
🍀🍀🍀
Hari mulai berganti minggu, Arga dan Puspa semakin dekat lagi, dan seperti biasa mereka sama-sama menganggap bahwa mereka tidak saling suka dan memilih mengabaikan perasaan mereka.
****
Ilham memandangi foto Puspa yang sudah di cetak. Ia meremas dadanya yang sakit saat mendapat tolakan dari Puspa.
"Padahal tadi malam, aku berencana akan melamarmu. Tapi kau malah menolak ku ajak kerumah" Ilham membuang nafas dengan kasar
'Kriiieettt'
Ibu Ilham masuk ke kamar Ilham dengan membawa nasi.
"Nak, makanlah dulu. Sejak pagi kau belum makan. Ini sudah sore" Ibu Ilham tersenyum
"Ilham tidak berselera makan, Bu. Rasanya sakit" mata Ilham memerah lagi
"Coba telfon Puspa. Biar ibu yang bicara"
"Percuma, Bu" Ilham membanting foto Puspa. Ibu Ilham terkejut.
"Ilham, sebenarnya apa yang terjadi sampai-sampai kamu marah begini?" Ibu Ilham hanya tahu bawah Puspa menolak ajakan Ilham untuk main kerumahnya semalam
Ilham meneteskan air mata, ia meremas rambutnya.
Disisi lain di rumah Puspa,
"Tuan, sudah sore" ucap Puspa saat Arga sedang duduk santai di kamar Puspa.
(Eiittttsss jangan traveling dulu yaaakkk😂)
"Lalu?" Arga bahkan tidak memandang puspa, ia tetap fokus pada Hp nya.
'Sial, pulanglah. Jangan menginap lagi' Bathin Puspa
"Nyonya dan Tuan Besar pasti menghawatirkanmu" Puspa bersandar di pintu menatap Arga yang nampaknya masih menikmati Hp nya
"Tidak akan. Lagipula aku tidak akan macam-macam padamu"
"Hiihh kau ya, aku bahkan belum melapor pada RT kalau akan ada orang yang menginap" Puspa jengkel
__ADS_1
"Tenang saja"
Puspa memukul jidatnya pelan.
"Ilham pasti berfikir yang aneh-aneh tentang semalam" Puspa menggembungkan pipinya.
Mendengar nama Ilham, Arga menghentikan jarinya yang sedari tadi sibuk dengan Hp. Arga menatap ke arah Puspa. Arga mengeratkan genggaman pada Hp nya.
Puspa yang melihat adanya perubahan pada sikap Arga merasa telah salah menyebut nama Ilham.
Arga melempar Hp ke kasur dan berjalan mendekati Puspa. Puspa sedikit ngeri.
"Aku tidak suka jika kau menyebut nama itu" Arga semakin mendekat.
Puspa langsung menutup pintu dari luar kamar.
Arga menggedornya dari dalam
"Buka pintunya, Puspa!" Arga sedikit berteriak
"Tidak, jika ku buka, kau pasti akan memukulku" tolak Puspa.
"Ck" Puspa berdecak. Ia terpaksa tidak menahan pintunya lagi dan Arga berhasil membuka pintu.
Puspa menunduk, Arga menatap lama Puspa.
Arga langsung menarik dagu Puspa untuk menatapnya. Tapi Puspa malah menutup matanya.
"Buka matamu"
Puspa menggelengkan kepalanya
"Buka matamu atau ku congkel"
"Dasar gila" umpat Puspa dalam hatinya
Puspa pun membuka mata dan terkejut saat wajah Arga sangat dekat dengan wajahnya. Puspa agak mundur tapi Arga menahan tubuh Puspa dengan tangan satunya.
Puspa melotot dengan tindakan Arga. Degupan jantung Puspa juga ikut kencang, tubuh Puspa panas dingin.
"Astaga apa yang dia lakukan. Kumohon jantung yang baik hati, diamlah. Oh tidak maksudnya kau bisa berdetak normal. Ini kenapa otakku juga ikut buntu di saat situasi seperti ini" Bathin Puspa
__ADS_1
"Kau sudah tau bahwa aku tidak suka nama itu disebut, kenapa kau memancing emosiku" Arga berbicara dengan penuh tekanan disetiap kalimatnya
"Tuan, jarak kita terlalu dekat" Puspa berusaha melepaskan diri
"Apa aku harus memotong mulutmu supaya berhenti menyebut nama itu?"
"Sinting" umpat Puspa
Arga memejamkan matanya dan diam sejenak. Puspa sudah berfikir negatif bahwa ia akan tewas mengenaskan detik ini juga.
Arga membuang nafas di muka Puspa yang sedikit berkeringat dan itu membuat Puspa ingin menonjok muka Arga. Arga melepaskan dagu Puspa dan ia menjauhkan dirinya.
"Jangan sebut nama itu lagi" Arga kembali ke kasur Puspa dan melanjutkan aktivitasnya yakni bermain Hp.
Puspa bernafas lega dan ia menyeka keringat dingin di dahinya.
"Aku akan pulang jam 5 nanti" Puspa masih terdiam terpaku di tempatnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi di antara kita, Tuan. Kau membuat perasaanku seperti di tarik ulur. Terkadang bersifat seolah kau menyukaiku, tapi kau juga selalu membuatku berfikir kalau kau tidak menyukaiku" Puspa memandangi Arga
"Kau gila Arga, seharusnya kau tidak seperti itu kepadanya, dia bisa berfikir bahwa kau ini penjahat" Bathin Arga.
"Kau mendengarku?" Puspa tersentak terkejut.
"Iya iya, pulanglah nanti. Aku akan menyiapkan makan dulu. Aku juga akan mulai bekerja lagi besok" Puspa berjalan menuju dapur
"Masih betah di warung itu?" Arga sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Puspa.
Puspa membalikkan badan dan menatap Arga
"Tentu, siapa yang akan membayarku jika aku tidak bekerja" Puspa memutar mata bosan
Arga beralih menatap ke arah Puspa juga.
"Mangkannya, cari suami sana" ledek Arga
"Kau yang lebih tua dariku saja masih jomblo" Puspa langsung berlari ke dapur.
Arga terkejut, ia terdiam.
"Aku sampai lupa kalau aku jomblo" Arga terkekeh
__ADS_1