
Puspa yang merasa di jadikan pusat perhatian Arga merasa malu
"Ee. Tuan Muda. Anak tangganya masih sisa 2 lagi. Jangan kau langkahi dalam 1 langkah saja"
Arga tersadar.. Ia bersikap sok cool kembali.
"Aku sudah tau" Ucap Arga
"Ini rumahku.. Mana mungkin aku tidak tau" Elak Arga
Puspa hanya menyengir
"Mungkin hanya perasaanmu Puspa."
"Tuan Muda.. Ini makanan yang anda suka." Bi Ina mengambilkan piring
"Kau juga makan" Ucap Arga menatap Puspa
"Saya? saya sudah makan tadi sore Tuan Muda"
"Lebih pilih berhenti kerja?"
Bi Ina menyenggol tangan Puspa dan mengisyaratkan agar Puspa tidak menolak Arga
"Baiklaahhh Saya makan." Setelah mangambil nasi, Puspa membawa piringnya menuju dapur
"Mau kemana?" Tanya Arga
"Makan Tuan.."
"Hm.?" Arga masih tidak mengerti
"Apakah pantas pelayan makan bersama majikan? Saya akan makan di dapur saja Tuan Muda."
"Oh"
Singkat padat jelas.
Usai makan, Arga meminta Puspa untuk mngantarkannya ke kamar. Dengan senang hati Puspa menyetujuinya.
🍀🍀🍀
"Ambilkan remote" Titah Arga.
__ADS_1
Puspa melirik remote yang sebenarnya ada di ujung kaki Arga . Arga malah sibuk selonjoran di ranjangnya.
Puspa memicingkan matanya.. Rasanya ia ingin menelan hidup-hidup majikannya ini.
Puspa mengambilkan remote tv dan menyerahkannya pada Arga. Puspa lagi-lagi duduk di sova karena tidak di izinkan keluar kamar.
"Tuan dan Nyonya kemana ya?" Gumam Puspa
"Mereka tidak pulang malam ini" Arga ternyata mendengarnya.
"Ohhh begitu.."
"Hm."
"Puspa ambil-"
'Drrtttt drrrrtttt'
Ucapan Arga terhenti saat Hp Puspa berbunyi. Ia merogoh Hp nya di saku celananya.
'🐛Bapak'
Ternyata yang menelfonnya adalah Bapaknya.
"Silahkan"
Puspa langsung menekan tombol hijau. Ia keluar dari kamar Arga
"Assalmu'alaikum, halo Pak"
"Waalaikum salam, Nak. Apa kabar? Bapak merindukanmu"
"Ahah iyakah? Ada apa Bapak menelfon Puspa? Oh iya kabar Puspa baik kok"
"Kamu belum pulang Nak? Bapak mau ngasih uang bayar sekolah"
"Puspa sudah melunasinya Pak."
"Ha? yang benar saja"(Nada terkejut)
"Benar. Puspa kan sudah bekerja. Katakan... Bapak ada apa menelfon Puspa?"
"Minggu depan resepsi Bapak dan Ibu Rina"
__ADS_1
"Cih Ibu Rina? Embel-embel Ibu untuk apa di berikan padanya? "
"Sayang... Bapak tau kamu masih marah."
"Baguslah kalau Bapak sudah tau. Ada apa dengan resepsinya Pak?"
"Bisakah kamu hadir Nak?"
"Apa aku masih di butuhkan?"
"Apa yang kamu katakan ini Puspa. Tentu sangat membahagiakan saat kamu hadir"
"Tapi wanita sialan itu tidak akan menganggap ini kebahagian."
"Puspaa.."
"Jam berapa acaranya?" Puspa meremas ujung bajunya.. Ia sangat sakit hati jika mengingat hal itu
"Jam 7 malam sayang.. Kamu bisa kan hadir 2 hari sebelum resepsi?"
"Kenapa? Bapak mau aku membantu pekerjaan disana? Tentu tidak."
"Bukan begitu Maksud Bapak"
"Jika ada waktu luang, Puspa akan kesana. Oke Pak.. Semoga bahagia bersama wanita jal*angmu... Assalamualaikum"
"Nak-" Puspa langsung mengakhiri panggilan itu.
Ia menyeka air matanya yang sudah mengalir itu.
"Puspa.. Kamu harus tegar.." Ucapnya. Puspa memperbaiki mimik wajahnya menjadi ceria.. Ia kemudian masuk ke kamar Arga lagi.
"Siapa yang menelfonmu di malam-malam beginu?" Arga fokus mengganti chanel Tv
"Bapak... Huffttt"
"Oh ku kira pacarmu"
"Saya jomblo Tuan Muda."
"Cih mengenaskan. Tidak laku."
Puspa melotot.. Tapi benar juga.. Ia kan jomblo.
__ADS_1