
🍀🍀🍀
Arga masuk ke Rumah sakit setelah mencari makanan ringan untuk mengganjal perutnya
Arga menghentikan langkahnya di depan Ibu Ilham
"Di ruangan mana dia" tanya Arga dengan nada dingin. Ibu Ilham menundukkan kepalanya
"Aku tanya lagi, dimana ruangan tempat dia dirawat" Arga memicingkan matanya
"Nak, maafkan Ilham"
"Hm, antar aku ke ruangannya"
Ibu Ilham mengangguk, ia berjalan di depan Arga menuju ruangan Ilham di rawat
"Sekali lagi, ia menanggung semua biaya Ilham" bathin Ibu Ilham.
Setelah melewati beberapa kamar, sampailah di ruang rawat Ilham. Ibu Ilham membuka pintu, ia masuk dan di ikuti Arga
Arga berdiri di samping ranjang Ilham, Ilham belum sadarkan diri. Arga hanya memandanginya dengan tatapan datar.
"Nak, itu biayanya nanti-"
"Tidak usah di fikirkan. Cukup jaga anakmu untuk tidak muncul di antara aku dan Puspa" Arga membalikkan badan, ia menghentikan langkahnya saat akan keluar dari ruang rawat Arga
"Terimakasih banyak" Ibu Ilham mengangkat kepalanya, ia tersenyum hangat pada Arga
"Jika hal ini terjadi lagi, aku akan benar-benar menghabisinya" ucap Arga. Ia keluar dan menutup pintu.
Ibu Ilham menelan ludah mendengar itu, Ibu Ilham memandangi Puteranya yang belum sadarkan diri itu
Ibu Ilham memandangi pintu ruang rawat Ilham, ia tersenyum mengingat Arga masih memberi kesempatan kepada Ilham.
"Aku tidak bisa marah kepadanya, dia baik. Hanya saja kebaikannya di bungkus dengan cara yang kasar" gumam Ibu Ilham.
"Terima kasih" lirih Ibu Ilham.
****
Arga masuk ke ruang rawat Puspa, Puspa yang melihat itu langsung menyambut Arga dengan senyuman. Puspa berusaha bangun, ia duduk bersandarkan bantal
"Kenapa senyum? Ada yang aneh?" tanya Arga dengan nada dinginnya
"Hmmmm dingin lagi" bathin Puspa
"Tidak, tidak. Anu"
"Hm" Arga duduk di samping Puspa
Mereka sama-sama terdiam. Arga menatap Puspa dengan tatapan datar, Puspa yabg merasa di perhatikan langsung salah tingkah
"Jangan memandangiku seperti itu" Puspa malu
"Itu hak ku. Ini mataku" Arga memicingkan matanya
Puspa memanyunkan bibirnya, kemudian ia menggembungkan pipinya dan menyipitkan matanya.
"Akan ku buat kau marah supaya tidak dingin dan tidak irit kata lagi" bathin Puspa
__ADS_1
Melihat hal itu, Arga merasakan jantungnya akan melompat dari tempatnya.
"Bodoh! Jangan membuat wajah imut begitu" bathin Arga menjerit.
Puspa merasa eskpresinya tidak berpengaruh pada Arga supaya mengeluarkan suara, Puspa semakin memfokuskan pandangannya pada Arga dengan raut wajah imutnya tadi. Puspa agak memajukan sedikit wajahnya. Arga menahan nafas karena gugup.
Arga membuang muka dan mengatur nafasnya. Puspa heran melihat tingkah Arga.
Puspa dapat melihat dari punggung Arga bahwa Arga sedang mengatur nafas
"Tuan, kau menahan nafas dari tadi?"
Arga tidak menjawab, ia memegangi jantungnya dan sedikit menekannya supaya tenang
"Bodoh, wajahmu jelek" ledek Arga
"Heh?" raut wajah Puspa berubah agak sedih
"Argaaa!!" pekik Arga
Setelah dirasa tenang, Arga membalikkan badannya lagi dan mengahadap Puspa. Puspa menundukkan kepalanya.
Arga heran
"Puspa?" panggil Arga.
Puspa menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tau mengapa ledekan Arga begitu menyakiti hatinya.
Puspa tidak menyahuti panggilan Arga, ia memalingkan wajahnya.
Hal itu membuat Arga semakin kebingungan.
Puspa merebahkan dirinya lagi, ia memiringkan posisi tubuhnya dan membelakangi Arga.
Sudah 20 menit Puspa membelakangi Arga, Arga mulai merasa tidak nyaman.
"Aku akan membelikanmu Ice Cream" Arga mencoba membujuk Puspa
"Cih, kau fikir aku bocah" bathin Puspa
Puspa tetap tidak menjawab Arga, ia masih membelakangi Arga.
"Ice Cream 1 truk, bagaimana?"
"Aku tidak serakus itu" bathin Puspa.
Puspa masih tidak menjawab Arga.
"Puspa, jangan kau mencoba untuk menarik perhatianku dengan melakukan hal seperti ini" Arga sudah tidak tahan dan menganggap Puspa kekanak-kanakan
Puspa masih terdiam
"Kau fikir aku akan membujukmu? Memangnya siapa dirimu" ucap Arga lagi. Ia berharap Puspa akan merespon.
Puspa yang mendengar itu langsung tersentak, ia meremas dadanya yang terasa agak nyeri
Puspa masih terdiam, ia tidak menggubris yang di katakan Arga.
"Benar, kenapa aku seperti ini? Aku bukan siapa-siapanya" bathin Puspa
__ADS_1
Puspa menahan isak tangis
"Kau kekanak-kanakan. Aku meluangkan waktuku untuk menemanimu seperti ini, dan kau hanya bisa membuatku marah"
Puspa semakin menekan dadanya lagi, ia sesekali meremasnya. Puspa tidak dapat menahan buliran air bening yang keluar dari kelopak matanya
"Kau sangat menjengkelkan. Kau fikir aku akan membujukmu seakan-akan kau istimewa" imbuh Arga
"Urus dirimu sendiri setelah ini" Arga memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Arga berjalan menuju pintu ruang rawat Puspa. Puspa yang melihat itu semakin merasa sedih
"Aku... Aku tidak tau kenapa aku seperti ini" bathin Puspa
Puspa ingin menahan Arga, tapi tidak ia lakukan karena takut Arga akan membentaknya
Arga membalikkan badannya sebelum membuka pintu, ia melihat wajah Puspa yang sudah dibasahi air mata. Puspa yang menyadari itu langsung menarik selimut sampai ke atas kepalanya
Arga yang melihat itu seketika merasa bersalah. Arga langsung menepis perasaan bersalahnya itu, ia tidak mau Puspa kekanak-kanakan seperti itu. Arga menutup pintu ruang rawat Puspa.
Arga juga langsung keluar dari Rumah Sakit, ia pulang.
Di sisi lain Puspa berharap Arga masuk kembali,
"Kumohon datanglah. Aku akan langsung minta maaf" gumam Puspa. Puspa menyeka air matanya, ia kembali duduk bersandarkan bantal lagi. Ia terus memandangi pintu itu.
5 menit berlalu,
"Tuan tidak masuk lagi. Apa dia benar-benar marah?"
"Aku tidak tau kenapa perasaanku sensitif tadi" Puspa menundukkan kepalanya
Sepi menyelimuti ruangan itu,
"Huuuffttt" Puspa membuang nafas berat. Ia melirik ke arah pintu lagi
"Sial, terasa sangat lama"
'Ceklek' Puspa langsung semangat dan mengira Arga masuk ke dalam lagi. Senyuman Puspa memudar saat yang masuk ke dalam adalah Dokter
"Eh? Kenapa? Langsung muram saat aku yang masuk" tanya Dokter itu sambil melangkah ke arah Puspa.
Puspa hanga menggelengkan kepalanya
"Aku akan memeriksa keadaanmu, kau terus saja mengalami ini itu, namun kau beruntung karena tidak terjadi hal yang membahayakan" ucap Dokter itu
"Oke, berbaringlah lagi" perintah Dokter, Puspa langsung menurutinya.
Dokter itu langsung memeriksa Puspa
"Kapan aku bisa pulang, Dokter?" tanya Puspa, ia memandangi langit-langit ruang rawatnya
"Beberapa hari lagi sudah bisa pulang, tunggulah dan sabarlah" Dokter itu tersenyum.
Puspa tidak sengaja menatap ke arah Dokter yang sedang memeriksanya itu
"Eh? Anda bukan Dokter yang kemarin?" Puspa terkejut dan baru menyadari bahwa Dokter yang menanganinya kali ini beda orang. Dokter yang menanganinya saat ini masih sangat muda dan tampan tentunya
"Yah, kau baru menyadarinya ya. Dokter yang biasa menanganimu sudah pulang, ia pun cuti beberapa hari. Jadi aku yang akan menggantikannya" jawab Dokter itu
__ADS_1
"Yaahhh Dokternya masih muda. Hebat" bathin Puspa .