
"Mama" jawab Arga lalu menerima panggilannya
"Arga, Mamamu ada di rumah sakit. Papa tunggu disini. Papa tidak bisa membujuknya untuk di periksa, ia ingin kau disini"
"Sekarang?" tanya Arga
"Iya. Papa tunggu segera"
"Rumah Sakit yang mana?"
"Rumah Sakit XX"
"Oke"
Arga mengakhiri telfonnya
"Kenapa?" tanya Puspa yang penasaran karena Arga menyebut Rumah Sakit
"Mama ada di Rumah Sakit. Dia tidak mau di periksa tanpa kehadiranku"
Puspa terkejut dan merasa khawatir
"Kalau begitu segeralah kesana"
Melihat raut wajah Puspa yang khawatir membuat Arga bahagia karena hal itu menunjukkan Puspa tidak hanya peduli terhadapnya namun terhadap keluarganya juga
"Kita akan kesana"
"Tidak bisa, aku harus menjaga Adikku. Mamamu juga belum terlihat menerimaku. Aku takut kehadiranku akan memperkeruh keadaan"
"Tidak, selangkah lagi kau akan menjadi bagian dari kami. Jangan membantah, kita pergi kesana bersama-sama" Arga berjalan menuju kamar Puspa dan di ikuti Puspa
Arga memasukkan Hp ke dalam tas jalan Puspa serta membawa Popok bayi baru
"Eh? Kenapa kau yang repot-repot begini?" Puspa mencoba menghalangi
Arga tidak menjawab dan menenteng bawaannya. Puspa terdiam saat Arga juga menggandeng tangannya dan menariknya keluar dari rumah
Arga membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Puspa masuk ke dalam mobil di ikuti Arga.
Saat Arga akan menghidupkan mobilnya, Puspa agak tidak tenang
"Kenapa?" tanya Arga
"Anu... Kurasa ikatan rambutku kurang kencang"
"Hadap ke kiri"
"Eh?"
"Cepat"
Puspa menurut, ia memiringkan badannya ke arah kiri dan membelakangi Arga. Tak di sangka Arga membantu mengikat ulang rambut Puspa.
"Kenapa kau mau membantuku?" tanya Puspa dengan suara pelan
"Jangan menanyakan hal bodoh"
Setelah selesai Puspa memutar kembali badannya
"Terima kasih, ya" dengan senyum lebar
"Hm"
***
Arga sesekali melirik Puspa yang kelihatannya mulai kelelahan menggendong Adiknya
"Tanganmu lelah?" tanya Arga sambil fokus mengemudi
"Sedikit, tapi kita sudah hampir sampai di Rumah Sakit"
Arga menepi namun Puspa yang faham langsung menolaknya
__ADS_1
"Teruskan saja, aku masih kuat. Kau bisa menggendongnya nanti setelah kita sampai disana" ujar Puspa
"Hmmm" Arga setuju
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di Rumah Sakit. Arga turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Puspa
Tanpa bicara, Arga mencoba mengambil alih Adik Puspa dari gendongan Puspa
"Tidak, kita ke dalam dulu. Mamamu lebih penting"
Arga menghela nafas dan menuruti perkataan Puspa, mereka berjalan menuju ruang rawat Mama Arga
Di koridor mereka berpapasan dengan Andre
"Eh, Puspa!" Andre terkejut sekaligus senang melihat Puspa
"Dokter Andre, selamat malam" sapa Puspa dengan ramah
"Selamat malam juga. Sedang ada urusan apa?"
"Calon mertuaku ada disini, Dokter"
'Doorrr!!!'
Andre terdiam mendengar jawaban Puspa
"Mertua?" tanya Andre untuk memastikan
"Benar, Dokter. Oh iya, kami buru-buru. Sampai jumpa" Puspa mengakhiri obrolan mereka dan melanjutkan langkahnya
"O-Oh, baiklah. Sampai jumpa" balas Andre saat Puspa dan Arga sudah agak jauh darinya
"Hm!" Arga terlihat tidak senang
"Ada apa?" tanya Puspa
Arga tidak menjawab, ia hanya mengepalkan tangannya. Puspa kebingungan melihat sikap Arga
"Arga" Papa Arga berdiri dari kursi dan juga sudah ada Dokter disitu
"Masuklah" sahut Mamanya dari dalam
Arga pun masuk ke dalam bersama Dokter yang akan memeriksanya kembali. Puspa berdiri di depan pintu kamar rawat Mama Arga
"Duduklah"
"Iya, Tuan"
"Lah masih memanggilku Tuan?"
"Ah maaf, maaf"
Puspa duduk di samping Papa Arga
"Ma"
"Arga, hiksss" Mama Arga merentangkan tangannya meminta pelukan dari Puteranya
Arga memeluk Mama nya dan membantu Mamanya untuk berbaring
"Dokter, silahkan periksa Mama saya"
"Baik"
Dokter pun melaksanakan tugasnya. Arga duduk di samping Mamanya dan tangannya terus di genggam Mamanya
"Ma, lain kali tidak boleh seperti ini"
Mama Arga tidak menjawabnya, ia terus menatap langit-langit dan meneteskan air mata
"Mama hanya ingin di dekatmu"
Arga tidak menjawabnya
__ADS_1
"Apakah Arga tadi sedang bersamamu?" tanya Papa Arga
"Benar. Kami baru saja selesai makan malam"
"Ooohh.. Oh iya, bayi ini tidak terasa asing bagiku?"
"Oh iya, ini Adik saya"
"Ooooohhh iya iya aku ingat, ini anaknya Dion dengan wanita itu ya" Papa Arga mengelus kepala Adik Puspa yang terlelap
"Hehe, iya. Bapak menitipkannya karena ada masalah di rumahnya"
"Kau mengalami kesulitan tidak?"
"Iya, merawat bayi tidak mudah. Saya harus kekurangan jam tidur serta kesusahan untuk melakukan aktivitas. Saya panik kalau Adik saya menangis"
"Dulu aku juga ikut membantu mengurus Arga, itu sangat melelahkan. Aku salut pada Mamanya yang perjuangannya lebih besar dariku. Arga sering bangun di tengah malam dan terus menangis, Mamanya baru bisa istirahat saat menjelang pagi hari. Semua rasa lelah kami terbayar saat melihat Arga tumbuh besar dan menjadi anak yang sehat serta aktif"
Puspa tersenyum mendengar cerita Papa Arga
"Ehem, dan kami sekarang ingin cepat-cepat punya cucu"
Puspa salting dan tersipu malu mendengar ucapan Papa Arga
"Anu.."
"Jangan malu begitu"
"Huuwaaaa malunyaaaaa!" batin Puspa
"Aku ingin menggendong Adikmu, tanganku sudah rindu akan kehadiran bayi"
Puspa mengangguk, dengan gemetar ia memindahkan Adiknya ke gendongan Papa Arga
Adik Puspa tetap terlelap dan itu membuat Puspa tenang
🍀🍀🍀
"Calon mertua? Bayi?" Andre patah hati, ia mengusap kasar wajahnya dan terus memikirkan apa maksud perkataan Puspa
"Tunggu! Apa laki-laki tadi itu calon suaminya?"
"Aaarghh! Aku kalah cepat" Andre duduk di kursinya
Ia menatap langit-langit ruangannya
"Aku tidak mengerti kenapa hidupku harus seperti ini" gumamnya
****
Dokter keluar dari kamar rawat Mamanya dan mengatakan Mama Arga baik-baik saja, ia hanya stress dan pola makannya yang tidak teratur
Papa Arga mengajak Puspa masuk ke dalam, awalnya Puspa menolak namun dengan sedikit paksaan atas dasar 'Calon Mertua' , Puspa pun ikut masuk ke dalam
Arga dan Mamanya menoleh ke arah Papa dan Puspa
Puspa menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan
"Bayi siapa?" tanya Mama Arga melihat Suaminya menggendong bayi
"Anak bungsunya Dion dengan istri barunya"
Melihat Suaminya yang menggendong bayi, mengingatkan dirinya pada Arga saat masih bayi, dalam lubuk hatinya ia pun ingin menggendong Adik Puspa
"Nyonya, saya minta maaf kalau kehadiran Puspa membuat anda stress" ucap Puspa sambil menundukkan kepalanya
"Y-Ya, tidak masalah"
Puspa mendongakkan kepalanya dengan raut wajah tidak percaya, Mama Arga akhirnya mau bicara dengannya. Papa Arga tersenyum tipis melihatnya.
🍀🍀🍀
Yuli sesekali menguap, ia pun tetap mengemudikan mobilnya walau ia sudah kelelahan dan mengantuk, ia ingin cepat-cepat bertemu dengan Andre
__ADS_1
"Andre..."
Saat Yuli terus memikirkan Andre, Andre justru sedang patah hati karena Puspa