
***
Arga merebahkan dirinya di sofa kamarnya. Menatap langit-langit kamar sambil memikirkan apa yang telah ia lakukan tadi di rumah Puspa.
"Apa yang ku lakukan?. Hhhhhh..." Arga menghela nafas panjang
"Harga diriku" imbuhnya
"Tentu saja yang ia katakan benar, tidak baik bertamu pada jam malam seperti itu"
"Tapi... Aku sepertinya merindukannya"
"Hahhhhh pulangku juga tanpa pamit, apa yang akan dia fikirkan nantinya"
"Kau payah, sangat payah, Arga"
Arga terus berbicara sendiri, hingga ketukan pintu kamarnya membuatnya berhenti mengeluh dan ia bergegas membuka pintu.
"Jesi?" Arga menatap dingin Jesi
"Abang, Jesi tau Jesi salah. Maafin Jesi, ya"
Jesi memasang muka memelas sembari menyatukan kedua tangannya.
"Hm" Arga menutup pintu kamarnya
"Abang, kalau bang Arga tidak memaafkanku, aku akan mengadukan abang pada Om dan Tante" Ancam Jesi dengan suara yang bergetar
Arga yang mendengar itu di balik pintu merasa ingin membanting Jesi.
"Apa yang akan kau adukan" Tanya Arga sinis dari dalam kamar
__ADS_1
"Bang Arga pulang malam, Om dan Tante pasti akan memarahimu" Jawab Jesi sambil mencubit lengannya supaya ia merasakan sakit.
"Aaawwss" Rintih pelan Jesi saat lengannya sedikit membiru karena ia cubit sendiri
"Kau fikir aku anak kecil? adukan saja. Ancamanmu tidak bermutu, tapi sekali aku nekad, malam ini kau akan ku tendang dari rumah ini" Ancam balik Arga
Jesi yang mendengar itu membelalakkan matanya.
"Apa ini? kenapa malah aku yang terpojok? Sial" Jesi menghentakkan kakinya
"Pergi, jangan kotori pintu kamarku!" Suara Arga menggema.
Orang Tua Arga yang sedang tertidur merasa suara Arga tadi hanyalah mimpi.
"Bang, aku ini orang terdekatmu, saudaramu" Jesi memasang suara serak-serak sambil menahan perihnya lengan yang ia cubit
Ya, setidaknya rasa sakit itu menbantu suara sedih Jesi terkesan realistis.
"Ck... Kurang ajar... Huh" Jesi membuang muka dan meninggalkan kamar Arga dengan kesal.
Bi Ina berpas-pasan dengan Jesi. Bi Ina hanya terdiam menahan tawa ketika Jesi di bentak oleh Arga.
☘☘☘
Keesokan Paginya....
Jesi menatap dirinya di depan cermin. Memoleskan lipbalm yang membuat bibirnya nampak lembab dan pink alami.
"Kalau kau Pria normal, kau tidak akan bisa menahan godaan indahnya bibirku" Jesi tersenyum licik.
Jesi sengaja mengenakan pakaian yang minim hingga menonjolkan bentuk dadanya. Saat Jesi sampai di meja makan, Arga tidak ada disitu.
__ADS_1
Papa Arga yang melihat penampilan Jesi langsung menepuk jidatnya. Begitupun dengan Mama Arga yang langsung memasang muka tidak enak.
"Jesi, kekurangan kain?" Tanya Papa Arga
Sekali lagi, Bi Ina yang meletakkan piring makanan terligat menahan tawanya. Dan Jesi memberikan tatapan mematikan untuknya.
"Tidak, Om. Ini trend anak muda masa kini, Om" Jesi duduk di kursi
"Sayang, ganti baju dulu. Tidak sopan" bujuk Mama Arga
"Oh, ayolah Tante. Aku tau, Tante pun mengerti selera anak muda zaman sekarang" Jesi membantahnya
"Sayang, jangan memancing emosi Tante. Cepat ganti baju" Mama Arga mulai menekan perkataannya
"Iya iya... Tapi setelah bang Arga datang ya, kumohon. Please" Jesi memasang wajah imut.
'BRAAAKK'
"Ganti baju atau lebih baik kau pergi!" Papa Arga memukul meja dan membuat air di gelas tumpah.
"Tapi, Om..."
"JESI!!"
"Papa, jangan terlalu kasar..." Mama Arga mencoba menenangkan suaminya itu
Dengan wajah cemberut, Jesi melangkah ke kamarnya, yaaaahhh daripada di usir.
\**Misi Gagal*\*
Jesi berjalan dengan menahan emosinya. Dalam hati ia mengutuk Pamannya itu.
__ADS_1
"Berani-beraninya mengaturku!" umpat Jesi dengan suara pelan.