
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Tidak ada yang menatapmu. Matamu jelek" Arga membuang muka.
"Tidak mengapa mataku jelek, setidaknya wajahku tidak sepertimu" ledek Puspa.
"Tentu saja wajahmu tidak sepertiku, ingatlah kita beda gender"
Puspa terdiam kikuk.
"Iya aku tahu itu... Maksudku wajahku tidak sejelek dirimu"
"Dasar, itu hanya plesetan kan?. Otakmu memang harus di loundry." Arga menyentil kepala Puspa
"Mulutmu harus ikut kursus Tuan, ingat itu"
Setelah beberapa menit mendebatkan hal yang tidak begitu penting akhirnya mereka memilih diam.
"Kenapa tiba-tiba kesini?" Puspa menatap Arga dan agak menjauhkan dirinya.
"Entahlah." Arga menatap jam dinding.
"Eh? Kau gila ya, Tuan. Kenapa jawabannya 'Entahlah' ?" Puspa mengerutkan dahinya.
"Tentu itu hak ku mau menjawab apa." Puspa membelalakkan matanya.
..."Bukannya tadi dia bilang rindu ya?" Batin Puspa...
"Hemmm ... Baiklah, Tuan. Sebaiknya Tuan Muda pulang saja ya" Puspa tersenyum
"Hm." Arga bangkit dari duduknya
"Eh eh kenapa dia terlihat marah? Haduh salah lagi aku" Puspa panik
Arga menghabiskan teh di gelas lalu bergegas melangkahkan kakinya.
"Tuan..." Panggil Puspa
"Apa?" Jawab Arga tetap membelakangi Puspa. Arga menghentikan langkahnya.
"Tuan marah?"
"..."
Arga melangkahkan kakinya lagi. Ia membuka pintu rumah Puspa dan keluar dari sana. Tanpa sadar Arga menutup pintu rumah Puspa agak kencang hingga berbunyi keras.
Puspa tersentak. Ia menggigiti jari telunjuknya. Terdengar suara motor dari luar rumah, suara motot itu kian menjauh. Puspa bergegas membuka pintu dan benar Arga sudah berlalu. Puspa menghela nafas.
__ADS_1
"Kurasa aku harus kursus mulut" Puspa menepuk pelan mulutnya.
Disisi Lain...
Jesi membuka jendela kamarnya... Menikmati angin yang menyentuh lembut wajahnya. Jesi melihat layar Hp nya yang menunjukkan waktu pukul 01:15 Dini hari.
"Tidak ku sangka, bang Arga semakin lama akan semakin tampan. Hihihi. Tapi dia tidak seceria dulu... Malah lebih dingin" Jesi menarik nafas dalam-dalam.
Merasa ada yang kurang, Jesi melangkah menuju lemari dan mengambil koper miliknya. Ia mengambil sebungkus rokok yang ia sembunyikan di balik pakaiannya.
"Hmmm untung saja pakaianku belum di letakkan di lemari. Bisa ketahuan rokok milikku" Jesi langsung menutup kembali kopernya.
.....
Terlihat dari wajahnya, Jesi sangat menikmati asap rokok yang ia sedot...
"Rokok memang istimewa" Jesi mengeluarkan asap rokok sedikit demi sedikit sambil membayangkan ia meniupkan asap itu di wajah Arga.
Ambisi dalam dirinya mulai menjadi-jadi.
"Cepat atau lambat akan ku luluhkan dirimu, bang. Kalau kau pria normal, kau tidak akan menolak suguhanku" Jesi tersenyum licik memikirkan strategi untuk meluluhkan Arga.
"Jikalau kau sudah beristri pun, aku akan tetap melakukan hal ini. Karena pangeran tampan di rumah ini hanya boleh menjadi milikku." Jesi menyeringai.
Saat sedang asyik menghalu, Jesi mendengar suara motor dari bawah. Jesi melirik ke arah garasi dan benar saja ada sebuah motor yang baru masuk ke garasi.
"Tapi siapa yang di jam segini keluar rumah?"
"Ah iya, pasti itu bang Arga. Aku akan menyambutnya" Jesi mematikan rokoknya dan memasukkan putung rokoknya di dalam kaleng yang sengaja ia bawa. Ia meletakkan kaleng itu di bawang kolong ranjang.
Jesi menyemprotkan parfum di leher dan dadanya. Ia merapikan rambutnya lalu berjalan kegirangan menuju lantai bawah.
"Halo, Bi. Arga di luar. Tolong buka pintunya"
Setelah menutup telfonnya, Bi Ina segera bangun dari tempat tidurnya. Tangan Bi Ina memegang kunci tetapi langsung di tepis oleh Jesi.
Bi Ina terkejut.
"Ah Bibi.. Maaf... Aku tidak berniat kasar. Pasti sakit ya, " Jesi langsung meraih tangan Bi Ina, namun dengan segera Bi Ina menarik tangannya.
"Maaf, Nona. Itu tidak perlu."
"Emmmm maaf ya, aku tidak bermaksud kasar."
"Iya, Nona tidak apa-apa" Bi Ina tersenyum
"Apa yang Non Jesi lakukan? biar Bi Ina saja yang membuka pintunya" Bi Ina hendak mengambil alih kuncinya tapi Jesi melarang
__ADS_1
"Tidak, Bi. Bibi pasti lelah... Biar Jesi saja yang membuka pintu untuk bang Arga"
"Tapi-"
"Bi, kok tidak menurutiku sih?"
"Maaf Non Jesi" Bi Ina agak mundur..
Saat kunci pintu sudah di buka, Arga langsung mendorong pelan pintunya hingga mengenai jari Jesi.
"Awww..." Rintih manja Jesi
Arga yang melihat itu heran, Ia menoleh ke arah kanan dan mendapati Bi Ina menunduk.
"Bi, kok bukan Bi Ina yang buka pintu sih? Yang ku telfon kan Bi Ina" Arga terlihat tidak suka.
"Maaf, Tuan Muda. Tadi Bibi sudah mau membukanya tapi-"
"Anu bang, Bi Ina bohong... Tadi aku kebetulan mau ke dapur tapi ternyata Bi Ina menyuruhku untuk membuka pintu"
Bi Ina membelalakkan matanya
"Heh! Bibi kok berani menatap seperti itu ke aku. Aku aduin ke Tante loh biar Bibi di pecat" Omel Jesi
Bi Ina langsung menundukkan wajahnya.
"Jesi!" Bentak Arga
Jesi tersentak dan seketika terdiam.
"Abang kok bentak Jesi? Sakit tau di bentak"
"Apa hak mu berbicara seperti itu pada Bi Ina, hah?!. Ingat, dirimu hanya di tampung di sini. Jangan berani-beraninya kau mengatur orang di rumah ini. Secepatnya pergilah dari sini"
Jesi menundukkan kepalanya. Ia mengepalkan tangannya.
"Bi, Arga lapar. Bawakan makanan ke kamar"
"Baik, Tuan Muda"
Arga melangkahkan kakinya, baru saja beberapa langkah, ia berhenti dan tetap membelakangi Jesi dan Bi Ina.
"Dan ya, aku meminta hal ini pada Bi Ina. Kau jangan ikut campur jika tidak ingin melihat amarahku, Jesi" Arga melanjutkan langkah kakinya.
Jesi menghentakkan kakinya, Bi Ina langsung pergi ke dapur meninggalkan Jesi yang sedang menahan amarah.
Jesi menutup pintu dengan kesal.
__ADS_1