
🍀🍀🍀
Puspa langsung turun dari mobil setelah sampai di rumahnya.
"Masih bersih? Padahal sudah ku tinggal beberapa hari" gumam Puspa.
Mata Puspa berbinar saat di samping rumahnya terdapat beberapa pot bunga. Puspa langsung melihat bunga-bunga tersebut
"Satu, dua, tiga.." Puspa menghitung pot yabg berisikan bunga dengan ukuran kecil
"Itu nanti berbunganya tidak hanya satu warna"
"Maksudnya?"
"1 kelopak 2 warna" Arga meraih Hp nya dan mencari foto contoh bunga yang ia beli untuk Puspa.
Arga memperlihatkan beberapa contoh bunga yang telah ia beli
"Salah satu di antara mereka ada yang model batik juga" ucap Arga
"Oohhh. Aku semakin penasaran. Ada 10 bunga"
"Cepatlah tumbuh dan berbunga" ucap Puspa sambil menyentuh daun-daun bunga tersebut
Arga hanya diam melihat Puspa yang mengajak bicara bunga-bunga itu
"Tuan, ini pemberian siapa?"
"Kau fikir siapa?"
"Bapak?"
"Sial. Bisa-bisanya dia fikir itu pemberian Ayahnya, sedangkan akulah kemarin-kemarin yang bertanya dia suka bunga apa" bathin Arga
"Apa ini pemberian Bapak, Tuan?" tanya Puspa lagi
"Dia bahkan tidak menjengukmu di Rumah Sakit" Arga berjalan ke pintu rumah, ia mengeluarkan kunci dan membuka pintu, ia masuk ke dalam rumah Puspa
Puspa terdiam setelah apa yang dikatakan Arga adalah benar, Bapaknya pun tidak tahu bahwa dirinya hampir mati
"Eh?" Puspa terkejut ketika melihat pintu rumahnya sudah terbuka
"Kunci rumah ada bersamamu?" tanya Puspa yang masih di samping rumah
Arga tidak menyahut
__ADS_1
"Oh iya, Hp ku!" Puspa langsung masuk ke dalam rumahnya, ia bergegas ke kamar
"Hehe ternyata sudah bersih" ucap Puspa saat melihat kamarnya sudah rapi kembali, mengingat terakhir kali ia ada dikamar ini dengan kondisi bersimbah darah dan botol kaca berserakan.
"Kali ini aku merepotkanmu lagi, Tuan" gumam Puspa
Puspa melihat-lihat isi kamarnya, tidak ada debu. Puspa tersenyum mengingat berbagai hal telah ia lewati bersama Arga, walau hal-hal tersebut tidak selalu berbentuk kebahagiaan.
Puspa mengingat di kamar inilah ia berusah bunuh diri, tapi sekali lagi Arga ada bersamanya. Puspa tidak dapat memungkiri semuanya, hatinya kini sudah mulai terbuka dan bisa merasakan ketertarikan pada Arga.
"Dia menyebalkan, tapi dia juga memiliki pengaruh pada kehidupanku selama ini" ucap Puspa
"Tapi dia tetap menyebalkan!"
"Dia suka membuatku merasa ingin memukulnya atau memakannya!" ucap Puspa sambil melipat kedua tangannya di dadanya
Puspa membuka lemari untuk mencari dompetnya, tetapi tidak ada
"Pasti ada pada Tuan Muda juga" tebak Puspa
***
Disisi lain Arga sedang memainkan Hp nya. Ia merasa haus, ia pun menuju dapur di rumah Puspa
Arga mengambil air mineral dan meminumnya
Arga kembali ke ruang tamu, ia memesan makanan via gofood.
"Tuan, katanya mau ke kantor Tuan Besar?" Puspa keluar dari kamarnya
"Nanti"
"Kau ingin minum atau makan sesuatu?" Puspa mengikat rambutnya
"Tidak. Aku sudah pesan. Tinggal menunggu saja"
"Kenapa tidak memintaku untuk masak? Hitung-hitung balas budi, hihi"
"Hm"
"Ckck aku benci 'Hm' yang ia katakan" bathin Puspa
"Oh iya, Hp ku?" Puspa menjulurkan tangannya
"Di rumahku, kan"
"Ck! Ternyata benar-benar di rumahmu" Puspa memanyunkan bibirnya, Arga yang melihat itu sebenarnya merasa gemas
"Tidak usah sok imut begitu, mirip ikan" ledek Arga
__ADS_1
Mata Puspa melebar,
"Ikan katamu?!"
"Ya, ikan" jawab Arga
"Kau benar-benar menyebalkan, Tuan" Puspa meninggalkan Arga dan masuk ke dapur.
Puspa terdiam saat mendapati di dapurnya tidak ada bahan makanan
"Kosong? Aku harus ke pasar kota nanti sore" gumam Puspa
"Hmmm... Aku harus bagaimana? Aku tidak mau ke rumah mewah itu dan bertemu dengan Nyonya Besar. Pasti nanti aku kena omelan atau lainnya. Tapi Hp ku bagaimana?" Puspa berjongkok dan memangku wajahnya sambil memandangi perabotan di dapurnya
"Menyebalkan"
🍀🍀🍀
Arga merasa sedikit mengantuk, ia berjalan menuju kamar Puspa.
"Bugh" Arga menjatuhkan dirinya di ranjang setelah menutup pintu kamar Puspa
"Aku akan tidur sebentar sebelum kembali ke kantor" ucap Arga lirih, matanya mulai terpejam
Puspa keluar dari kamar mandi, ia berjalan menuju ruang tamu
"Tuan Muda kemana? Apa dia pulang?" tanya Puspa pada dirinya sendiri.
'Tok tok tok '
"Permisi, ini pengantar pesanan"
"Iya sebentar"
Puspa membuka pintu dan menerima paket makanan tersebut
"Ini sudah dibayar?" tanya Puspa
"Sudah, mbak. Tadi di jalan dibayar sama orang yang bekerja untuk Pak Arga"
"Ooohhh, baiklah terima kasih ya"
"Sama-sama mbak, permisi"
Puspa tersenyum, ia langsung masuk kedalam dan meletakkan paket makanan tersebut
"Dia terlalu banyak memesan makanan" Puspa berkacak pinggang.
"Tapi kemana dia, ya?" Puspa menata makanan tersebut di meja makan sambil menunggu Arga
__ADS_1