Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Hari Pertama Seorang Pembantu


__ADS_3

🍀🍀Pagi harinya.


Puspa merenggangkan otot-ototnya.. Ia duduk sebentar mengumpulkan jiwanya yang masih setengah sadar. Ia meraih Hp nya dan melihat jam


"05:00"


"Apa akuu terlalu kesiangan ya?" Puspa beranjak dari ranjang dan langsung ke kamar mandi untuk cuci muka, sikat gigi.


Ia menggunakan pakaian sederhana dan juga longgar. Ya kali Babu pakai pakaian keluaran dari CHANEL ketika jam kerja


Ia langsung menuju dapur dan melihat Bi Ina dan 2 pembantu lainnya sibuk berurusan dengan panci, bumbu dan alat masak lainnya.


"Ee maaf aku kesiangan" Puspa mendekat ke arah Bi Ina


"Hmmm masih gadis kok tidurnya kebo" Ledek salah satu pembantu


"Jaga ucapan kalian" Ancam Bi Ina


"Iya maafkan Puspa ya bibi-bibi.. Puspa baru pertama kali kerja. Jadi masih belum faham apa yang harus Puspa kerjakan"


"Ya ampun lupa Bibi kasih tau tugas kamu Puspa" Bi Ina menepuk jidat


"Hari ini kepala pembantu akan kembali setelah 1 minggu cuti. Ingat jaga ucapan jika tidak ingin di tendang" Bi Ina serius yang di sahuti anggukan oleh 2 pembantu lainnya


"Ehh ada ketuanya juga ya disini?"Tanya Puspa polos

__ADS_1


"Iya ada, Puspa. Namanya Shurti. Usianya 50 th. Dia tertua di antara kami. Kamu harus sopan walau dia juga pembantu karena dia ketuanya. Jika kamu baik maka kamu akan di sukai" Nasehat Bi Ina.


Puspa mengangguk.


"Ini potong buncisnya lalu kamu masak ya. Bibi akan ambil ayam dulu di kulkas."


Puspa mengangguk dan memotong buncis dengan potongan serong.


"Orang kaya mau buncis ya? Ah Puspa mau kaya atau miskin, sayuran kan penuh manfaat mana ada orang kaya menolak manfaat dari sayuran. Wkwkwkw konyol." Puspa terkekeh sendiri


"Jangan ketawa terus, potong yang benar" Sindir salah satu pembantu lainnya


Puspa tersenyum kikuk


"Sabar Puspa sabar... Anggap nyamuk lewat. Kamu kerja untuk dirimu bukan untuk mendengar ocehan sesama babu. "


Tepat jam 6 pagi, sarapan sudah siap tersaji. Datanglah sang majikan dan duduk di kursi mereka yang super empuk melebihi permen kapas. Okeh lebay.. Kembali ke cerita.


"Pagi, Ma, Pa" Sapa Arga sambil merapikan rambutnya. Ia duduk di kursinya dan memandang Puspa sekilas


"Tampan sih tapi sombong" Bathin Puspa


"Pagi juga sayang"


Para pembantu berdiri di belakang majikannya sampai majikannya selesai makan

__ADS_1


"Beginikah rasanya babu? Oh ayolah jam 6 pagi.. Aku belum mandi.."


Arga mengambil sesendok buncis yang terlihat menggugah selera.


Perlahan tapi pasti Tumis buncis dan nasi hangat masuk ke dalam mulut Arga. Matanya terbelalak. Ia terdiam kaku. Mencoba merasakan rasa di mulutnya itu.


Matanya memerah dan sedikit air mata terlihat di kelopak matanya. Ia langsung berlai ke kamar mandi dapur dan melepeh makanan itu.


Hidungnya langsung meler dengan mata dan muka yang memerah. Puspa menautkan alisnya heran. Ortu Arga tampak cemas.


Mama arga mencicipi 1 potongan tumis buncis. Ia terkejut.


"Astagaaaa!!! Pedas sekali!. Kalian ini bekerja sudah berapa lama hah! Kalian tau bahwa Arga tidak kuat dengan makanan yang terlalu pedas! Apalagi sepedas ini!" Bentak Mama Arga


Puspa terkejut karena Puspa lah yang memasak buncis itu.


"Bukannya aku hanya pakai 2 cabai rawit dan 1 cabai merah. Untuk porsi segini harusnya pedasnya sangat minim karna aku juga memakai gula" Gumam Puspa.


"Kalian ini tidak becuss!"


'PAAAKK' Mama Arga memukul meja.


"Siapa yang memasak ini?" Tanya Papa Arga dingin


Puspa membuka mulut hendak menjawab

__ADS_1


"Saya Tuan, Nyonya" Bi Ina menyahut lebih dulu. Puspa dan 2 pembantu lainnya menatap heran ke arah Bi Ina


Apalagi Puspa, ia menganga atas tindakan Bi Ina. Bisa saja Bi Ina di pecat gara-gara ini.


__ADS_2