
Arga tersenyum. Kemudian ia menceritakan yang sesungguhnya tentang insiden tadi pagi.
***
"Hmm perempuan licik. Itu hanya modus saja menolak uang 10 jt itu. Dan dia sengaja kan ingin melompat dari atap supaya kau menyelamatkannya dan akhirnya dia berhasil"
"Mama apa sih!." Arga emosi
"Sudah-sudah. Kalian ini ribut terus. Bikin pusing!. Intinya kau telah mencoreng nama baik Papa" Papa Arga meraih jas nya dan meninggalkan Arga dan Istrinya
"Kau lihat itu? Sekarang perempuan itu telah berhasil mengacaukan keluarga kita. Cih" Mama Arga ikut menyusul suaminya.
Arga mengusap wajahnya kasar.
🍀🍀🍀🍀
Puspa gugup saat ada di depan ruangan Kasek. Elisa menggenggam erat tangan Puspa.
"Kita bisa!" Elisa mencoba meyakinkan Puspa. Puspa mengangguk.
"Bagaimana jika aku di keluarkan?" Gumam Puspa.
"Singkirkan fikiran jelekmu itu."
***
"Pak, Tolong di fikirkan kembali. Ini bukan keputusan yang tepat." Elisa ngotot dan menahan amarahnya
Puspa menggigit bibir bawahnya, air matanya sudah tidak dapat di bendung.
"Elisa! Jaga sikapmu. Ini adalah keputusan yang terbaik." Bentak Kasek
"Tapi Puspa tidak seperti yang kalian fikirkan. Itu kecelakaan!" Bela Elisa.
"Atas dasar apa kamu yakin akan hal itu? Jika pemilik sekolah ini sudah memutuskan hal itu!"
"Atas dasar dia sahabat saya. Saya tau bagaimana dan siapa Puspa itu. Ini tidak adil Pak. Dengan melakukan hal ini kalian telah merusak etika guru!"
"Tutup mulutmu! Atau kau akan ku keluarkan juga, Elisa!"
'BRAK' Kasek menggebrak meja.
"Saya mau di keluarkan juga? Saya tidak takut!"
__ADS_1
"Cukup.. Hikss.. Cukup." Puspa melerai.
"Elisa. Ini adalah keputusan terbaik yang harus di ambil oleh pihak dan pemilik sekolah ini. Hiks" Puspa berusaha berteriak namun alhasil mengeluarkan suara yang bergetar.
Elisa tertegun begitu pula Kasek.
Mereka bertiga terdiam. Suara hembusan nafas dan suara denting jarum jam dinding yang mendonasi ruangan saat ini.
"Baik, Baik.. Saya keluar dari sekolah jika keputusan ini yang telah di ambil oleh pemilik sekolah ini. Baik, Saya mengerti. Orang mengenaskan seperti saya tidak pantas menginjakkan kaki disini. Kehidupan memang keras."
Elisa dan Kasek masih terdiam.
"Uang memang bisa merubah moral seseorang, Bukan? Hahaaaa... Hiksss. Seandainya saya kaya, saya bisa menyuap untuk hal ini. Saya sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tapi kalian tidak mendengarkan saya. Haha. Baik.. Saya pamit" Puspa berdiri dan melangkahkan kakinya.
"Puspa" Puspa menghentikan langkahnya saat Kasek memanggilnya.
"Maaf. Bapak hanya menjalankan tugas." Kasek menunduk
"Wkwkkw iya tugas dari atasan sampai melupakan tugas sebenarnya sebagai seorang guru. " Puspa keluar dari ruangan di ikuti Elisa.
"Keterlaluan" Umpat Elisa.
'Drrrtttt drrrtttt' Kasek mengangkat panggilan itu.
"Bagaimana? Sudah selesai?"
****
Puspa berjalan dengan cepat mengabaikan pandangan siswa lainnya yang menatapnya heran. Puspa menyeka air matanya. Dadanya sesak.
"Cukup sampai disini perjuanganku.. Cukup." Puspa berbicara sendiri sembari menyeka air matanya dan berusaha tersenyum.
"Puspa tunggu.. Puspa" Elisa setengah berlari mengejar Puspa yang tidak menghiraukan panggilannya.
Puspa masuk ke kelas dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
"Puspa kamu kenapa?
"Iya, kenapa?
"Kok nangis sih.?"
"Hey dengerin dong. Kamu kenapa?"
__ADS_1
Terlontar banyak pertanyaan dari teman-temannya. Puspa menghiraukan itu.
"Puspa... Hosh hosh hosh" Elisa sampai di kelas dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Puspa stop Puspa" Elisa menghentikan gerakan tangan Puspa yang memasukkan buku-bukunya. Puspa menepisnya.
"Puspa.. Stop" Elisa mencoba mencegahnya lagi. Puspa mengabaikan dengan air mata yang mengalir deras
"PUSPAAA!!! ELO BUDEK YA! GUE BILANG STOP!" Pertama kalinya Elisa berbicara dengan nada dan gaya bahasa seperti ini pada Puspa.
Puspa masih menghiraukan.
Elisa jengkel. Ia menggenggam erat tangan Puspa. Puspa menatap Elisa.
Elisa mengatur nafasnya yang memburu. Mata Puspa memerah dengan nafas yang memburu pula.
Menangis tanpa suara itu menyakitkan
"Maaf.. Hikss" Elisa berucap dan langsung memeluk Puspa.
Tubuh Puspa bergetar.
"Menangislah. Keluarkan suaramu, teriakanmu. Hiksss jangan diam. Kumohon.. Puspaaa.. Ku mohon katakanlah sesuatu.." Puspa mau berteriak, tapi suaranya tercekat dan dadanya sesak.
Puspa tidak membalas pelukan Elisa, Ia merasa dirinya sudah benar-benar hancur saat ini.
"Puspa katakan sesuatu!!" Elisa mengguncang tubuh Puspa yang hanya diam dengan mata yang masih memerah akibat menangis.
Temannya yang lain kebingungan. Mereka mengerubungi Puspa dan Elisa.
"Yang lain tolong jangan mengerubungi kami, Puspa butuh udara" Saat mereka di kerubungi udara do sekitarnya berasa panas.
Mereka menurut. Rasa iba terpancar dari raut wajah teman-temannya.
Tubuh Puspa menegang...
"Puspa jangan membuatku khawatir. Hiksss katakan sesuatu.. Aku.. Aku akan ikut denganmu keluar dari sini. Hikss Puspa jangan seperti ini.. PUSPAAAA!!"
Puspa menatap wajah Elisa. Matanya makin memanas dan air mata ini tidak kunjung berhenti.
Elisa memeluk Puspa lagi.
"Aku akan ada di sampingmu, Menjagamu." Elisa memeluk erat Puspa.
__ADS_1
Kaki Puspa tidak kuat menopang tubuhnya hingga ia terduduk di lantai dengan tatapan kosong.
"Aku.. Aku sudah hancur" Puspa tersenyum tapi air matanya terus mengalir.