
🍀🍀🍀
Arga menyandarkan kepalanya di kursi mobil. Ia memejamkan matanya. Mencoba meredam amarah yang ada di hatinya.
"Kenapa ? Apa yang terjadi padaku?" Gumamnya.
Arga menghela nafas berat.
Beberapa detik ia terdiam...
"Apakah aku cemburu? Apakah aku tertarik padanya?. Aku tidak tau" Arga mengacak-acak rambutnya.
Kenapa hatinya tidak bisa berdamai.
"Apa iya tertarik pada bocah dan bekas pembantu?. Haha bisa-bisa aku di tertawakan oleh Papa dan Mama."
Arga memejamkan matanya kembali.
"Tuk tuk tuk"
"Tuan Muda.."
Hingga sebuah ketukan di kaca mobil membuat Arga membuka matanya. Ia melihat Puspa sedang mengatur nafasnya yang terengah-engah dan juga mengelap seidkit keringat di dahinya.
Arga membuka kaca mobil.
"Apa?!" Ketus Arga
Seketika raut wajah Puspa yang tadinya lelah sehabis berlari dari dalam Rs berubah menjadi murung dan sedih.
"Emm Galaknya. Maaf mengganggu" Puspa membalikkan badan dan melangkah dengan cepat keluar parkir.
Arga menautkan alisnya.
"Apa sih. Aneh"
Puspa mengepalkan tangannya. Ia merasakan hatinya di gelitik sedikit rasa sakit.
__ADS_1
"Seharusnya kau tidak perlu mengejarnya. Sekarang kau tau rasa, kan." Omel Puspa pada dirinya sendiri
"Seharusnya biarkan saja dia pergi, biarkan dia pulang. Tidak perlu kau harus lari dengan cepat dari dalam. Kau bisa kan menemani Ilham, lihat betapa bodohnya dirimu. Mengejar orang yang bahkan tidak bisa mengerti dirimu, yang tidak bisa menghargaimu" Imbuhnya.
"Lagi pula untuk apa kau marah seperti ini, hah. Buang-buang tenaga" Puspa memelankan langkah kakinya. Menghirup oksigen sedalam-dalamnya.
Ia menarik kedua sudut bibirnya dan membentuk senyuman.
"Kau akan cepat tua jika terus marah-marah" Puspa terkekeh.
"Memangnya kau cantik?"
"Mungkin sedikit cantik" Puspa berbicara sendiri.
Setelah ia keluar, Puspa berdiri di trotoar. Matanya tertuju pada gerobak Es Krim Rujak.
"Sangat cocok dengan cuaca hari ini" Puspa girang. Ia lupa kalau seharusnya ia tidak boleh mengkonsumsi Minuman dingin saat haid.
Puspa mengantri... Sesekali melirik dan berharap ia kebagian.
Tibalah giliran Puspa,
"Pedas manis, Pak. 1 porsi saja"
Puspa menepuk jidatnya. Ia lupa membawa uangnya. Ia mencoba merogoh tas nya berharap menemukan Uang setidaknya 10.000 saja.
"Ini Mbak, Es nya"
"Iya, Sebentar saya ambil uangnya" Beruntung Puspa menemukan uang 20.000 terselip di sela-sela tas nya. Usai membayar Puspa di kejutkan oleh kehadiran Arga yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
Puspa mengelus dadanya. Hampir saja Es di tangannya jatuh.
"Kau mengejutkanku." Ucap Puspa. Ia menyendok Es di tangannya. Namun dengan cepat Arga memegang pergelangan tangan Puspa.
Puspa mengernyitkan dahinya. Arga menarik Puspa untuk menjauh dari sana.
"Tuan.. Apa yang kau lakukan. Sakit" Arga tidak memperdulikannya. Ia membawa Puspa masuk lagi ke area parkir Rs.
__ADS_1
"Pelan-pelan. Kau menyakiti tanganku. Nanti es-nya jatuh" Puspa jengkel.
"Kau dengar tidak sih!" Puspa menarik tangan dari genggaman Arga. Sayangnya tidak berhasil.
Puspa semakin jengkel saat sendok di es-nya jatuh. Ia melototi Arga dari belakang. Dalam hitungan detik Puspa menarik tangannya dengan keras.
Bukannya terlepas, tangan satunya yang memegang Es malah hilang kendali hingga es-nya terjatuh.
Puspa menganga.
Arga menghentikan langkahnya dan membalik badannya.
"Jatuh?"
"Brengsek!!"
Seperti ada yang menusuk hati Arga saat Puspa mengatakan itu.
Puspa menginjak kaki Arga hingga Arga meringis dan melepas genggaman pergelangan tangan Puspa.
"Lihat! Es-nya jatuh kan! Kau tau harganya? 8.000. Kau fikir mudah mendapatkan uang hah?!"
Jantung Puspa berdetak kencang. Ingin ia memakan hidup-hidup pria di depannya ini.
Arga santai mendengar bentakan Puspa.
"Nyalimu lumayan kuat. Berteriak di tempat umum" Ucap Arga santai.
"Apa maumu! Kenapa kau mengacaukan mood ku." Puspa mencoba mengatur nafasnya.
"Bodoh. Apa kau tidak pernah berfikir positif atas segala tindakan yang ku lakukan?" Arga bertanya dengan seidikit kesal.
"Kau... Kau ini tidak bisa intropeksi diri ya. Bukannya minta maaf, kau malah bertanya seperti itu?!" Puspa melotot
"Dasar perempuan. Selalu menganggap laki-laki itu salah. Padahal yang ia lakukan demi kebaikan si perempuan itu sendiri" Arga membalikkan badan, dan melangkah meninggalkan Puspa yang berdiri mematung.
"Apa sih!! Dasar tidak waras"
__ADS_1
"Terserah" Balas Arga sambil terus melangkah