Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Tamparan Untuk Mama Arga


__ADS_3

🍀🍀🍀


Jam menunjukkan pukul 5 sore, Arga berbegas pulang untuk mandi. Ia meminta 1 suster untuk menjaga Puspa selagi Arga pulang


"Jaga dia baik-baik, nanti akan kuberikan imbalan" ucap Arga


Suster itu mengangguk.


Arga menghentikan langkahnya di depan pintu, ia membalikkan badan memandangi Puspa


Arga menarik nafas dengan berat


"Maaf" lirih


Arga melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Suster itu dengan Puspa


Sesampainya di rumah, Arga disambut hangat oleh Mamanya


"Anak Mama, sudah makan belum?" Arga membalas pelukan Mama nya


"Sudah. Arga buru-buru" Arga melepas pelukannya dan menaiki anak tangga menuju kamarnya


Mama Arga merasa sedih. Ia bergegas ke dapur untuk memasak


"Nyonya?" Bi Ina yang kebetulan akan ke dapur terkejut melihat majikannya sedang memasak


"Kenapa?" sahut Mama Arga


"Kenapa Nyonya di dapur? Biarkan saya yang melakukannya"


"Tidak apa-apa. Sekali-kali kan. Aku sudah lama tidak masak untuk Puteraku" Bi Ina menghentikan langkahnya untuk memasuki dapur


"Tapi Nyonya nanti kalau di lihat Tuan Besar pasti kami akan kena marah"


"Tidak, katakan padanya aku yang ingin melakukannya sendiri. Dan lagipula dia tidak akan pulang di jam ini" Mama Arga mengambil satu butir telur setelah meletakkan nasi di piring


"Baik, Nyonya" Bi Ina tetap berdiri mengawasi majikannya itu


****


Usai membersihkan diri, Arga bergegas menuju Rumah Sakit lagi.


Arga terdiam saat akan membuka pintu kamarnya, ia menatap ke arah kamar mandinya. Ia teringat momen Puspa saat masih bekerja di sini. Saat Puspa menunggu di luar kamar Arga demi mendapatkan maaf Arga


"Tuan.." Puspa mengucek matanya.


Makin di kucek makin buram pandangannya.


"Tuan Muda sudah bangun? Tolong maafkan aku... Hiksss"


'Ini benar mimpi saja.. Pandanganku kabur seperti ini'


Tidak mendapat respon, Puspa meraih tangan Arga dan menggenggam erat.

__ADS_1


"Tuan Muda aku tidak bermaksud begitu. Hikss maafkan akuu" Tanpa sadar Puspa mencium tangan Arga


Arga mengalami Blushing


Pipinya memanas dan muncul semburat merah tipis saat Puspa mencium tangannya.


"Ehm. Bangun. Lakukan pekerjaanmu" Arga berusaha cool.


Puspa sadar dan langsung melepas genggamannya.


Arga heran melihat Puspa yang terus mengedipkan matanya.


'Ayo bangun Puspa.. Bangun' Puspa terus menganggap itu adalah di alam mimpi


"Berdirilah Puspa" Puspa menurut berdiri


'Apa ini.. Mimpi aneh'


Arga menuntun Puspa masuk ke kamarnya lalu menuju kamar mandi. Ia menuntun Puspa berdiri di bawah shower.. Daannn..


Wwuuuurshhhhhh


Tetesan air yang deras mengalir dari shower. Puspa menganga di sertai rasa terkejut yang uwow.


Puspa menghentakkan kakinya berulang kali.


Lama-kelamaan pandangannya sudah jernih kembali. Puspa mengusap matanya dan memperhatikan sekelilingnya.. Ia menengok ke atas dan air masuk ke matanya


"Segar tidak?" Arga berdiri bersender di pintu


Puspa terbelalak.


"Eh apa ini mimpi?" Tanya Puspa.


"Mimpi apa? Keluar dari kamar mandiku. Sekarang!" Puspa terkejut dan tersadar 100%.


Ia langsung keluar.. Namun saat di pintu, Tangan Arga menghalanginya.


"Pakai handuk dulu. Kau akan membasahi lantai kamarku"


"Kalau begitu Tuan Muda keluar dulu.."


"Heh ini kamar mandi siapa?"


Puspa memainkan jari-jarinya.


Arga menyerahkan handuknya di muka Puspa dan keluar dari kamarnya sambil senyum.


"Majikan sinting" umpat Puspa


Arga tersenyum tipis mengingat hal itu, ia merindukan kehadiran Puspa dirumahnya.


Arga mulai menyiapkan mentalnya untuk mengatakan perasaannya kepada Puspa. Ia mendadak panas dingin dan gugup padahal masih belum bertemu dengan Puspa.

__ADS_1


"Mungkin dia akan menolakku?" Arga berasumsi Puspa akan menolaknya, mengingat perlakuan tidak baiknya kepada Puspa baik dari dirinya sendiri maupun perlakuan Mama nya


Arga menggeleng-geleng kepalanya


"Apa aku serius dengan perasaan ini? Tidak-tidak. Kau tidak memiliki perasaan selain kasihan kepadanya" Arga mulai bimbang


Arga menyentuh dadanya yang merasakan detak jantungnya berpacu dengan cepat.


" Apa ini?" gumam Arga.


Arga keluar dari kamarnya setelah menenangkan hatinya.


"Arga!" Panggil Mamanya dari ruang makan. Arga yang mendengar itu berjalan menuju ruang makan


"Hmm??"


"Mau kemana lagi?" tanya Mama Arga yang melihat Arga rapi lagi


"Puspa" jawab Arga enteng. Amarah Mamanya rasanya akan memuncak mendengar nama itu


"Mau apa lagi? Kau punya kehidupan sendiri"


"Dia terluka lagi karena ulahku" bathin Arga. Arga menyesal karena mengibas tangan Puspa dengan kerasnya, ia dikuasai amarahnya terhadap Ilham


"..." Arga tidak menjawab


"Mama sudah membuatkanmu makanan, kau akan mencampakkan jeri payahku demi menemui perempuan itu?" Mama Arga tidak terima


"Bi Ina" panggil Arga. Bi Ina mendekat


"Letakkan di kotak makanan, biar kubawa saja. Ku tunggu di mobil"


"Baik" Bi Ina mengambil sepiring makanan untuk Arga dan membawanya ke dapur


Mama Arga yang mendengar itu ingin langsung mengepalkan tangannya


"Kau" Mama Arga merasa suaranya tercekat


"Maafkan Arga, Ma. Tapi Mama sudah keterlaluan padahal kalian sesama perempuan"


Mama Arga tersentak, kepalan tangannya melonggar


"Kebencian Mama tidak akan menghasilkan sesuatu yang positif dan akan merugikan kedua belah pihak" imbuh Arga.


"Arga berangkat" Arga meninggalkan Mama nya yang terdiam karena ucapannya


Mama Arga merasakan hatinya tertusuk pisau mendengar apa yang di ucapkan Arga, itu merupakan tamparan baginya


Bi Ina sedikit menunduk saat melewati Mama Arga dan membawa kotak makanan yang diminta Arga


Mama Arga menarik nafas berat dan air matanya mulai membendung. Ia meremas pakainnya.


"Arga" lirihnya

__ADS_1


__ADS_2