
"Benarkah? Terima kasih Nyonya." Puspa sangat senang
"Tapi... Bolehkah saya sekolah Nyonya?" Tanya Puspa ragu
"Yang benar saja kamu ini.." Mama Arga melirik tidak suka
"Ada apa sih. Ribut" Arga baru datang. Ia mencium punggung tangan Mamanya
"Sayang, benar kamu menyuruh wanita ini bekerja disini?" Mama Arga menunjuk Puspa menggunakan isyarat mata
"Aku masih gadis" Inner Puspa
"Benar, Ma. Ada masalah?" Tanya balik Arga
"Yang benar saja kamu ini. Masih sekolah di suruh kerja. Bagaimana kalau kerjanya tidak maksimal" Omel Mamanya
"Hmm biarkan saja lah, Ma. Kalau tidak bisa maksimal bekerja sambil sekolah ya di pecat saja. Arga duluan. " Arga menuju kamarnya.. meninggalkan 3 perempuan itu
"Baiklah. Mulai besok kamu sudah bisa bekerja. Dan ya, pelayan disini harus tinggal disini. Kemasi barangmu dan bawa ke kamarmu. Pulang sekolah lakukan pekerjaanmu." Mama Arga meminum jus nya
"Terima kasih Nyonya.." Puspa bahagia mendapat pekerjaan.
***
17:00
"Asalamualaikum. Bapak pulang"
"Waalaikum salam." Puspa menyahut dari dapur.
__ADS_1
Saat memasuki rumah, Bapak Puspa heran kenapa ada 1 koper dan 2 tas di dekat pintu.
"Pak, makan dulu. Puspa sudah masak." Panggil Puspa.
"Waahhh Putri Bapak masak apa ini. Aromanya nikmat" Goda Bapak Puspa.
Puspa bolak balik menyiapkan piring dan lauknya
"Masak ini saja kok. Telur dadar, bakwan jagung dan juga sambal. Sebentar Pak, Puspa ambil minum."
Bapak Puspa bahagia melihat putrinya yang perhatian lagi dan melupakan keinginanya untuk bertanya koper siapa itu.
"Nah.. Ayo makan Pak. " Puspa mengambil posisi duduk.. Perutnya juga sudah keroncongan
"Ini baru matang semua ya.. Masih berasap"
"Iya Pak.. Ayo ambil nasinya."
"Waahhh enak sekaliii" Puji Bapak Puspa
"Resep dari Ibu dong" Hati Puspa berdesir.. Namun ia mencoba tetap tersenyum
"Ayo pak nambah lagi.."
18:00
Bapak Puspa selesai merapikan diri dan duduk di samping Puspa yang sedang menonton Tv
"Makasih ya sudah dimasakin" Ucap Bapak Puspa
__ADS_1
"Sama-sama Pak.. Anggap saja masakan perpisahan" Puspa tersenyum
'Deg'
"Perpisahan?" Bapak Puspa mengernyitkan dahinya
"Ya.. Puspa sudah dapat pekerjaan Pak. Puspa akan tinggal disana. Bapak tenang saja.. Puspa bisa jaga diri. Puspa tidak akan jadi ****** ataupun semacam itu" Puspa meletakkan remot Tv itu.
"Selanjutnya Bapak jaga diri baik-baik. Kalau sudah tiba resepsi bersama wanita itu, Kabari aku kalau Bapak ingat padaku. Aku tidak terlalu berharap bisa hadir di resepsi seorang jal*ng.. Tapi aku masih mengaggap dirimu sebagai Bapakku, Pak." Puspa bangkit dari duduknya.. Ia mengambil Hp yang di cas
"Sudaah waktunya Puspa berangkat."
"Kenapa kamu melakukan ini Puspa"
Puspa menghentikan langkahnya.
"Untuk membiayai sekolahku dan juga hidupku Pak. Dengar, memang benar tidak semua Ibu tiri itu jahat, tapi,, Ibu tiri yang jal*ng sepertinya tidak masuk ketegori Ibu tiri yang baik. Dan ya, Foto Ibu dan Joni aku bawa semua Pak. "
"Puspa.. Bapak benar-benar minta maaf . Jangan tinggalkan Bapak.." Sekeras apapun hati laki-laki terlebih seorang ayah, Jika menyangkut anaknya pasti leleh.
Bapak Puspa menitikkan air mata.
"Bukan aku.. Bapak yang membuat celah di antara kita. Puspa selamanya akan menerima Bapak dalam hidupku.. Tapi tidak istri barumu." Puspa melangkah menggendong tas nya
"Kamu yakin meninggalkan Bapak?"
"Aku mau bekerja menghidupi diriku , bukan mau mati. Bapak bisa meemuiku di sekolah ketika rindu."
"Tapi Nak.."
__ADS_1
"Puspa harus pergi Pak. Sisa telur dadarnya di habsikan ya. Asaalamualaikum" Puspa mencium punggung tangan Bapaknya yang gemetar.