
🍀🍀🍀
Arga mengehentikan mobilnya di halaman dan menyuruh sopir untuk membawanya ke garasi.
"Baguss... Baguss" Mama Arga sudah berdiri di depan pintu Utama.
Puspa merinding. Nampak dengan jelas aura wajahnya yang sudah penuh amarah
"Apa sih Ma." Arga langsung masuk ke dalam Sementara Puspa masih berdiri di teras.
"Sudah lancang?" Mama Arga berjalan perlahan memutari Puspa. Puspa memainkan jarinya pertanda grogi. Ia hanya menunduk.
"Jam 9 malam baru pulang.. Bersama majikan? Berapa uang yang kamu mau." Mama Arga menatap jijik pada Puspa.
'DEG'
"Nyonya.. Anda salah faham"
"DIAM! Apa aku menyuruhmu untuk berbicara?"
Puspa mengangguk dengan badan panas dingin
"Kau ini.. Baru 1 bulan lebih bekerja di sini.. Sudah mulai lancang menggoda putra Ku, ya!. Ingat.. Kamu sama sekali tidak sepadan dengan kami."
Hati Puspa berdesir
"Kamu hanya seorang pelayan.. Sukur-sukur kamu di jadikan pelayan pribadi Putra Ku. Masih berani menggoda" Mama Arga makin tidak suka melihat Puspa mengenakan pakaian mewah.
Puspa tak kuasa menahan tangisnya lagi. Ia terisak pelan dan menahan supaya tidak mengeluarkan suara.
Arga yang merasa Puspa tidak kunjung masuk, Ia mengurungkan niatnya saat akan menaiki tangga dan kembali keluar.
"Dengar ya.. Pelayan tetaplah pelayan.. Jangan bermimpi menjadi seorang Puteri. Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan Putra Ku"
Puspa mengangguk saja.
Mama Arga melangkah masuk ke dalam dan menghentikan langkahnya saat di pintu.
"Dan asal kamu tau, Putraku itu sudah ku siapkan gadis pilihanku yang lebih baik darimu. Jangan macam-macam"
Arga bsersalipan dengan Mamanya.
"Puspa mana, Ma?"
"Arga! Tidak bisakah kau jaga jarak dengan pelayanmu itu. Kamu itu sudah mama tentukan akan menikah dengan siapa. Dan mama tidak suka kamu dekat-dekat dengan pelayan itu"
"Mama ini apa sih!. Sudah berapa kali Arga katakan.. Arga tidak mau di jodohkan. Kalau kalian berdua bersikukuh menjodohkan Arga, kalian saja yang menikah dengannya"
__ADS_1
"Arga otak kamu pasti sudah di cuci oleh pelayanmu itu"
"Cukup Ma! Arga punya hak. Jika Arga hancur setelah menikah dengan pilihan Mama, Mama lah yang akan menderita lebih parah dari aku" Arga meninggalkan Mama nya yang sudah murka itu.
"Cih. Sial" Umpat Mama Arga.
🍀🍀🍀
Puspa duduk di teras.. Memandang halaman yang luas yang juga di hiasi tanaman.
Sesekali ia menyeka air matanya.
Ia menghirup udara dengan berat.
Arga yang mendapati Puspa sedang duduk termenung dan pipi yang basah serta mata yang bengkak akibat menangis merasa iba.
Arga memasukkan tangannya ke dalam sakunya.
"Mau meratapi nasib?" Suara Arga mengejutkan Puspa
Ia langsung mengusap air matanya menggunakan sapu tangan kecilnya.
Puspa langsung berdiri dan sedikit membungkuk memberikan sebuah hormat.
"Tuan Muda." Ucap Puspa seraya sedikit membungkuk memberi hormat.
"Ada apa?" Tanya Arga.
"Apa Mama mengatakan sesuatu?" Arga menatap dalam-dalam manik mata Puspa yang sudah sembab itu
Puspa hanya menggeleng. Tapi matanya makin memerah dan mengeluarkan air mata. Puspa sudah sekuat tenaga menahannya, namun matanya tidak mau di ajak kompromi.
"Katakan apa yang Mama katakan padamu" Puspa menggeleng lagi.
Suaranya tercekat dan dadanya sakit hingga untuk bicara pun Puspa merasa suaranya akan keras dan akan mengganggu ketenangan rumah ini.
Puspa mengalihkan padangannya. Menutupi air mata yang sudah meluncur.
Arga bingung harus apa.
"Kenapa aku repot-repot membujuknya?"
"Puspa.. Kata-"
"Saya permisi." Puspa memotong ucapan Arga dan langsung masuk ke dalam rumah
🍀🍀🍀
__ADS_1
"Sebenarnya kenapa sih aku ini" Arga mengacak rambutnya. Di kepalanya selalu terlintas Puspa yang menangis.
"Aku tidak tau.. Dan aku.. Lelah" Arga menyamankan posisi tidurnya dan mulai berlayar ke alam mimpi.
****
Sementara di kamar Puspa..
Puspa baru selesai mandi. Ia memandang Pakaian yang baru saja ia kenakan. Puspa memegangnya..
"Aku.. Aku tidak pantas." Puspa mencari-cari kantong plastik di kopernya dan menemukan 1. Itu bekas kantong plastik untuk meletakkan foto-foto yang Puspa bawa dari rumahnya.
Ia mengambil kantong plastik itu dan ia melipat pakaian tadi kemudian memasukkannya ke kantong plastik.
"Aku tidak pantas" Puspa meletakkan buntilan itu ke dalam lemari.
"Hikss.. Aku tidak pantas.. Lagipula apa yang mambuatku menangis. Hikss bukankah sudah jelas aku memang tidak pantas bahkan untuk pria manapun aku tidak pantas. Hiks.. Aku hanyalah gadis mengenaskan. Hiks.. Harusnya tanpa Nyonya mengatakan itupun aku sudah harus sadar kalau aku ini tidak pantas.. Hikss" Puspa terududuk di samping ranjang.
Ia menangis sambil memeluk lututnya. Ia menangis terisak-isak sampai rasanya badannya lemas.
"Aku bukan gadis penjilat.. Bukan.. " Puspa masih terisak.
Karena lelah, Puspa perlahan-lahan terlelap dalam kondisi tersebut.
Salah satu pembantu yang lewat di depan kamar Puspa yang pintunya lupa tidak di tutup, Ia merasa bingung melihat Puspa tidur di lantai.
"Dasar.. Sudah di sediakan kasur masih memilih di lantai" Ia melanjutkan langkahnya hingga bertemu Bi Ina.
"Kenapa kamu?" Tanya Bi Ina
"Itu si pembantu baru.. Sudah di sediakan kasur masih tidur di lantai.. Tidak tau di untung"
"Hm" Bi Ina langsung menuju kamar Puspa dan menghiraukan pembantu itu.
Dan benar, sesampainya di kamar Puspa, Bi Ina melihat Puspa tertidur dalam kondisi duduk di lantai.
Ia mendekati Puspa dan mencoba membangunkannya.
Bi Ina menggoyangkan tubuh Puspa perlahan.. Namun..
'Brugh'
Tubub Puspa roboh.
Di lihatnya wajah sembab Puspa dan mata yang sudah bengkak,
"Pasti habis menangis.. Maaf.." Bi Ina sedih melihat Puspa begini.. Karena dia sudah memganggap Puspa seperti Putrinya..
__ADS_1
"Puspa.. Bangun." Bi Ina menepuk pipi Puspa.. Tapi tidak ada reaksi.
Bi Ina panik..