
Tidak terasa malam pun tiba. Puspa menatap pantulan dirinya di depan cermin. Seperti niat tidak niat Puspa ikut Dinner bersama Ilham. Baju yang ia kenakan biasa saja, sama sekali tidak ada semangat dalam dirinya.
Sesekali ia melihat layar Hp, Hanya berisikan chating Ilham yang mengatakan akan menjemputnya 10 menit lagi
Puspa memanyunkan bibirnya
"Jadi ikut apa tidak?" Puspa menghirup nafas dalam-dalam.
Saat merapihkan rambutnya yang di kuncir, Puspa melihat rambutnya ada yang bercabang. Segera ia mengambil gunting untuk memotong rambut bercabang itu.
(kalau bisnis mah enak ya kalau bercabang).
Setelah memotong rambut pengganggu itu, Puspa memandangi gunting yang ia pegang.
Seketika terlintas ingatan saat ia melihat Ibunya tewas dengan kondisi tubuh yang tertancap gunting. Puspa menggigit bibir bawahnya
"Ibu... Puspa sendirian" Spontan Puspa memeluk gunting yang tidak lain adalah bekas gunting yang telah membuat Ibunya tewas.
Puspa menyeka air matanya saat klakson mobil terdengar dari luar rumah. Puspa melihat dari jendela kamarnya, dan ternyata Ilham sudah datang.
Terlihat Ilham mengatur nafasnya dan juga menata kembali rambutnya.
"Jadi ikut tidak, ya?" Puspa menggenggam erat gunting itu.
Ilham mengetuk pintu rumah Puspa
"Huufftt... Oke ikut. Ini salahmu dengan mudah mengiyakan ajakannya." Puspa meraih tas jalannya, tapi ia lupa memasukkan Hp ke dalam tas nya.
Saat pintu terbuka, Ilham terkejut melihat Puspa.
Puspa tidak terlihat seperti orang yang akan Dinner pada umumnya.
"Kenapa?" Puspa bertanya pada Ilham yang sedari tadi menatapnya
"Eh itu.. Tidak tidak.. Sudah siap?" Ilham kikuk.
"Siap untuk?"
__ADS_1
"Ayolah... Kenapa perempuan seribet ini." Batin Ilham
"Untuk menikah. Hehehe" Ucap Ilham di sertai cengiran
"Konyol. Hihihi." Puspa langsung menutup pintu dan berjalan ke arah mobil. Tanpa Puspa sadari, raut wajah Ilham telah berubah. Yang tadinya Happy jadi sedikit murung
"Konyol?"
Puspa baru sadar atas apa yang ia katakan.
"Aduh... Kenapa mulutku ini." Puspa tidak berani membalikkan badan ke belakang menghafap Ilham.
Ilham menarik nafas dalam-dalam, mencoba positif thingking. Mungkin Puspa hanya bercanda. Itu yang difikirkan Ilham.
Ilham membukakan pintu mobil bagian depan.
"Duduk di depan?" Tanya Puspa polos
"Tentu saja... Apa iya aku membiarkan calon istriku duduk di belakang sendirian. Ya walau tau, mobil ini hanya mobil sewaan, tapi bukan berarti kamu tidak boleh duduk di depan." Ilham tersenyum
Hati Puspa terenyuh.
Saat di perjalanan, Ilham menyalakan musik romantis, tapi Puspa malah ingin cepat-cepat pulang.
"Ehem" Ilham berdehem
"Eh kenapa?" Puspa membetulkan posisi duduknya
"Apa yang sedang ada di fikiranmu?" Tanya Ilham dengan santai
"Pulang" Spontan Puspa menjawabnya.
Jawaban itu cukup membuat Ilham mengerem secara mendadak. Beruntungnya, jalanan tidak terlalu ramai jadi tidak sampai terjadi kecelakaan.
"Emm maksudnya... Bisakah kita lebih cepat? aku tidak mau pulang terlalu larut karena besok aku harus bekerja" Puspa memainkan jarinya karena gugup.
"Oouuhhh yaa.. Baiklah... Jangan melamun seperti itu.. Nanti cantiknya luntur" Goda Ilham . Puspa hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
Puspa meraih tas nya berniat mengambil Hp,
"Eh, Hp ku" Ilham menoleh
"Kenapa Hp mu?" Tanya Ilham heran
"Tertinggal di rumah... Bisakah kita kembali ke rumahku dulu? Aku meninggalkannya di kamar" Jawab Puspa. Ia agak panik, tapi ia juga tidak mengerti kenapa dirinya secemas itu.
"Yakin?? Sudah setengah perjalanan loh" Ilham berfikir kembali karena ia tidak ingin pulang larut
"Yakin. Atau kita batalkan saja?" Puspa agak bersemangat mengucapkan itu. Berbeda dengan Ilham yang hatinya kembali merasakan sakit.
Puspa menutup mulutnya.
"Maksudku, kita bisa makan di rumahku saja."
Ilham lagi-lagi menarik nafas dalam-dalam. Ia meminggirkan mobilnya di tepi jalan. Puspa terkejut.
"Ilham... Sepi loh disini. Lagipula kita mau kemana sih. Ayo ih putar balik" Puspa sedikit merinding karena hanya ada 1 atau 2 kendaraan saja yang berlalu lalang.
Ilham mengabaikan itu, Ia menatap Puspa. Puspa menelan ludah saat pandangan Ilham seperti akan memangsanya.
Ilham mendekatkan dirinya dan Puspa memundurkan tubuhnya hingga mentok di pintu
"Il-Ilham.. Heii..." Puspa melambaikan kedua tangannya di depan wajah Ilham
"He-hei... Lepaskan.. Ilham kau kenapa?" Pekik Puspa saat tangan kanannya yang melambai tadi langsung di pegang Ilham dan di tekan ke paha Ilham.
Okey seketika fikiran Puspa langsung menuju ehem ...
"Ilham.. Lepaskan..." Ilham tidak menggubrisnya. Ia terus mendekatkan wajahnya ke hadapan wajah Puspa.
Puspa berkeringat dingin. Ia melirik ke luar tapi sepi. Percuma jika ia berteriak.
Tangan Puspa terus memberontak dan berusaha lepas dari cekalan Ilham.
Semakin dekat dan semakin dekat, Ilham menghentikan aksinya saat jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa cm saja.
__ADS_1
Puspa menelan ludahnya.
"Ilham... Kau-"