dengan jari-jari mungilnya, ia juga tidak sengaja menyentuh jakun Arga. Alhasil itu membuat Arga semakin tidak tahan.


Arga memejamkan mata dan menikmatinya, tangannya pun turut ikut berpartisipasi. Tangan Arga memainkan telinga Puspa dan itu membuat Puspa semakin tidak karuan, wajah keduanya sudah memerah dan panas. Arga melepas ciumannya sejenak untuk mengambil nafas kemudian ia kembali mengulum bi*bir manis Puspa. Tangannya yang semula di telinga sudah jalan-jalan sampai di gunung kembar.


"Aaaa!" pekik Puspa saat tangan kiri Arga bergerak di salah satu gunung kembar pribadinya.


"Kenapa?" tanya Arga dengan suara dan nafas yang sudah berat.


"Geli," dengan malu-malu


Arga menuntuh Puspa duduk, Arga beralih menciumi leher Puspa dengan tangan yang meraba tali wadah gunung kembar Puspa lalu melepas pengaitnya. Puspa terus menggiti bib*ir bawahnya, bulu kuduknya sampai berdiri semua.


Puspa tidak mampu menjawabnya.


"Biar aku saja," Arga mengulum kembali bi*bir Puspa dan merebahkan tubuh Puspa.


Tangan Arga masuk ke dalam baju Puspa dengan perlahan lalu meraba gunung kembar Puspa, ia lalu menyusup ke dalam kantong wadah gunung kembar Puspa dan meletakkan tangan di atas puncaknya. Dengan ukuran yang tidak terlalu besar sekali, tangan Arga mampu meraihnya.


Mata Puspa berat untuk dibuka, ia harus menahan suara yang berontak ingin keluar. Arga sengaja meremas puncak mini dari gunung kembar Puspa dan membuat Puspa spontan mengigit bib*ir Arga.


'Tok tok tok'


"Arga, Puspa. Kalian belum bangun?"


Seketika Arga langsung menyudahi aksinya bersama Puspa. Puspa yang malu bercampur panik langsung beranjak dari ranjang, baru saja kakinya menyentuh lantai, Arga langsung menahan tubuh Puspa.


"Su-Sudah, Ma. Ini mau cuci muka dulu." sahut Puspa.


Arga mengaitkan kembali wadah gunung kembar Puspa dan menyentil pelan dahinya.


"Maaf, aku panik jadi aku lupa kalau itu belum dipasang. Terimakasih,"


"Oke, segera turun ke bawah. Kalian harus sarapan."

__ADS_1


"Ya."


"Iya, Ma."


Puspa melirik ke arah jam dan ternyata sudah pukul 06:30. Ia langsung mencium pipi Arga dan keluar dari kamar. Arga tersenyum.


***


"Puspa, kamu buru-buru kenapa? Rambutmu berantakan." tanya Mama Arga saat Puspa datang ke ruang makan dengan kondisi rambutnya berantakan.


"Ah iya, Ma. Sisirnya lupa Puspa taruh mana. Tadi buru-buru untuk ikut sarapan."


Mama Arga menggeleng, ia lalu berjalan ke belakang Puspa dan menyisir rambut Puspa menggunakan jari lalu menggelung rambutnya.


"Belilah sisir lagi, jangan hanya satu."


"Iya, Ma. Nanti Puspa beli yang baru." Puspa senang karena sikap Mama Arga berbeda dengan semasa ia masih menjadi Art di rumah ini.


Setelah selesai Mama Arga duduk kembali di kursinya, kini mereka hanya menunggu kedatangan Arga saja untuk sarapan.


"Pagi," sapa Arga saat baru masuk ke ruang makan.


Papa dan Mama Arga senyum-senyum tipis melihat raut wajah Arga yang terlihat gembira.


"Pagi juga, Nak."


Arga duduk di kursi sebelah Puspa. Setelah Papa dan Mamanya mengambil nasi beserta lauk pauknya, giliran Arga yang mau mengambil nasi namun langsung di cegah Puspa.


"Biar aku saja," ucapnya sambil tersenyum. Puspa mengambilkan nasi untuk Arga.


"Cukup?"


"Cukup."


Dunia berasa milik berdua, yang lainnya ngontrak.


πŸ€πŸ€πŸ€


Disisi lain Rina cemas karena bayinya tidak lagi menangis dari semalam sehabis jatuh.


πŸ€πŸ€πŸ€


Bapak Puspa baru bangun, ia langsung meregangkan otot-ototnya dan menuju kamar mandi. Setelah cuci muka ia mulai menanak nasi dan memasak telur dadar sederhana. Saat memecahkan telur, tiba-tiba hatinya berdesir sesaat.


"Ada apa, ya?" gumamnya. Ia pun melanjutkan aksi memasaknya

__ADS_1


__ADS_2