Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Bertahanlah!


__ADS_3

Rasa sakit di pergelangan tangannya semakin menjadi. Puspa membuka matanya, ia mengangkat perlahan tangannya yang sedang mengucurkan darah. Puspa memandangi tangan mungilnya itu,


"Maafin Puspa, Bu. Hiks" Puspa terdiam,


"Tidak, ini salah" Puspa langsung membuka matanya lebar-lebar.


Tangan kanannya menggenggam luka di pergelangan tangan kirinya dengan erat untuk mengurangi darah yang terus mengalir.


"Sssshh. Bodoh" Puspa beristighfar didalam hatinya. Ia berusaha bangun dan mencari kain untuk mengikat lukanya. Ia merasakan agak pusing.


Puspa berjalan menuju lemarinya dengan langkah sempoyongan, ia menggeleng kepalanya agar pandangannya fokus.


Disisi lain Arga memutar balik mobilnya karena dompetnya tertinggal di kamar Puspa, dan Mamanya terus saja menelfonnya.


---


Puspa mengambil kain yang sekiranya cukup di tangannya, ia mengambil baju panjang dan segera melilitkannya di lukanya.


"Ayo sedikit lagi, aku pasti bisa!" Puspa merasakan pandangannya semakin kabur.


---

__ADS_1


'Tok tok tok'.


"Puspa, buka pintunya" Arga merasa ada yang aneh. Tidak ada sahutan dari dalam.


"Apa dia budeg?" Arga mengetuk pintunya lagi dan memanggilnya lebih keras.


'Tok tok tok!'


"Puspa! buka pintunya, astagaaaa!" Arga terus mengetuk.


Puspa yang sedang melilitkan kain di tangannya hanya bisa mendengar samar-samar panggilan itu. Ia tidak bisa mengeluarkan suaranya.


Kain itu belum di ikat sempurna. Puspa memegangi pelipisnya dan mencoba memfokuskan pandangannya, tapi usahanya gagal, Puspa tidak dapat bertahan dan langsung terjatuh ke lantai.


"Puspa!" Arga melangkah dengan tergesah-gesah mendekati Puspa hingga sesuatu mengenai kakinya.


"Aarrghhh, sial" Arga mengangkat kaki kanannya, rupanya pecahan botol parfum Puspa yang terbuat dari kaca sedang mencium sepatu Arga dan sayangnya ia menembus sepatunya hingga mencium permukaan telapak kakinya.


Arga menarik pecahan kaca itu dan langsung bersiap mengangkat Puspa,


Puspa mengerjapkan matanya, samar-samar ia melihat wajah Arga. Puspa membuka mulutnya untuk bicara tapi suaranya tidak mau keluar.

__ADS_1


Arga shock melihat darah terus mengalir dari pergelangan tangan kiri Puspa. Ia segera mengikatnya dan melihat wajah Puspa yang sudah mulai pucat sayu.


Mengabaikan sakit di kakinya, Arga langsung mengangkat Puspa. Saat melewati pintu kamar, kaki Puspa malah tersangkut di gagang pintu, Arga yang sudah panik menendang pintu itu dengan keras.


(Alamat bakal di renovasi 😂).


"Bertahanlah! Kalau kau mati, awas kau!" Arga membaringkan Puspa di mobil dan langsung melajukan mobilnya.


Di sepanjang perjalanan Arga dibuat emosi dengan padatnya jalan raya. Ia tidak henti-hentinya membunyikan klakson agar di beri celah jalan.


"Sial, budeg semua!!" Arga memukul setir mobil. Puspa yang sudah tidak kuat perlahan tubuhnya melemah, Puspa pingsan karena darahnya terus keluar.


****


Disisi lain di Rumah Sakit xx, Mama Arga mondar mandir di depan kamar rawat, ia terus memandangi Jesi yang terbaring lemah di dalam.


"Hiiisshhh Arga mana sih!" Mama Arga menghentakkan kakinya, sedangkan Papa Arga hanya memutar mata, bosan


"Lagipula untuk apa sampai seperti itu, Ma? Arga juga tidak akan datang cepat" Papa Arga meraih Hp nya


"Kenapa Papa bisa berpendapat seperti itu? Papa tidak kasian sama Jesi?"

__ADS_1


"Papa hanya menyampaikan kebenaran" Papa Arga menjawab dengan santainya dan masih fokus pada Hp nya


__ADS_2