Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Setelah makan, Puspa pamit pulang dan di antar Arga


"Adikmu masih bersamamu malam ini?" tanya Arga


"Iya. Kenapa? Cemburu?"


"Tidak"


***


Besoknya


"Yakin?" tanya Papa Arga


"Ya, Arga yakin dengan keputusan ini. Semakin lama, akan semakin bertambah pria yang menyukai Puspa"


"Pernikahan itu bukan hanya sekedar tidur berdua, makan berdua. Tapi dalam pernikahan, kalian akan hidup berdampingan dan pastinya akan ada ketidakcocokan dalam berfikir karena kalian adalah dua orang dua kepala. Jangan jadikan pernikahan sebagai permainan"


Arga diam mendengarkan


"Ya kalau Papa sih setuju kalian menikah secepatnya"


"Kita akan membicarakannya dengan Dion"


***


"Menikah?" Bapak Puspa terkejut, karena ini terjadi secara tiba-tiba


"Aku senang Arga serius pada Puspa, tapi... Biayanya tidak murah. Beri aku sedikit waktu lagi" Bapak Puspa menoleh ke arah Puspa, Puspa diam saja dan *******-***** jarinya karena gugup


"Tidak perlu memusingkan biayanya, Dion. Ada aku, aku akan mengeluarkan berapapun biayanya untuk mereka berdua"


"Aku juga ada uang yang cukup untuk pernikahan ini" Arga telah siap


"Tapi..."


"Kau tidak perlu pusing" Papa Arga tersenyum


Lama rapat ini berlangsung, akhirnya keputusan di dapatkan. Mereka akan segera menikah


☘☘☘


"Aku seperti bermimpi" ucap Puspa sambil mengambil nasi dan meletakkannya di piring Arga


"Bukankah ini terlalu cepat?"


"Semakin lama aku mengulur waktu untuk menikahimu, maka akan semakin banyak sainganku"


"Heeeeemmm" Puspa duduk berhadapan dengan Arga


"Tidak ada yang bisa mengambil hatiku selain dirimu. Apa yang kau khawatirkan?"


"Akan banyak bermunculan pria yang lebih baik diriku, dan tidak menutup kemungkinan aku akan kehilanganmu sebelum aku memilikimu" Arga menggenggam tangan Puspa


"Sekarang kau jago merangkai kata, dulu saja kau sangat irit bicara. Hm, hm, hm, hanya itu saja"


Arga tidak menjawab, ia menyentil dahi Puspa


"Awwww sakit"


"Itu hukuman untukmu"


"Oke, sekarang kita harus apa?" tanya Puspa


"Kau tinggal duduk manis, dokumen pernikahan kita sudah ada yang mengaturnya"


"Kenapa kita tidak mengurusnya sendiri?"


"Jika bisa menggunakan jasa orang lain mengapa tidak?"


Puspa memicingkan matanya


"Buang-buang uang tau"


"Pendapatanku lebih besar daripada pengeluaran untuk hal ini"


"Sombongnya kambuh, Wkwkkwkw"


***

__ADS_1


Hari-hari mereka lalui untuk menyiapkan acara pernikahan mereka yang mana akad dan resepsi akan dilaksanakan bersamaan. Akad pernikahan akan di laksanakan di rumah Puspa, sedangkan resepsi akan di laksanakan di kediaman keluarga Arga. Sambil menunggu persiapan beres, rumah Puspa pun di renovasi oleh Arga.


Elisa yang mendengar kabar tersebut hanya bisa pasrah dan harus menerima kenyataan. Ia ikut membantu persiapan pernikahan sahabatnya walau perasaannya tidak karuan.


"El, terimakasih atas bantuannya" ucap Puspa


Elisa yang membungkus sovenir menoleh dan tersenyum


"Tidak perlu berterimakasih"


Arga yang baru pulang bekerja langsung mampir ke rumah Puspa dan mendapati Puspa dan Elisa sedang membungkus sovenir


"Puspa" panggil Arga


Puspa dan Elisa menoleh


"Sudah pulang?" tanya Puspa. Ia berjalan menuju Arga


"Hm, kenapa kau repot-repot begini? Aku akan menyuruh-"


"Eiitsss jangan. Dari kemarin-kemarin kita mengandalkan orang lain. Setidaknya untuk masalah ini biar aku dan Elisa yang melakukannya"


"Pernikahan kita tinggal menghitung hari, nanti kau kelelahan"


"Tidak akan. Hanya membungkus sovenir kan. Oh ya, mau makan tidak? Aku tadi mencoba masakan baru"


Arga mengangguk. Puspa dan Arga berjalan menuju dapur, Elisa hanya diam menahan sakit saat melihat Arga mengelus kepala Puspa


"El, yuk ikut gabung. Kita makan bersama" panggil Puspa


"Tidak, aku kan sudah makan tadi"


"Yang benar?"


"Iya, kalian lanjutkan saja dulu. Aku akan melanjutkan tugasku"


"Baiklah, terima kasih ya"


"Iyaaaaa"


Elisa melirik ke arah Puspa dan Arga yang sedang makan, Arga kembali mengelus kepala Puspa. Melihat itu Elisa langsung berjalan keluar rumah sambil membawa beberapa sovenir yang akan di bungkus


Beberapa menit kemudian Puspa ikut keluar rumah


"Kenapa di luar, El?" Puspa ikut duduk di samping Elisa


"Bosan di dalam, Pus. Di luar ada anginnya"


"Baiklah..."


"Eh, kenapa kau ikut disini? Calon suamimu?"


"Ohhh dia masih ke kamar mandi. Biarkan saja, aku kan masih ada tugas ini hihi"


"Kau ini.." Elisa menyikut Puspa


Arga tak kunjung keluar


"Pus, aku ke dapur dulu ya. Haus"


"Biar aku ambilkan" Puspa mau berdiri namun ditahan Elisa


"Tidak usah. Biar aku ambil sendiri, nanti kau kelelahan"


"Tidak kok, hanya ke dapur"


"Tidak-tidak. Aku akan mengambilnya sendiri. Nanti aku kena marah oleh calon Suamimu itu karena membiarkanmu mengambil minum untukku"


"Haaaaisssh kau ini. Ya sudah, air minumnya ku letakkan di meja makan" Puspa kembali duduk


"Oke" Elisa berjalan dengan langkah cepat. Saat ia sampai di dapur ia berpapasan dengan Arga


Arga hanya melihatnya sekilas lalu melewatinya namun Elisa menarik lengan Arga dan mereka berdiri berhadapan. Arga menatap Elisa dengan tatapan tidak suka, ia menepis tangan Elisa


"Ada hal penting yang ingin ku bicarakan"


Arga tidak merespon, ia melanjutkan langkahnya. Elisa yang geram karena tidak mendapat respon dari Arga langsung menarik lengan Arga, Arga menepisnya dengan keras


"Bosan hidup?"

__ADS_1


"Sudah kubilang ada sesuatu yang ingin ku katakan"


"Apa yang keluar dari mulut wanita sepertimu tidak penting"


Elisa mengepalkan tangan, ia berjalan cepat dan menghalangi jalan Arga


"Enyah dari hadapanku"


Elisa menggeleng


"Arga, aku... Aku menyukaimu. Tidak, Aku mencintaimu"


"Aku... Aku menyukaimu lebih dulu dari Puspa. Aku terpesona padamu saat kami masih sekolah. Kenapa aku tidak bisa berada di posisinya?"


"Hentikan omong kosong ini"


Arga melewati Elisa namun Elisa menghadangnya lagi


"Apa yang kurang dariku? Aku lebih cantik darinya, aku lebih kaya darinya, cintaku lebih besar darinya. Aku mencintaimu dalam dalam diamku. Apakah aku tidak berhak mendapat cintamu?" air mata Elisa menetes


"Kumohon, sebelum pernikahan ini terjadi tolong pikirkan kembali. Aku mencintaimu"


"Tapi kau penghianat"


Elisa seketika diam membatu, Arga langsung melewatinya dan menyusul Puspa ke luar rumah meninggalkan Elisa yang mematung di dapur


"Elisa mana?" tanya Puspa pada Arga


Arga hanya menghendikkan bahu. Puspa langsung berdiri dan menyusul Elisa ke dapur


"Elisa, kenapa? Ada apa?" Puspa menepuk bahu Elisa, Elisa tersadar lalu menyeka air matanya


"Ada apa? Kenapa menangis?" Puspa cemas


"Ada sesuatu yang terjadi? Apa kau sakit?"


Elisa menggeleng.


"Kakiku tadi menyenggol kaki meja. Sakit sekali"


Puspa langsung melihat kaki Elisa


"Yang mana? Pasti sakit sekali"


"Sudah tidak apa-apa, kok. Oh iya aku sampai lupa ambil minum" Elisa mengambil gelas dan menuangkan air


"Kau kelelahan, El. Istirahatlah"


Elisa menggeleng


"Aku sudah baik-baik saja. Ayo kita lanjutkan"


"Benar tidak apa-apa?"


Elisa mengangguk. Saat Elisa keluar bersama Puspa, Arga yang pindah tempat dan masuk kembali ke dalam rumah


"Aku istirahat dulu. Ingat, jangan terlalu kelelahan" ucap Arga


"Iya"


Arga mencium pipi Puspa di hadapan Elisa dan membuat Elisa tercengang


Puspa memukul pelan lengan Arga karena malu


"Apa yang kau lakukan?" Puspa menggembungkan pipi


"Agar orang tau, Kau milikku dan aku milikmu"


Arga langsung masuk ke dalam rumah


"Dasaaaarr"


Elisa langsung duduk dan membungkusi sovenirnya


"Maaf ya, El. Kami tidak bermaksud-"


"Iya, aku faham kok"


Puspa langsung merangkul Elisa

__ADS_1


__ADS_2