Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Sarapan Bersama


__ADS_3

Yuli menggelengkan kepalanya. Ia berusaha tidak mengingat lagi kejadian malam itu. Walau samar, tapi kondisi fisik Yuli setelahnya tidak dapat ia pungkiri


Walaupun Yuli masih tidak tau, siapa pria yang bersamanya malam itu. Kondisinya saat ini juga menjadi penghalang Yuli untuk menyatakan perasaannya kepada Dokter Andre sebelum terlambat


Yuli menghela nafas,


"Aku rasa aku akan diam saja mengikuti alur kehidupan" Yuli menarik selimutnya


"Ya, diam saja" lanjutnya


🍀🍀🍀


Keesokan paginya, cahaya matahari menerobos masuk melalui celah-celah tirai jendela kamar Puspa.


Puspa mengucek matanya dan mendapati Elisa tengah menyantap coklat pemberian Dokter Andre.


"El, kau?"


"Hehe, maaf ya. Nanti aku ganti" Elisa berucap dengan senyum lebar


"Tidak perlu, nanti aku yang akan menggantinya" Puspa duduk di tepi ranjang dan mengikat rambutnya


"Eh? Menggantinya? Bukannya ini untukmu? Dan ehem, itu"


"Itu apa?"


"Siapa Andre, hayo? Kau diam-diam punya pacar ya?" goda Elisa


"Semoga benar ini pacar Puspa!"


"Elisaaaa! Kau juga membaca suratnya? Dasar" Puspa menepuk dahinya sendiri


"Huufftt lagipula ini salahku juga, aku tidak terfikir untuk membuang surat itu. Padahal kau akan menginap disini" ucap Puspa


"Wah wah, ini benar-benar dari pacarmu, ya? Maaf. Nanti aku akan benar-benar menggantinya. Sayang sekali"


"Bukan, El. Dia Dokter yang menanganiku saat di Rumah Sakit. Dia juga sepertinya sudah punya kekasih. Dan aku tidak ada perasaan apapun terhadapnya"


Elisa seketika terdiam, terbesit sedikit kekecewaan


"Oohh begitu ya. Aku mandi duluan ya" Elisa langsung berdiri dan mengambil handuk


Puspa kebingungan melihat perubahan sikap Elisa


"Kenapa?" Puspa bertanya-tanya


***


"Cih, perasaan ini menyusahkan!" umpat Elisa di kamar mandi dengan suara pelan


"Kenapa?! Kenapa harus ada hal seperti ini"


"Elisa!!! Jangan melakukan tindakan bodoh. Ingat, kau hanya kagum padanya" lanjutnya


"Huufft Arga! Kenapa kau memikatku seperti ini?"

__ADS_1


"Konyol!!"


Elisa menghirup nafas dalam-dalam sebelum ia membuka pintu kamar mandi.


'Ceklek'


"Kyaaaa! Puspaaa! Kau mengejutkanku" Elisa terkejut setengah mati saat ia mendapati Puspa sedang berdiri di depan pintu kamar mandi


"Ah anu, maaf. Aku baru saja kesini, kebelet" Puspa merapatkan kakinya yang menahan kencing


"Apa kau mendengarnya?" tanya Elisa


"Dengar apa? Sudah-sudah. Aku tidak tahan lagi" Puspa menarik pelan Elisa agar keluar dari kamar mandi, Puspa langsung masuk dan menutup pintunya


Sementara itu Elisa masih diam tidak bergeming. Ia takut Puspa mendengar semuanya tadi. Usai mandi bukannya merasa segar, Elisa malah merasakan suhu tubuhnya panas dingin.


"Apa dia benar-benar tidak mendengarkan apa yang aku ucapkan tadi?" gumam Elisa.


'Ceklek' Puspa keluar dari kamar mandi. Ia menepuk bahu Elisa yang diam mematung


"Haaa! Astaga, Puspa!" Elisa terkejut


"Kau melamun? Tidak baik melamun disini" ucap Puspa dengan senyum lebar yang sedikit menunjukkan giginya


"Apa dia benar tidak dengar apa yang tadi ku ucapkan? Dia tersenyum seperti ini" bathin Elisa


"Elisa?" panggil Puspa


Elisa terkesiap, ia jadi gugup


Saat Elisa berjalan dengan gemetaran, Puspa memandangi Elisa dari belakang, senyum lebarnya perlahan memudar.


🍀🍀🍀


Puspa menyiapkan sarapan untuk Elisa dan dirinya. Elisa belum keluar dari kamar Puspa sedari tadi.


"Kemana dia?" Puspa meletakkan piring di meja. Ia menyusul Elisa ke kamarnya


"Elisa" panggil Puspa dari luar kamar.


"Iya sebentar" sahut Elisa dari dalam


"Cepatlah, sarapannya sudah siap. Jangan sampai kau kelaparan ya. Hihi"


"Iya-iya. Sebentar lagi"


Puspa langsung kembali ke meja makan. Ia teringat saat Arga makan dirumahnya ini, ia tidak merasa sendiri lagi.


Walapun di antara mereka sering terjadi perdebatan, pertengkaran, tapi disisi lain Puspa merasa tidak sendiri lagi.


'Tok tok tok'


"Assalamu'alaikum, Nak. Ini Bapak" mendengar itu Puspa bergegas membuka pintu


"Wa'alaikum salam, sebentar"

__ADS_1


Mata Bapak Puspa berbinar saat pintu terbuka langsung melihat Puspa. Puspa tersenyum lembut, ia langsung mencium tangan Bapaknya.


"Bapak, tumben pagi-pagi. Ayo masuk, Puspa sudah masak buat sarapan"


Bapak Puspa mengangguk, ia meletakkan kantong plastik yang ia bawa.


Elisa yang sudah siap menyantap masakan Puspa di buat kaget akan kedatangan Bapak Puspa


"Lah" Elisa meletakkan kembali piringnya.


Bapak Puspa tersenyum pada Elisa, sedangkan Elisa hanya menatap datar Bapak Puspa


"Puspa, Bapakmu-"


"Iya, El. Ayo sarapan bersama" Puspa langsung mengambilkan piring untuk Bapaknya.


"Cih, berani datang lagi dia" bathin Elisa


Bapak Puspa merasa miris harus mengalami semua ini.


"Seandainya waktu bisa terulang kembali" bathin Bapak Puspa


Ia tersenyum haru melihat Puspa yang semakin tumbuh dewasa.


"Puspa, pergelangan tanganmu?" Bapak Puspa baru menyadari pergelangan tangan Puspa di perban


"Oh ini? Puspa tidak sengaja tergores pinggiran wajan saat memasak, Pak. Jadi sedikit bengkak dan Puspa perban supaya tidak perih" Puspa berbohong


"Benarkah?"


Puspa mengangguk. Sedangkan Elisa menatap tajam Puspa karena ia tidak berkata jujur pada Bapaknya


"Sudah, ayo makan. Berikan komentar masakan Puspa. Ayo, El. Kau juga harus memberikan komentar ya"


Elisa masih menatap Puspa dengan tatapan kesal. Puspa tersenyum, ia langsung mengambil nasi ke piringnya untuk mengawali sarapan pagi ini.


"Haiiissshh" Elisa akhirnya luluh dan ikut mengambil nasi di ikuti Bapak Puspa


Mereka sarapan dan sesekali di sertai obrolan seputar masa kecil Puspa dan Elisa. Bapak Puspa semakin merasa sedih ketika Puspa menceritakan sosok Bapaknya yang menjadi pahlawan baginya.


Terlepas dari apa yang ia perbuat, ia tidak henti-hentinya bersyukur Puterinya masih membuka hati untuknya.


Saat ini ia dilema, apakah setelah kelahiran anaknya ia akan menceraikan Rina dan kembali pada Puspa ataukah mempertahankan rumah tangga barunya itu.


Di satu sisi jika ia bercerai, maka anaknya dengan Rina akan mengalami kesediyan melihat kedua orang tuanya berpisah. Disisi lain, ia ingin kembali pada Puspa dan akan selalu berada di sampingnya.


Hidup bersama Puspa dan keluarga barunya adalah hal yang tidak mungkin bagi Bapak Puspa. Puspa tentu juga Puspa tidak akan mau hidup berdampingan dengan Rina.


"Bodoh" Bapak Puspa sedikit kesusahan menelan makanannya karena ia ingin menangisi kebodohannya itu. Kebodohan yang menyebabkan Puspa dan dirinya ada di titik saat ini


🍀🍀🍀


Arga berdiri memandangi pemandangan perkotaan di pagi ini, matanya melihat perkotaaan, tapi fikirannya adalah Puspa. Ia semakin terbiasa berada di dekat gadis itu. Arga berjalan ke meja kerjanya, membuka laci meja dan mengambil sebuah foto yang telah ia cetak.


Foto Puspa saat ia masih belum sadarkan diri di Rumah Sakit. Ia diam-diam mengambil foto Puspa. Wajahnya yang sayu dan terlihat kesedihan. Sesekali ia tersenyum, di balik Puspa yang cengeng, ternyata Puspa mampu menghajar Rina saat itu. Semakin lama Arga semakin gemas untuk menggoda Puspa.

__ADS_1


"Jadi aku menyukainya atau apa ya?" Arga tersenyum tipis


__ADS_2