
🍀🍀🍀
1 bulan berlalu, Arga pun tidak pernah memberi kabar pada Puspa, ia juga tidak pernah mengunjungi Puspa lagi. Bodyguard Arga yang memberikan sejumlah uang pada Puspa pun menolak ketika Puspa bertanya kabar Arga.
Puspa berkacak pinggang, ia bersiap ke pasar.
'Ddrrrtttt'
Puspa tersenyum lalu mengangkat telfon dari Elisa
"Eheeemmm bagaimana liburannya? Kau tiba-tiba tidak ada kabar dan sekali mengabari langsung ada di luar kota" Puspa sambil merapikan rambutnya
"Heheh maaf, ya. Aku juga diajak orang tuaku, dadakan pula. Bagaimana kabarmu sekarang? Mau oleh-oleh apa dariku?" Elisa berbohong,
"Dasar. Aku tidak mau oleh-oleh, kau pulang dengan selamat saja aku sudah bersyukur"
"Berhentilah sungkan begitu, Pus. Oh iya, kau tau? Beberapa hari lalu ada seorang pria mendekatiku"
"He'em, lalu?"
"Aku menolak untuk di dekati, dia terlihat playboy tau. Dan ya, ketika ku tanya pekerjaan ternyata dia baru lulus kuliah dan tidak bekerja. Tentu saja aku langsung menolak saat dia mengajakku makan malam"
"Lah, kenapa di tolak? Mungkin sedang cari pekerjaan kan"
"Aku tidak mau, Pus. Dia juga bukan tipeku"
"Hihihi, katanya lelah sendirian"
"Tapi jangan pengangguran juga, astaga"
Sambil berangkat jalan kaki sambil terus mengobrol dengan Elisa.
****
Baru setengah perjalanan, Puspa merasa tidak sanggup lagi. Ia langsung memesan gojek.
"Di ajak orang tuanya? Dadakan? Seperti aneh" bathin Puspa
Ia menepis fikiran negatifnya itu.
🍀🍀🍀
Saat melewati toko emas yang terkenal dengan kualitas dan pelayanan yang bernilai plus, Puspa melihat sosok Bi Ina dan 2 bodyguard Arga. Namun saat Bi Ina tidak sengaja melihat Puspa, ia langsung menjauh dari toko emas tersebut.
Puspa mengernyitkan dahinya,
"Itu Bi Ina, bukan?" gumam Puspa
"Kenapa menghindariku?"
"Pak, ke toko emas yang barusan, Pak"
"Iya, mbak"
Saat Puspa sampai di toko emas, Bi Ina dan bodyguard Arga langsung masuk mobil. Puspa berjalan dengan cepat, namun mobil tersebut sudah melaju dengan cepat
"Kenapa? Apa aku ada salah? Kenapa semua orang tiba-tiba menghindariku?"
"Apa bukan Bi Ina, ya? Tapi kan itu mobilnya Tuan Arga. Aiiisshhh aku ada salah apa, ya?" Puspa sedikit panik.
'Dddrrrttttt'
'Ddrrrttt'
__ADS_1
"Assalamualaikum, Pak. Ada apa?"
"Alhamdulillah nomermu bisa di hubungi, Bapak kira-"
"Bapak kira aku memberi nomer palsu?"
"Bisa jadi, karena kamu masih belum bisa memaafkan Bapak sepenuhnya"
"Heeemm. Ada apa memangnya, Pak?"
"Adikmu sudah lahir, Nak"
"Alhamdulillah. Sehat?"
"Hahaha sangat gembul, nanti Bapak jemput kamu ya"
"Tidak usah, Pak. Puspa tidak mau melihat wanita itu. Selamat, Pak. Sudah dulu, ya. Puspa mau belanja. Assalamualaikum"
"Eh-"
'Tut tut tut'
Puspa memutus panggilan dan melanjutkan perjalannya ke pasar
***
Sesampainya di rumah, Puspa masih terus memikirkan kenapa orang-orang terdekatnya serentak menjauhinya seperti ini. Arga yang terkadang menyebalkan pun selama 1 bulan ini tidak pernah mengubunginya
"Sebenarnya apa salahku?"
"Aku juga tidak akan ulang tahun, pastinya bukan kejutan"
Puspa mengambil sapu dan mulai menyapu dari ruangan ke ruangan.
"Aarghhhhh! Apa salahku, coba"
"Apa aku ke tempat kau bekerja saja?"
"Tidak-tidak!"
"Kalau di fikir-fikir, kehidupanku semakin kacau semenjak Bapak selingkuh, cih!"
***
20:20
Puspa membaca buku di ruang tamu, sesekali ia melirik ke Hp miliknya. Sama sekali tidak ada notifikasi chat dari siapapun
"Hmmmmm" Puspa membuat nafas kasar
Ia berniat menghubungi Arga, tapi ia malu. Masa perempuan dulu? begitulah fikirnya
Ia kembali meletakkan Hp nya,
5 menit kemudian ia memutuskan menghubungi Arga duluan
Puspa : "Tuan? Kau sibuk?"
Hanya ceklis 2 abu-abu,
3 menit berlalu, Arga terlihat online tapi tidak membuka chat Puspa
Puspa yang melihat itu merasa agak kesal
__ADS_1
Puspa : "Kau sengaja mengindariku?"
Arga online namun tidak membuka chat Puspa. Puspa menahan nafas dan merasakan dadanya sesak.
"Sepertinya aku memang punya salah, tapi apa?"
'tok tok tok'
"Iya sebentar" Puspa bergegas membuka pintu. Ia terkejut saat melihat siapa yang bertamu
"Anu? Bodyguardnya Tuan Muda?" tanya Puspa
2 orang pria dengan tubuh kekar dan seragam serba hitam ini mengangguk,
"Silahkan masuk" Puspa tersenyum dan mempersilahkan 2 bodyguard Arga masuk
Mereka masuk ke dalam rumah, salah satu dari mereka langsung menutup pintu. Puspa terdiam, dan sedikit gugup.
"Anu, silahkan duduk. Mau minum teh atau kopi?"
Bodyguard itu hanya diam dan mengangguk
"Mereka tidak bisu kan" bathin Puspa
Puspa tersenyum kikuk, ia berbalik badan dan langsung merasakan pusing saat sebuah kain ditempelkan di hidunya
"Aku kenapa? Mataku susah terbuka. Siapapun, tolong aku"
Puspa tidak sadarkan diri, salah satu bodyguard itu mengangkat tubuh Puspa, satunya lagi mengambil Hp dan tas yang berisi dompet Puspa
Mereka langsung membawa Puspa ke dalam mobil yang terletak di pinggir jalan.
"Eh itu mau dibawa kemana?" tanya salah satu tetangga Puspa
"Kami akan membawanya ke rumah sakit" jawab salah satu bodyguard itu.
"Tapi-!"
Menghiraukan tetangga Puspa, mereka langsung melajukan mobilnya ke tempat tujuan.
"Aku tidak pernah melihat orang seperti itu, apa Puspa di culik?" tentangganya itu mulai panik
***
"Bagaimana?" terdengar suara laki-laki dari seberang telfon
"Kami akan menuju lokasi, Tuan"
Telpon terputus.
Menyusuri jalanan yang ramai akan kendaraan yang berlalu lalang, lampu-lampu yang terang di sepanjang jalan, dan angin malam yang masih terasa agak panas.
40 menit berlalu, mereka telah sampai di lokasi. 2 bodyguard turun dari mobil dan salah satunya menggendong Puspa, terlihat beberapa bodyguard lainnya sudah menunggu di depan pintu masuk hotel mewah
Puspa membuka sedikit matanya, rasanya disekelilingnya berputar-putar, ditambah dengan cahaya terang
"Apa aku sudah mati?" bathin Puspa
Bodyguard yang melihat Puspa mulai membuka mata langsung membekap Puspa kembali
"Aku benar-benar akan mati" bathin Puspa.
Puspa pingsan lagi, mereka segera membawa Puspa ke kamar yang sudah di tentukan
__ADS_1