
Rina panik, ia bingung atas apa yang terjadi kepada dirinya.
"Oeeeeeekkk oeeek"
Tangisan Bayinya mengejutkannya, ia memberanikan diri untuk berdiri dan berjala ke arah pintu. Rina membuka perlahan kuncinya dan Bapak Puspa langsung membuka pintu
"Apa yang kau lakukan? Anak kita menangis dengan suara keras dan kau malah mengunci pintu"
Bapak Puspa langsung menggendong Bayinya dan menenangkannya, sementara Rina hanya diam sambil gemetaran
"Mas" panggil Rina dengan suara lirih
"Iya?"
"Mendiang Istri pertamamu menghantuiku" masih gemetar
"Jangan mengada-ngada, Rina"
"Dia benar-benar menghantuiku, Mas! Dia yang mengunci pintunya, dia juga menjatuhkan foto pernikahan kita!"
"Bicara apa kau ini? Jangan mengatakan hal buruk tentangnya"
"Mas, percayalah padaku. Aku tidak berbohong" mendekat ke suaminya
Bapak Puspa tidak percaya
"Dia menjatuhkan foto pernikahan kita, kacanya sampai pecah, kemudian dia menyudutkanku. Dia sangat menyeramkan, Mas"
"Sudah cukup! Jangan mengatakan hal yang tidak terjadi"
"Aku tidak bohong!"
"Tapi kau lihat sendiri fotonya masih ada di tempat semula, bukan? Sudahlah"
Bapak Puspa keluar kamar membawa Bayinya. Rina sangat kecewa mendapati Suaminya tidak percaya sedikitpun kepadanya
🍀🍀🍀
Keesokan paginya
Elisa baru sampai di rumahnya, ia langsung merebahkan dirinya di ranjang. Setelah menempuh perjalanan jauh membuatnya sangat merindukan yang namanya kasur
Ia meraih Hp nya dan mengaktifkannya. Matanya membulat saat melihat chat Puspa
"Bertunangan?" lemas
Elisa melihat kalender, ia hanya bisa diam saat dikalender menunjukkan tanggal 9 dan acaranya pun besok
"Dddrrtttt"
Ia dikejutkan oleh Hp nya yang berdering, Puspa menelfonnya
"Halo"
"Halo, El... Dari mana saja? Aku berusaha menghubungimu terus beberapa hari ini. Kenapa tidak aktif nomernya? Kau baik-baik saja kan? Apa ada masalah?"
__ADS_1
"Eeee itu... Aku... Ah anu disana susah jaringan"
"Eh? Bukannya pas itu juga kita pernah-"
"Ya kalau pas itu masih bisa, tapi akhir-akhir ini jaringan disana sangat susah. Jadi Hp ku nonaktifkan saja"
"Hmmm benarkah? Kau sedang tidak menutupi sesuatu dariku kan?"
"Ahahah ayolah, Pus. Aku tidak menutupi apapun darimu"
"Yakin? Aku khawatir terjadi apa-apa padamu"
"Terima kasih atas kekhawatirannya tapi aku baik-baik saja"
"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Bagaimana kabarmu?"
"Yaaaa seperti yang ku katakan tadi, aku baik-baik saja"
"Benarkah?
"Iya"
"Kapan kau pulang, El?"
"Eeeeee anu... Oh iya aku sudah baca chat darimu"
"Hehhe iyakah?"
"Iya... Selamat ya" agak lemas
"Apa kau sudah yakin akan hal ini? Bukankah dari dulu kau tidak menyukainya?"
"Aku yakin. Mengenai hal itu aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa sampai mencintainya. Ya walaupun kami sering bertengkar karena dia sangat menyebalkan. Kau tau? Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini, ku fikir aku sudah akan berakhir tapi nyatanya tidak"
"Oh begitu, baguslah. Aku tidak ingin kau tersakiti, Pus"
"Terima kasih perhatiannya, El. Kau memang sahabat terbaikku. Oh iya bagaimana liburanmu? Apakah sangat menyenangkan?"
"He'em, menyenangkan"
"Waaahh sayang sekali aku tidak ikut, ya"
"Maaf ya, lain kali kita pergi berdua"
"Benarkah? Yeay! Oh iya, kapan kau pulang? Aku ingin kau menghadiri pertunanganku"
"Eeemmm lihat saja nanti, ya"
"Hmmmm baiklah. Ngomong-ngomong kenapa suaramu lemas begitu? Kau benar-benar tidak dalam masalah kan?"
"Anu ... Ini aku belum sarapan, jadinya lemas"
"Sudah jam 9 dan kau belum sarapan? Nanti sakit"
"Hehhe. Ah baiklah sampai disini dulu, ya. Aku ada urusan penting. Dan terima kasih atas undangannya"
__ADS_1
"Oh kau sibuk, ya? Maaf maaf. Baiklah, sampai jumpa. Nanti kalau sudah datang beritahu aku ya"
"Iya, sampai jumpa"
Elisa mengakhirinya, ia merasakan sakit hati. Ternyata dirinya belum mampu menghilangkan perasaannya terhadap Arga.
Elisa memandangi oleh-oleh untuk Puspa, kegembiraan dan semangat yang ia rasakan beberapa hari lalu hilang sirna begitu saja. Ia tidak tau harus bagaimana.
Disisi lain dirumah Puspa
"Tidak usah, Pak" Puspa menolak uang dari Bapaknya
"Bapak tau ini tidak banyak, tapi-"
"Tidak usah, Pak. Semuanya sudah siap. Oh iya sebentar ya" Puspa pergi ke kamarnya untuk mengambil sesuatu
Puspa menyodorkannya kepada Bapaknya
"Apa ini?"
"Itu pakaian untuk Bapak di acara pertunangan Puspa besok. Arga yang membelikannya"
"Tapi..."
"Bapak benar-benar tidak mau hadir disana?" sedih
"Bapak tidak punya muka setelah banyak hal yang Bapak lakukan terhadapmu"
"Bapak adalah orang tua Puspa satu-satunya. Puspa mohon tolong hadir ya" memelas
"Bapak boleh mengajak Istri Bapak dengan syarat ia tidak membuat keributan disana"
Bapak Puspa nampak berfikir
"Bapak akan datang sendiri kesana"
Mata Puspa berbinar
"Benarkah? Alhamdulillah. Terima kasih, Pak" senyum lebar
Bapak Puspa mengangguk dan mengelus kepala Puspa
Disisi lain Ilham mengurung diri di kamarnya, Ibunya yang mengetahui sebabnya pun tidak bisa melakukan hal banyak untuk membujuknya
Ilham masih belum bisa melepas perasaan cintanya terhadap Puspa begitu saja, ditambah mendapat undangan secara langsung dari Puspa yang mana hal tersebut membuat Ilham semakin sakit
"*Apakah ini tanda aku harus melepaskan Puspa?" batin*nya
Ilham meringkuk dan menahan isak tangis, pertahanannya pun perlahan hancur. Walaupun ia seorang laki-laki yang biasanya tahan terhadap yang namanya 'air mata karena cinta' , kali ini ia sudah tidak bisa menahannya lagi.
Ia mengutuki dirinya karena tidak bisa bergerak mendahului saingannya yakni Arga.
"Seandainya saja aku lebih kaya darinya, Puspa pasti akan jadi milikku"
Terbesit ide untuk menculik Puspa, namun ia tau pada akhirnya ia akan terbaring di Rumah Sakit. Ingin rasanya menghentikan waktu, namun yang terjadi adalah waktu yang berjalan lebih cepat.
__ADS_1
Bahagia yang Puspa dan Arga rasakan menjadi sebab terlukanya hati 3 orang lainnya