
🍀🍀🍀
Suasana hati Bapak Puspa semakin tidak enak, ia langsung bergegas menuju rumah Rina.
'Ceklek'
Bapak Rina masuk ke dalam rumah dan tidak ada sambutan.
"Rina," panggilnya.
"..." tidak ada sahutan. Ia berjalan ke kamar dan membuka pintu perlahan. Ia terkejut melihat Rina meletakkan bayinya di lantai.
"Rina! Apa yang kau lakukan?!" Bapak Puspa langsung menggengdong bayinya.
Ia semakin panik karena tubuh bayinya dingin, ia tak lagi melihat hembusan nafas lagi dari bayinya.
"Rina..."
"Apa sih, Mas. Dia itu kepanasan, jadi aku letakkan di lantai," Rina berdiri di dekat suaminya sambil memandangi bayinya dengan senyum lebar.
Air mata mengalir dari kelopak mata Bapak Puspa, ia memeluk erat bayinya yang sudah tidak bernafas.
"Mas?" perlahan senyum Rina memudar melihat suaminya menangis.
"Apa yang terjadi, apa yang terjadi?!"
"Mas? Kenapa?"
Bapak Rina menoleh dengan tatapan sinis dan mata yang sudah memerah.
"Apa yang kau lakukan pada anakku, hah? Seharusnya kau membiarkan aku membawanya saja semalam. Jika aku membawanya maka ia pasti masih hidup,"
"Mas, apa yang kau bicarakan? Anak kita ini hanya tertidur pulas."
"Kau gila, Rina. Gila!"
***
"Assalamu'alaikum, Pak?"
"Wa'alaikum salam. Nak, kemarilah. Ada yang ingin Bapak sampaikan,"
"Ada apa, Pak? Bapak kenapa?" Puspa meletakkan selimut yang mau ia lipat.
"Kemarilah."
"Puspa akan meminta izin dulu ke suami Puspa."
__ADS_1
"Iya,"
Puspa menutup telfon dan berjalan menuju ruang kerja Arga.
'Tok tok tok'
"Masuk," sahut Arga dari dalam. Ia mematikan laptopnya saat melihat Puspa yang datang.
"Anu, maaf... Apa aku mengganggu?" sambil menutup pintu.
"Tidak. Ada sesuatu?"
"Aku minta izin untuk ke rumah Bapak di Istrinya. Tadi Bapak menelfonku,"
"Oh. Aku akan mengantarmu," Arga berdiri.
"Eee tidak usah. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu, aku akan memesan taxi atau lainnya."
Arga menarik tangan Puspa dan keluar dari ruang kerja Arga.
"Sudah ada aku." ucap Arga.
"Pekerjaanmu?"
"Tidak perlu kau fikirkan."
Puspa tersenyum, ia spontan memeluk lengan Arga.
"Hm, ku tunggu di mobil,"
Puspa mengambil tas dan langsung menyusul Arga yang sudah stay di mobilnya.
***
Sesampainya di lokasi Arga dan Puspa dibuat bingung karena banyak orang di rumah itu, ada juga bendera kuning.
"Ada apa ini?" gumam Puspa.
Mereka langsung masuk ke dalam rumah dan menjadi pusat perhatian orang-orang disana. Mereka semakin di kejutkan dengan Bapak Puspa dan lainnya sedang mengkafani mayat kecil nan mungil yang tak lain adalah adiknya. Puspa menutup mulutnya, air matanya berlinang. Arga langsung menarik Puspa ke dalam pelukan dan membiarkan Puspa menangis dalam pelukannya. Arga mengelus rambut Puspa dan menciumnya.
***
Di pemakaman~
Satu persatu orang yang ikut mengantar jenazah ke pemakaman pulang, tinggal Bapak Puspa, Puspa dan Arga yang masih di makam adik Puspa.
"Maaf Bapak tidak bisa memberitahumu tadi,"
__ADS_1
Puspa yang masih sesenggukan hanya bisa menganggukkan kepala.
"Terima kasih karena kalian telah hadir dan ikut mengantarnya," lanjutnya
Mereka bertiga pun kembali ke rumah Bapak Puspa.
"Puspa tidak melihat Istri Bapak, apa dia kabur?" tanya Puspa.
Bapak Puspa tidak menjawabnya, ia langsung membawa Arga dan Puspa masuk ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Puspa dan Arga dikejutkan oleh Rina yang sedang menimang-nimang bantal guling.
"Pak?"
"Bapak tidak tau apa yang terjadi semalam."
Bapak Puspa menjelaskan bahwa semalam mereka ribut dan ia pergi dari rumah ini. Ia pun sudah akan membawa adik Puspa namun Rina menolaknya. Melihat kedatangan Puspa dan Arga membuat Rina murka, ia langsung melempar guling di gendongannya.
"Mau apa kalian kesini? Mau mengacaukan hidupku lagi, hah?!"
"Anakku mati, hiksss. Anakku matiii! Hahahah!"
Puspa merasa kasihan pada Rina.
"Cuih!" Rina meludahi Puspa
Arga tidak terima, ia langsung meraih leher Rina dan mencekiknya. Puspa dan Bapaknya langsung berusaha melepas cekikan Arga.
"Arga, berhenti!"
"Nak, berhenti nak. Dia bisa mati."
"Beraninya kau mengotori Istriku dengan ludah najismu itu! Kau bosan hidup, hah?!"
Rina kesulitan bernafas, ia membulatkan mata saat melihat wajah Arga perlahan menyerupai Ibu Puspa dan ia tersenyum padanya. Rina memborantak dan berusaha melepaskan diri, ia ketakutan karena perlahan wajah di depannya mengeluarkan darah dari sudut kedua matanya.
"Arga, tolong lepaskan dia." Puspa menarik lengan Arga
Bapak Puspa berusaha melepas cekikan Arga yang begitu kencang.
"Dia tidak sadar, Arga!" mendengar ucapan Puspa tersebut membuat Arga mengendorkan cekikannya lalu melepaskannya.
Rina langsung berlari ke pojok kamar dan meringkuk ketakutan. Arga mengatur kembali emosinya, lalu ia menarik Puspa.
"Mana kamar mandinya?" tanya Arga dengan masih emosi yang reda total.
Ia membawa Puspa ke kamar mandi sesuai arahan petunjuk Bapak Puspa. Sesampainya di kamar mandi ia menyuruh Puspa cuci muka. Masih dengan kondisi wajah Puspa yang basah Arga menciumi wajah Puspa.
"Harusnya kau membiarkanku untuk memberinya pelajaran."
__ADS_1
Melihat pembelaan Arga membuat Puspa terharu. Dengan mata berkaca-kaca ia langsung memeluk Arga erat.
"Terima kasih, terima kasih!" Puspa menangis dalam pelukan Arga