
🍀🍀🍀
Arga berjalan mendekati Puspa
"Tuan? Pagi sekali" ucap Puspa. Arga tidak menjawabnya, ia mengambil kursi dan duduk di samping Puspa
"Sudah hampir jam 9" balas Arga
"Dia selalu menemaniku disini, apakah dia tidak bosan? Tidak ada keinginan beraktivitas atau bekerja?" bathin Puspa
Mereka saling menatap tanpa mengucap sepatah kata.
'Krrukk Krukk'
"Eemmm Tuan, sepertinya kau lapar"
"Tidak" elak Arga
"Yakin?"
Arga hanya menganggukkan kepalanya
'Krukkk Krukk' perut Arga berbunyi lagi.
"Sial"
"Apa kau sudah sarapan?" tanya Arga
"Belum, aku tadi masih tidur. Tapi makanannya sudah ada disini. Nanti ku makan sendiri" Puspa menunjuk makanan dari Rumah Sakit yang ada di meja di samping ranjangnya
"Ini sudah lewat jam sarapan. Makanlah, aku keluar dulu" Arga berdiri
"Aku tidak lapar, Tuan"
"Makan atau ku bunuh" Arga memicingkan matanya
"Aku bahkan tidak selera makan hanya dengan melihat makananya" gumam Puspa
"Yaah yaah baiklah. Akan ku makan nanti"
"Bagus, aku keluar sebentar. Aku akan meminta Suster untuk mengawasimu saat sarapan" Arga keluar dari ruang rawat Puspa
Puspa menepuk dahinya sendiri
***
Arga pergi keluar untuk mencari sarapan, sebenarnya ia ingin menyuapi Puspa, hanya saja atas nama harga diri ia malu melakukan itu
***
Disisi lain, Ilham sudah sadarkan diri. Ia melihat Ibunya yang tengah memandanginya
"Alhamdulillah, kau membuat Ibumu ini khawatir" Ibu Ilham tersenyum lega, Ilham hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Ibunya
Ilham menatap langit-langit kamar rawatnya itu
"*Lagi-lagi berakhir di Rumah Sakit, hhhh." bathin Ilham
__ADS_1
"Dan aku kalah darinya*"
"Ibu akan pergi memanggil Dokter dulu" Ilham mengangguk pelan.
Ibu Ilham bergegas memanggil Dokter. Ilham merasa hatinya di gelitik melihat perasaan Ibunya yang panik dan lega sekaligus
"Dia bukan tandinganku, tapi aku juga tidak mau Puspa jatuh ke pelukan Pria lain selain aku"
"Aku gegabah, harusnya ku susun rencana yang menguntungkanku"
Ilham tiba-tiba teringat Jesi
"Perempuan itu, mungkin dia bisa membantuku. Tapi bagaimana caranya aku menghubunginya? Tapi bagaimana jika itu melukai Puspa?"
Ilham memejamkan matanya, ia memikirkan cara agar bisa mengalahkan Arga.
🍀🍀🍀
"Tuan, apakah ini tidak merepotkanmu?" tanya Puspa. Arga membawa Puspa berkeliling di halaman belakang Rumah Sakit menggunakan kursi roda
"Tidak"
Puspa tersenyum tipis
"Maaf, aku banyak menyusahkanmu selama ini" Puspa meremas ujung pakaiannya
"Hm" balas Arga
"Ckck, kau tau? Aku sangat ingin memukulmu saat kau dingin seperti itu, Tuan. Aku berbicara panjang lebar dan kau hanya menyahut dengan 'Hm, Hm, Hm' atau bahkan hanya menjawab singkat. Kau terlalu dingin kepada orang lain. Lihat saja, di usiamu saat ini kau masih sendirian kemana-mana, kan? Kau terlalu dingin, tidak terbuka pada orang lain, kau bahkan dingin terhadap keluargamu sendiri" Puspa mengeluarkan unek-uneknya sampai ekspresi wajahnya terlihat kesal
Arga hanya diam saja, ia tersenyum tipis
Arga berhenti di taman yang ada di halaman tersebut,
Puspa berhenti mengoceh saat Arga berhenti melangkah. Puspa membulatkan matanya saat di hadapannya terdapat beberapa jenis bunga yang sedang bermekaran
"Indahnya" lirih Puspa
"Akhirnya mulutnya berhenti nengoceh. Membuat telingaku lelah mendengarnya" bathin Arga.
Namun meski begitu, Arga mendapat kesenangan tersendiri saat Puspa sudah tidak membatasi dirinya dengan Arga, yang Artinya Puspa tidak lagi kaku.
Pandangan Puspa tertuju pada tanaman bunga mawar, Arga yang menyadari itu segera mendorong kursi roda mendekati bunga mawar tersebut
"Cantiknya" puji Puspa
"Kau suka?" tanya Arga, Puspa spontan mengangguk mengiyakan pertanyaan Puspa
Puspa menyentuh kelopak bunga mawar itu
"Tuan, bolehkah bunga disini di petik?" tanya Puspa. Ia mendekatkan wajahnya dan menyentuh bunga mawar itu dengan pipinya
"Sebaikanya jangan merusak apapun disini. Cari di tempat lain saja" jawab Arga
__ADS_1
Puspa yang mendengar itu langsung mengerucutkan bibirnya
"Hmmmm. Padahal aku sangat ingin memetiknya"
"Puspa, kau terlalu manja" tegur Arga
"Maaf" Puspa melepas bunga mawar itu. Arga membawa Puspa untuk melihat bunga kainnya dari dekat
Puspa tidak bisa mengontrol emosinya, ia merasa apa yang Arga katakan tadi benar. Ia terlalu manja dan bukan seperti dirinya yang biasanya
"Waaahhhhh cantik-cantik bunganya. Apa tidak sayang ya di tanam disini?" Puspa menyentuh setiap bunga yang ia lewati
Puspa terlihat gembira saat tangannya menyentuh satu persatu bunga disana, Arga ikut senang saat melihat Puspa seperti ini.
"Yaaahh sejujurnya aku juga bosan saat menemaninya hanya duduk, diam dan bertengkar" bathin Arga
"Tuan, aku mau duduk di rumput" pinta Puspa
"Kotor"
"Kumohon" Puspa memelas. Arga yang malas berdebat langsung menggendong Puspa lalu mendudukkannya di rumput
"Kau curi-curi kesempatan. Bilang saja ingin ku gendong" goda Arga lagi
"Ha? Enak saja. Aku tidak berfikiran seperti itu" Puspa memalingkan wajahnya.
Arga ikut duduk di samping Puspa, mereka berdua memandangi tanaman bunga yang mengelilingi taman mini itu.
"Ibu, Joni. Bukankan menurut kalian bunga disini indah-indah?" bathin Puspa. Puspa menarik nafas dalam-dalam.
"Bunga apa yang kau sukai?" tanya Arga tiba-tiba
"Ha? Bunga kesukaanku? Semuanya aku suka"
"Semua?" Arga memastikan. Puspa mengangguk
"Eemm sepertinya Bunga Desa juga menarik perhatianmu?" Arga mencoba menggoda Puspa lagi
"Pengecualian untuk itu" ucap Puspa
"Kenapa?"
"Bagaimana jika suamiku kelak juga terpikat pada Bunga Desa?" Puspa balik bertanya
"Itu nasibmu dapat suami yang seperti itu. Bagaimana jika dirimu sendiri adalah Bunga Desa, hem?"
"Pppfffttt" Puspa menahan tawanya
" Bunga Desa? Aku? Mana ada Bunga Desa sepertiku. Aku di bawah rata-rata standar kecantikan"
"Benar juga, kau kan jelek"
Puspa menyipitkan matanya mendengar Arga mengatakan itu
"Kau fikir dirimu tampan?"
"Oh tentu! Tampan, kaya, di gilai banyak gadis" jawab Arga dengan percaya diri
__ADS_1
"Tapi jomblo, hihi"
Arga merasa mendapat satu pukulan keras