
🍀🍀🍀
Arga keluar dari kamar mandi. Ia berkacak pinggang menggunakan satu tangan sedangkan tangan lainnya memegang Hp nya.
Ia mengambil sebuah lilin di laci meja samping ranjangnya dan menyalakannya.
Setelah selesai berpakaian Arga berjalan menuju jendela kamarnya. Ia membuka tirai dan mengedarkan pandangannya.
"Seluruh kota mengalami pemadaman. Hufftt.. Apa dia baik-baik saja?" Arga menggelengkan kepalanya. Sejak pulang dari sekolah kemarin ia selalu memikirkan Puspa. Apakah gadis itu baik-baik saja? Ia tidak bisa menghubunginya karena Hp Puspa sendiri telah hancur pada saat itu.
Arga menutup kembali tirainya, Ia memilih rebahan di sofa. Arga menghela nafas kasar. Ia menutup wajahnya menggunakan lengan kanannya.
Terlintas ingatan senyuman Puspa, Tawa nya, serta saat Puspa merawatnya ketika sakit. Arga membuka matanya dan mengubah posisinya miring.
Mencoba memejamkan matanya, Tapi sekali lagi wajah Puspa selalu datang padanya.
Ketika Puspa menangis, pergi dari rumah ini, dan ketika Puspa hampir saja jatuh dari atap sekolah.
Ia merasa bersalah telah melempar uang itu seara kasar di depan Puspa, Saat itu Arga merasa sangat tidak di hargai dan di lecehkan harga dirinya saat Puspa memilih mengembalikan uang itu.
Hanya uang 6 jt apakah dia harus mengembalikan seolah-olah aku orang tidak punya? 6 jt bukan masalah besar. Fikir Arga.
Arga tidak tenang. Ia mendudukkan dirinya sedikit membungkuk dengan kedua sikunya bertumpu pada lututnya.
"Apa dia baik-baik saja?" Gumam nya.
Arga memutuskan besok akan ke sekolah untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. Tanpa Arga ketahui Puspa telah di keluarkan dari sekolah atas perintah Mama nya.
🍀🍀🍀
__ADS_1
Puspa terdiam.. Suara gemuruh petir dan kilat masih bersahutan. Ia baru menyadari sesuatu.
"Aku memanggil Tuan Muda... Apa yang terjadi pada mulutku ini? Kenapa aku sering menyebutnya? Mulutku sudah eror." Gerutu Puspa.
Hatinya sedikit di gelitik rasa sakit, saat ia mengingat Elisa pun mau jadi istri Arga. Puspa menunduk.
"Ada apa ini. Aku tidak mengerti.. Setelah keluar dari sana bukannya tenang, aku malah semakin kacau" Puspa memainkan jari telunjuknnya di lantai.
"Aku tidak sedang jatuh cinta bukan? Ini bukan cinta. Ini hanya perasaan kacau" Lirihnya. Tanpa disadari sebuah buliran bening menetes dan mengalir melewati bibir Puspa. Puspa tidak sengaja menjilatnya.
Asin. Puspa terkekeh. Ia menghela nafas mencoba menenangkan rasa sakit hatinya yang bergejolak.
Kantuk mulai menguasai diri Puspa, perlahan lahan matanya terpejam. Ia tertidur dengan posisi duduk di lantai. Mungkin paginya ia akan sedikit merasa pegal-pegal.
"Ibu.." Lirihnya dari alam bawah sadar.
🍀🍀🍀
Ia tidak sendirian... Banyak orang yang berlalu lalang di taman itu namun tidak seorang pun memperdulikannya.
"Tolong... Hikss... Aku harus kemana" Tetap saja tidak ada orang yang perduli. Bahkan tidak ada yang menoleh.
Gadis kecil itu duduk dan bersender di pohon. Ia masih menangis. Tidak ada orang yang menganggap nya ada, itu menyakitkan.
"Bapak.. Ibu.. Kalian dimana?" Gadis kecil itu memeluknya erat lututnya dan menundukkam kepalanya
'Srek srek srek' Gesekan sepatu beradu dengan rumput taman.
Langkah itu semakin mendekat. Gadis itu mendongakkan kepalanya. Sebuah uluran tangan dari seorang anak laki-laki berusia 10 tahun.
__ADS_1
Gadis kecil itu menatap sejenak siapa yang ada di depannya.
Seseorang di depannya ini terus mengulurkan tangannya.
Gadis kecil itu perlahan lahan menerima uluran tangannya. Sebuah senyuman terukir di bibir kedua bocah itu.
"Terima kasih" Ucap gadis kecil itu. Ia malu karena merasakan getaran saat ia telapak tangan mereka menyatu.
"Sama sama. Jangan cengeng. Aku akan membawamu pulang."
"Kemana? " Gadis kecil itu kebingungan.
"Ke rumahku." Ia tersenyum.
"Oh iya.. Siapa namamu dan apakah kamu kenal aku?" Tanya lagi Gadis kecil itu.
"Tentu. Kamu kan jodohku." Anak laki-laki itu tersenyum manis.
"Jodoh? tapi kamu siapa?"
"Aku.. Pria tampan dan kaya. Hahaha" Gadis kecil itu memicingkan matanya.
"Dasar pria kecil." Ledek gadis kecil itu.
"Dooooorrr" Anak laki-laki itu berteriak di dekat telinga gadis kecil itu hingga membuat gadis kecil di sampingnya terkejut bukan main
***
Puspa terbangun. Ia mengatur nafasnya, jantungnya berpacu cepat karena rasanya anak laki-laki itu telah mengejutkannya.
__ADS_1
"Mimpi.. Hmmmm" Puspa merenggangkan ototnya. Badannya agak pegal karena tertidur di lantai.
"Sudah pagi ya.. Saatnya mandi" Puspa tersenyum.