
🍀🍀🍀
Malam harinya~
Bapak Puspa membantu memasukkan koper berisi semua pakaian Puspa dan barang-barangnya ke dalam bagasi mobil.
"Pak, apa benar Bapak tidak apa-apa tinggal sendiri?" tanya Puspa
"Tenang saja."
"Kami pamit ya, Pak. Assalamu'alaikum," Puspa mencium punggung tangan Bapaknya begitupun Arga.
"Wa'alaikum salam. Hati-hati,"
Arga membukakan pintu mobil lalu Puspa masuk ke dalamnya, ia mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. Arga ikut masuk ke dalam mobil, mobil di jalankan dan Puspa melambaikan tangannya. Setelah perginya anak dan menantunya, suasana kembali sepi. Bapak Puspa kembali masuk ke dalam rumah.
***
"Lelahnyaaa~" Puspa duduk di ranjang sambil memijat pinggangnya.
Arga yang baru keluar dari kamar mandi mendapati Istrinya sedang memijit pinggangnya sendiri, ia lalu naik ke ranjang dan duduk di belakang Puspa.
"Mau apa?!" Puspa terkejut
"Diam."
"Jangan macam-macam, aku sedang datang bulan, loh."
Arga menghiraukan perkataan Puspa, ia langsung memegang pinggang Puspa. Puspa yang malu refleks mau berteriak namun langsung di tahan tangan besar Arga.
"Emmmmmhhhh mmmhhhh."
"Ssssstttt."
Puspa membeku saat nafas hangat Arga terasa di telinga sampai leher. Arga melepas tangannya dari mulut Puspa dan beralih ke pinggang Puspa lagi lalu memijitnya perlahan. Puspa malu sendiri karena sudah memikirkan yang tidak-tidak.
"Sakit?" tanya Arga sambil terus memijit dan menekan pinggang Puspa.
Puspa menggeleng lalu tangannya menunjuk ke arah punggungnya, Arga beralih dari pinggang ke punggung Puspa.
"Ini?"
Puspa mengangguk.
"Aaww!" pekik Puspa karena Arga menekan terlalu keras.
"Nanti cepat reda sakitnya kalau tekanannya kuat."
"Yang ada malah patah tulangku."
__ADS_1
"Tidak akan,"
Dengan senyum tanpa dosa, Puspa mengulurkan lengannya.
"Anu, sepertinya ini agak sakit juga."
Tanpa berkata apa-apa Arga langsung memijat kedua lengan Puspa. Setelah 5 menit Arga berhenti lalu duduk membelakangi Puspa. Puspa baru tersadar akan sesuatu.
"Kau belum berpakaian? Hanya pakai handuk?" Puspa melotot.
"Tidak masalah," Arga menarik tangan Puspa dan menempelkannya di punggungnya.
"Dipijat juga?" tanya Puspa
"Ya."
Puspa tersipu malu saat memijat punggung Arga.
"Kurang keras,"
"Iya-iya, ini karena punggungmu lebar jadi tanganku butuh energi yang banyak."
Arga menepuk bahunya, lalu Puspa berpindah memijat bahu Arga pelan. Dengan membelakangi Puspa, raut wajahnya yang kegirangan dapat ia sembunyikan dari Puspa. Puspa iseng menyentuh pipi Arga.
"Pipimu panas, kau sakit?"
"Kau demam, ya?"
Arga menggeleng lagi. Puspa menyentuh punggung Arga dan sekarang punggung Arga yang tadinya tidak terlalu hangat menjadi hangat.
"Lah, ini punggungmu juga mulai panas. Kau sakit ini."
"Sudah ku bilang tidak."
"Tanganku ini tidak mati rasa loh,"
Puspa bangun dari ranjang dan mengambil pakaian Arga di lemari. Sambil memainkan jari telunjuknya di dagu ia bingung memilih pakaian santai untuk Arga.
"Yang mana, ya? Favoritnya yang mana pula?"
"Nah!" pada akhirnya Puspa mengambil baju tidur.
Saat berbalik badan, dada bidang Arga sudah ada di depan wajahnya.
"Eh!"
Perlahan wajah Arga mendekat, hal itu membuat Puspa seperti sedang lomba lari. Puspa menghembuskan nafasnya perlahan dan bersiap menerima ciuman Arga.
"Aku bisa mengambilnya sendiri,"
__ADS_1
'Krik krik'
Mendengar perkataan Arga membuat Puspa seperti orang bodoh. Puspa membuka mata dan memicingkan mata.
"Ini." Puspa menyerahkan baju tidur di tangannya dan langsung membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Ada apa?" tanya Arga saat melihat sikap Puspa seperti itu.
"Tidak ada. Aku ngantuk." sambil menarik selimut.
Arga menghendikkan bahu dan mengganti pakaiannya langsung setelah selimut menutupi Puspa dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kyaaaaa! Apa yang pikirkan, Puspa!" batin Puspa.
Puspa mencoba memejamkan mata dan mencoba tidur. Puspa dikejutkan oleh tangan Arga yang tiba-tiba memeluknya.
"Eh?"
Puspa membuka selimut dan mendapati Arga menempel dengan dirinya. Puspa langsung membalikkan badan dan menghadap Arga, ia menempelkan tangannya di dahi Arga.
"Sudah tidak terlalu panas," gumamnya
"Kan sudah ku katakan, aku tidak sakit." langsung memegang tangan Puspa yang ada di dahinya.
Arga membuka mata perlahan, menatap mata Arga saja membuat Puspa harus menahan jantungnya yang mau keluar dari tempatnya. Arga mencium kening Puspa agak lama.
"Dia sering mencium keningku, apa hanya bagian itu yang menarik baginya?" batin Puspa
"Bismillahirrahmanirrahim."
"Eh?" Puspa kebingungan karena Arga mengucap Basmalah.
Perlahan ciuman di kening Puspa turun ke hidung, lalu beralih ke kedua mata Puspa secara bergantian.
"Lah, kok?"
Puspa menggigit bibir bawahnya karena gerogi.
"Jangan di gigit seperti itu," dengan suara pelan dan berat. Nafas mereka saling beradu.
"Eeee anu-"
Mata Puspa membulat saat bib*ir Arga menempel dengan bib*irnya.
'Aneh, kenyal, hangat dan lembut' itu yang Puspa rasakan. Jantung Puspa serasa berhenti berdetak, Arga memejamkan mata perlahan sambil terus menempelkan bib*irnya. Badan mereka berdua kaku namun Arga tetap berusaha mengontrol dirinya. Arga menggenggam tangan Puspa lalu membuka mata perlahan.
"Aku harus bagaimana?!" batin Puspa
Perlahan-lahan Arga membuka mulutnya dengan posisi bi*bir mereka masih menempel.
__ADS_1