
Bapak Puspa berusaha mendobrak pintu kamar Puspa
"Biarkan aku sendiri"
"Tidak! Kau pasti akan melakukan sesuatu"
"Hahaha, lihat dirimu, Tuan. Saat ini kau bukan seperti Arga yang ku kenal. Kenapa heboh?"
Arga tidak menggubris, ia dengan sskuat tenaga memukul kaca jendela hingga pecah, Puspa terkejut dan hampir terkena pukulan Arga
Tangan Arga berdarah, disaat yang bersamaan Bapaknya berhasil mendobrak pintu kamar Puspa
"Kalian..." lirih
Arga lega melihat Puspa tidak kenapa-napa, ia mengulurkan tangan pada Puspa. Bapaknya mendekati Arga dengan emosi
"Jangan kurang ajar!" sambil mencengkram tangan Arga yang di ulurkan tadi
Arga balik menekan tangan Bapak Puspa dan menariknya hingga ia menempel di jendela,
"Jangan menghalangiku! Kau yang membuatnya terluka dan kini kau mau menambah lukanya, hah?!" Arga mendorong sedikit Bapak Puspa dan menariknya kembali hingga Bapaknya terbentur di jendela
Puspa menutup mulut menggunakan tangannya, ia merasa Arga sudah di puncak amarahnya
"Aarrhh" rintih Bapak Puspa saat pinggiran jaca yang pecah mengenai pipinya
"Aku tidak peduli kau siapanya Puspa, yang pasti kaulah sumber lukanya!"
Bapak Puspa kesakitan, sebenarnya ia bisa melawan namun perkataan Arga memanglah benar, jadi ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya untuk melawan
"Arga" lirih Puspa, kakinya rasanya ditahan oleh lantai.
"Kenapa kau suka memberinya luka!!!" Arga mendorong Bapaknya hingga tersungkur di lantai, Puspa dengan langkah berat mendekati Bapaknya
"Arga! Cukup!Jangan keterlaluan!"
Arga yang mendengar itu merasakan sakit dihatinya, ia mengepalkan tangannya dan memukul sekali lagi kaca jendelanya
"Maaf" satu kata dari Arga yang kemudian pergi dari kediaman Puspa
"Bapak... Hiksss" Bapak Puspa menyeka darah yang mengalir dari pipinya, Puspa membantu Bapaknya untuk duduk di ranjang, ia segera ke dapur untuk mengambil air
***
Di sepanjang jalan Arga merasakan sesak di dadanya, ia mengabaikan darah yang masih menetes dari tangannya. Rasanya.... Luka ditangannya tidak sesakit rasa sakit di hatinya
"Sial!" umpat Arga
Ia merutuki dirinya yang hilang kendali. Sesampainya di rumah Bi Ina terkejut melihat tangan Arga uang berlumuran darah, ia segera menutup pintu dan meminta Arga duduk di ruang makan.
Bi Ina tidak bertanya, ia langsung mengelap darahnya dan mengambil kotak P3k. Wajah Arga terlihat dingin dan datar, tapi matanya sedikit memerah
"Lukanya lebar-lebar begini, Tuan Muda. Saya telfon Dokter dulu" Bi Ina ikut cemas
Arga menggeleng
"Tapi-"
__ADS_1
Arga memicingkan matanya
"Baik-baik, Pakai p3k yang ini saja"
"Sakit?" tanya Bi Ina sambil membalut perban, Arga tidak menjawab.
Setelah selesai Arga langsung menuju ke kamarnya
"Apa yang terjadi?" lirih
Bi Ina membuang fikiran buruknya saat melihat pakaian Arga yang ada bercak darah
🍀🍀🍀
Keesokan paginya, di rumah Yuli
Yuli memasukkan semua pakainnya ke dalam koper, barang-barangnya juga ia masukkan ke dalam kardus.
Ia sudah tidak tahan, jika tetap disini ia akan terus bertemu dengan Andre. Andre pun semakin sering bercerita tentang Puspa di hadapan Yuli. Meski tidak menyebutkan namanya, Yuli tau siapa gadis yang Andre maksud.
Ia memutuskan pindah ke luar kota tanpa mengabari Andre
"Kepergianku juga tidak akan ia sadari, kan?" Yuli berkacak pinggang dan menyeka keringat di wajahnya
***
Yuli memoleskan lipstik di bibirnya, ia melihat pantulan dirinya di cermin dan tersenyum
"Mari buka lembaran hidup yang baru"
Ia hanya membawa setengah barangnya dulu, setengahnya akan diurus belakangan. Ia di bantu tetangganya yang paling akrab dengannya untuk memasukkan barang ke mobil
"Eeee tidak jauh kok, Pak. Masih di Indonesia aja" Yuli tersenyum
"Nanti kalau ada yang tanya saya, tolong jawab Bapak tidak tau ya"
Tetangganya mengangguk.
Yuli sudah DP rumah diluar kota, jadi ia tinggal menempatinya saja, tidak usah cari lagi. Rumahnya tidak sebesar rumahnya yang saat ini, namun Yuli tidak bermasalah akan hal itu. Suatu saat Yuli mungkin juga masih akan menengok rumahnya yang disini
Kurang lebih 1 jam semua beres, Yuli memberikan beberapa lembar uang 100.000an pada tetangga yang telah membantunya.
"Aku pergi, ku harap kita tidak akan bertemu lagi, Andre" Yuli masuk ke mobil
"Semoga bahagia" lirih
Yuli juga telah mengganti Hp beserta nomornya.
Disisi lain di RS Andre menelfon Yuli untuk mengajaknya makan malam nanti, namun ia dikejutkan akan pemberitahuan nomor Yuli adalah nomor yang salah
Andre membuka sosmed dan semua akun Yuli, ia memblokir dirinya. Andre merasa sedikit panik. Andre memutuskan akan ke rumah Yuli, ia takut terjadi apa-apa pada Yuli, saat sudah di pintu utama RS Andre dicegah karena ada pasien yang harus diperiksa lagi
Andre kebingungan, ia pun memutuskan untuk memeriksa pasiennya dulu. Setelah memeriksa pasiennya, Andre terhalangi lagi karena pasien lainnya tiba-tiba tidak sadarkan diri. Mau tidak mau ia harus ke pasiennya lagi.
1 jam kemudian Andre baru terbebas, ia langsung pergi dari Rumah Sakit, saat di pertengahan jalan ban mobilnya bocor, ia juga tidak menyimpan ban cadangan.
Hari sudah mulai sore, Andre merasa hari ini ia dihalangi untuk bertemu dengan Yuli. Andre memijat pelipisnya, ia menghentikan taxi yang lewat.
__ADS_1
"Yuli, semoga kau baik-baik saja"
"Pak, tolong lebih cepat" pinta Andre pada supir taxi
"Baik, Pak"
Lagi-lagi mereka terjebak macet, karena jam 5 ini kebanyakan orang-orang baru pulang kerja dan tentunya membuat macet
"Waduh, maaf Pak. Macet ini" ucap supir taxi
"Haduh, mana panjang lagi" Andre mengusap kasar wajahnya
Setelah melewati masa macet, akhirnya Andre sampai di rumah Yuli. Andre melihat gerbang rumahnya yang sudah di gembok
"Apa dia sedang keluar? Kenapa memblokir semua akunku?" Andre mondar mandir di depan gerbang rumah Yuli.
Tetangga Yuli yang menbantunya tadi hanya diam dan sesekali melihat Andre yang masih ada di depan rumah Yuli
30 menit~
45 menit~
1 jam~
"Pak, duduk di dalam mobil saja, Pak" tawar Supir taxi
Andre menolak
Malam pun tiba, yang di tunggu pun tidak kunjung datang
Tetangganya mulai merasa kasihan, ia berjalan menemui Andre
"Maaf, Mas cari siapa?"
"Yuli kemana ya Pak?" Andre balik bertanya
"Anu, sebaiknya kamu pulang saja. Yuli sudah tidak ada disini"
Mata Andre membulat, ia mencengkram bahu tetangga Yuli itu
"Tidak ada gimana maksudnya?"
"Ya yang Mas cari itu orangnya sudah tidak ada disini, Mas. Mau ditunggu 24 jam juga tidak ada"
"Dia pergi kemana?" Andre panik
"Waduh, saya tidak tau"
"Lah kok tidak tau?! Kan Bapak tau Yuli tidak ada disini, jadi dia kemana?!"
Tetangganya melepas tangan Andre
"Saya bilang tidak tau ya tidak tau" ia pergi meninggalkan Andre
Andre shock, ia berjongkok sambil meremas rambutnya
"Yuli" Nafasnya memburu, di dalam otaknya ia membayangkan telah terjadi apa-apa terhadap Yuli
__ADS_1
"Yuliiiiiii !!!!" teriak Andre sambil memukul tembok pagar
Supir taxi yang melihat ikut merasa iba pada Andre