
"Mana kunci mobilnya?" Jesi menadahkan tangannya
"Maaf, Non. Ini mobil Tuan Besar, saya tidak bisa menyerahkan begitu saja" Jesi berdecak
"Aku sudah bilang sama Om. Sekarang mana kuncinya" dengan polosnya satpam menyerahkan kunci mobil.
"Saya akan meminta supir untuk menemani Nona"
"Tidak tidak"
"Tapi , Nona ini melanggar-"
Tanpa mendengarkan ucapan Satpam, Jesi langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
***
"Mobil saya mana?" Papa Arga yang baru turun dari mobil menyadari mobil lainnya tidak ada.
Satpam pun melaporkan apa yang terjadi. Papa Arga membuang nafas kasar.
"Dia berbohong atas namaku" Papa Arga masuk ke dalam rumah di susul Istrinya yang sedari tadi berusaha menenangkan suaminya itu
Saat memasuki rumah, Bi Ina menceritakan apa yang ia lihat tadi
"Raut wajahnya nampak berbeda, Tuan" Bi Ina sedikit menunduk.
"Geledah kamarnya" Bi Ina mengangguk.
Papa Arga masuk ke kamarnya
"Papa apasih, kok seenaknya geledah kamar Jesi" protes Istrinya
"Diam!"
***
Bi Ina memanggil satpam untuk membantu menggeledah kamar Jesi. Cukup lama mereka di dalam tetapi tidak menemukan apapun.
"Tidak ada apa-apa" ucap Bi Ina
__ADS_1
"Tapi ada bekas bau asap rokok. Pasti ada sesuatu" Satpam bersikeras dan tetap mencarinya.
Disisi lain, di jalan raya Jesi mengemudi sambil mabuk, ia meminum beberapa botol miras. Jesi memukul-mukul setir mobil membayangkan ia tengah memukul Arga.
Satpam menunduk dan melihat ke kolong ranjang, dan melihat koper Jesi. Saat menyeretnya koper itu di rasa berat.
"Koper ini berat? Apakah Non Jesi tidak meletakkan barang-barangnya di lemari?" Bi Ina yang mendengar gumaman Satpam langsung mendekat. Bi Ina menghirup nafas dalam-dalam lalu membuka koper itu.
Bi Ina dan Satpam terkejut.
"Aku akan memanggil Tuan Besar" Satpam mengangguk, Bi Ina bergegas menemui majikannya agar ia tahu sendiri isi koper Jesi.
Tidak lama, Papa dan Mama Arga masuk ke kamar Jesi dan mereka terkejut melihat isinya, beberapa pcs sabu dalam wadah klip kecil dan 3 bungkus rokok.
"Jesi harus dilaporkan" Papa Arga merogoh Hp di kantongnya, tapi Mama Arga mencegahnya
"Kumohon jangan. Dia pasti depresi, atau ada yang menjebaknya. Kumohon" Mama Arga memasang wajah sedih
"Ma, ini bukan masalah sepele. Keluarga kita akan terkena dampaknya"
Mama Arga langsung berlutut di kaki Suaminya memohon agar tidak melaporkan pada yang berwajib, ia bahkan meruntuhkan image-nya sendiri di hadapan pembantu dan satpamnya.
"Mama akan menjamin Jesi tidak akan melakukan hal ini lagi, Pa. Mama mohooonnn. Hiksss. Sekali ini saja"
"Ck, Ma, ini salah. Apa yang terjadi pada otakmu?"
"Please, Pa. Kali ini saja" Mama Arga sampai memeluk kaki suaminya itu.
Papa Arga membuang nafas kasar.
"Besihkan barang itu dari sini" Papa Arga menarik kakinya. Bi Ina dan satpam menganggukkan kepala
Mama Arga mendongakkan kepala, ia tersenyum tipis.
"Terima kasih, Pa. Mama janji Jesi tidak akan melakukan hal ini lagi" Mama Arga menyeka air matanya.
"Dia harus pergi dari rumah ini" Papa Arga membelakangi mereka bertiga
"Tapi, Pa"
__ADS_1
"Pergi atau Papa laporkan. Ini bukan masalah membawa sekarung permen, tapi sabu-sabu. Gila. Papa tidak mau tau, dia harus pergi dari rumah ini. Telfon dia"
Mama Arga tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan Jesi dari rumah ini.
Mama Arga meraih Hp nya dan menelfon Jesi. Hanya berdering dan tidak ada jawaban.
"Lancang" umpat Papa Arga
Tanpa disadari Jesi keluar dari jalurnya dan masuk ke jalur jalan yang berlawanan arah, bersamaan dengan itu, ada motor matic yang akan menyebrang jalan. Jesi membulatkan matanya, namun terlambat, mobil Jesi langsung menabrak motor itu dengan sangat keras. Motor itu terpental dan terpisah dengan pengemudinya, motor itu langsung terlindas mobil lainnya yang melaju dengan kencang. Sang pengemudi selamat, ia segera bangun sebelum ada kendaraan lagi yang lewat.
Jesi mencoba melarikan diri, namun ia tidak sadar ia masih di jalur yang salah hingga sebuah truk menghantamnya dari depan sehingga mobil yang Jesi kendarai terguling ke pembatas jalan. Jesi seketika tidak sadarkan diri dan dengan luka-luka di tubuhnya
🍀🍀🍀
Mama Arga sekali lagi berusaha menelfon Jesi, tetapi ia malah mendapat panggilan terlebih dahulu.
"Halo, sayang. Kamu dimana"
"Hahh??!!! Apa?! Jangan becanda!"
Papa Arga menoleh ke Istrinya yang shock
"Baik, baik"
"Kenapa, Ma?"
"Jesi kecelakaan, Pa. Kita harus ke rumah sakit sekarang"
"Hm, ponakan kesayangmu. Lihatlah ulahnya yang merugikan itu"
Mama Arga hanya bisa menunduk mendapati suaminya tengah marah-marah
Sedangkan Bi Ina dan Satpam hanya bisa geleng-geleng akan tingkah sembrono Jesi.
"Secepatnya Jesi harus pergi dari rumah ini. Pantas saja Arga tidak menyukai keberadaannya" Papa Arga meninggalkan mereka bertiga
Flash Back Off
__ADS_1