
🍀🍀🍀
00:00
'Kriiieeetttt' Arga masuk ke dalam rumah dengan kondisi sempoyongan dan pakaian yang acak-acakan serta ia tertawa sendiri.
Papa nya belum tidur karena habis mendapat telfon dari sekretarisnya..
Papa Arga yang sedang menyeruput teh terkejut saat putranya melintas dengan kondisi seperti itu. Ia meletakkan gelas dengan keras dan mengahampiri Arga
"Arga apa yang kau lakukan? Kau mabuk?" Arga menjatuhkan dirinya namun langsung di tangkap oleh Papa nya.
"Haha.. Kenapa? Hahah ahahah" Tercium bau alkohol yang sangat menyengat dari mulut Arga
Papa nya langsung menuntun Arga masuk ke kamarnya walau susah payah karena langkah Arga yang sangat lambat dan sempoyongan.
Papa Arga menidurkan Arga. Ia memijat pelipisnya yang pening disertai amarah yang rasanya sudah di ubun-ubun
"Mabuk! Merusak nama baik keluarga!" Papa Arga keluar kamar dan menutup pintunya dengan kencang
Mama Arga yang mendengar suara pintu yang di banting ikut keluar dari kamarnya.
"Apa sih Pa ribut deh. Sudah tau malam" Sewot Mama Arga
"Anakmu tuh mabuk. " Mama Arga terkejut. Ia langsung berlari menuju kamar Arga.
Saat membuka pintu, secara bersamaan Arga juga ingin membuka pintu. Ia melihat Mamanya, tapi..
"Puspa kau kembali.... Ehehe" Arga hendak memeluknya
"ARGA! INI MAMA!" Mama Arga terkejut saat dirinya di kira Puspa
"Oh.. Haha" Arga langsung menutup pintunya lagi.
"Arga buka pintunya! Buka Arga!" Mama Arga menggedor-gedor pintu kamar Arga
"Ish Ma, Arga sedang mabuk. Biarkan dia istirahat." Papa Arga juga ikutan geram pada istrinya itu
__ADS_1
Papa Arga mengelus hidungnya yang gatal, tapi...
"Eh. Wangi parfum perempuan? Tidak tidak. Mungkin hanya kebetulan" Papa Arga mencoba berfikir positif.
"Tidak mungkin Putraku begitu, sedangkan disuruh menikah saja tidak mau" Papa Arga menggelengkan kepala menghilangkan dugaan negatif.
"Argaaa!!" Teriak Mama nya
"Berisikkkkk.. Hahah" Sahut Arga dari dalam kamarnya.
"Puspa.. Hahhhh aku .. Hahah.. Puspa.. " Arga roboh seketika di lantai.
"Terima kasih untuk malam ini.. Haha" Arga memejamkan matanya dan tersenyum-senyum sambil memegangi burung kecilnya.
🍀🍀🍀
"Puspa.. Selamat pagiiiiiiii" Sapa Elisa saat Puspa duduk di bangkunya
"Pagi jugaaaa.." Puspa membuat senyuman tapi bagi Elisa itu senyuman hambar
"Hey.. Ada masalah kah?"
"Bohong!" Elisa tidak yakin
"Terserah deh kalau tidak percaya" Puspa menahan tangannya yang gemetar
"Kalau ada apa-apa cerita ya." Elisa tersenyum dan Puspa mengangguk.
"Ngomong-ngomong... Sudah gajian belum nih?" Goda Elisa
"Kenapa? ingin di traktir ya?" Puspa terkekeh
"Ilihhhh.. Bukan.."
"Terus?"
"Temenin aku ya. Ke Mall"
__ADS_1
Ya, Elisa sering sungkan mengajak Puspa shoping karena Puspa sering menolak dengan alasan tidak ada uang lebih. Meskipun Elisa ingin mentraktir, Puspa menolak dengan alasan takut kebiasaan dan terkesan menjilat
"Wkkwkw Oke deh. "
"Eh? benarkah?" Puspa mengangguk.
"Baiklah nanti aku jemput kamu di tempat kerjamu ya. Sini alamatnya. Lumayan bisa bertemu dengan si tampan itu"
Seperti cemburu, tapi.. Entah Puspa tidak mengerti itu. Hanya saja ia tidak suka Elisa berkata seperti itu.
"Nanti cowok kamu marah loh"
"Sudah Putus tadi malam" Jawab Elisa santai
"Eh? Putus? Kenapa? Bukankah kalian terlihat baik-baik saja selama ini?" Puspa heran.
"Dia mengajak aku bertunangan, Aku tolak lah."
Puspa masih bingung.
"Aku tidak mau bertunangan di masa-masa SMA ini Puspa.. Kan tidak bebas nantinya."
Puspa hanya mengangguk.
"Semudah itu kamu melepasnya?" Puspa heran lagi
"Ya tentu. Toh aku masih muda, Pus. Palingan nanti aku dapat cowok setampan Tuan Mudamu itu. Hihihi" Puspa mengepalkan tangannya.
Ia membuka mulut mau mengucapkan sesuatu atas sakit hatinya saat mendengan Elisa terus - menerus menyinggung nama Arga.
Tapi ia sadar.. Memangnya ia siapanya Arga?
"Kenapa? kok kamu seperti marah, Pus?" Elisa menatap aneh tingkah sahabatnya itu.
"Tidak.. Nanti jam berapa kita berangkat?"
"Jam 4 saja deh. Kamu bisa kan minta izin pada majikanmu.?"
__ADS_1
"Tanpa izin merekaa aku bisa kemana saja, El. " Puspa tersenyum kecut.
"Waahhh hebatnyaaa.. Pasti kamu sangat di sayang kan oleh majikanmu?" Puspa hanya terkekeh