Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Terima Kasih dan Maaf


__ADS_3

Puspa terjatuh ke lantai, ia dapat merasakan sakit namun ia juga mengantuk. Ilham terkejut, ia langsung kembali dan menolong Puspa


"Maaf" lirih Puspa


"Iya, tidak apa-apa. Kau harus istirahat" Ilham menggendong tubuh Puspa dan membuka pintu kamar dengan susah payah


Ilham menidurkan Puspa di ranjang dan berjalan keluar kamar


"Maaf" ucap Ilham pelan. Lampu kamar Puspa di matikan dan Puspa sudah pulas


***


"Aaaawwwwww!" pekik Puspa saat merasa kema*luannya seperti di robek


"Puspaaa"


"Eeeeeenggghh"


"Argaaaa"


Keringat membasahi tubuh keduanya.


***


"Kyaaaaaaa!" teriak Puspa terbangun


Puspa mengatur nafasnya dan melihat sekitarnya, ternyata sudah pagi hari. Puspa mengusap wajahnya


"Huuffft mimpi jorok" ucap Puspa pelan, ia langsung duduk dan mengumpulkan nyawanya, ada yang janggal karena ia merasa sedikit perih di area pintu kenikmatannya, namun ia mengabaikannua


Beberapa menit selanjutnya ia terdiam, merasakan lagi ada yang berbeda dengan tubuhnya. Puspa menyingkat selimutnya perlahan.


Puspa menutup mulut dengan tangannya, ia tidak bisa berkata-kata melihat kondisi dirinya saat ini. Celananya tidak lagi menempel di tubuhnya, dalam dirinya terasa panas dingin yang bercampur aduk


Puspa turun dari ranjang perlahan dan sekali lagi melihat ke bawah dan tetap saja ia tak lagi mengenakan celana


Air mata tak sanggup Puspa bendung saat penglihatannya melihat bercak darah di ranjangnya. Puspa menggigiti jarinya dan berjalan perlahan menyentuh bercak darah tersebut.


"Hhhhh" Suaranya tak bisa keluar, Puspa juga mulai merasa perih di area kema*luannya. Ia meremas seprai dan menariknya dengan keras


Air matanya mengalir deras, ia terduduk di samping ranjangnya dan menangis tersedu-sedu. Ia fikir itu hanyalah mimpi, namun pada nyatanya keper*awanannya sudah terenggut


Puspa meremas rambutnya dan menjambaknya sendiri. Ia semakin terpukul melihat bekas darah di paha dalamnya


"Tidakk..."


Tiba-tiba terdengar suara mobil yang berhenti di halaman rumahnya, Puspa membulatkan mata. Ia langsung menoleh ke arah jam dan melihat pukul 05:20 pagi.


"Puspa" terdengar suara Arga


Puspa merasa sulit bernafas. Kenapa Arga memanggilnya jika memang ia bersamanya?

__ADS_1


Puspa kebingungan


"Puspa? Kenapa pintu depan tidak kau kunci?" Arga membuka pintu kamar Puspa dan seketika mematung


Puspa menoleh dengan pelan dan menahan tangisnya


"A-Argaaa.."


Arga mengepalkan tangan, ia membanting pintu kamar Puspa. Puspa ketakutan.


Bi Ina yang mendengar suara tersebut langsung berlari ke dalam rumah Puspa


Arga berjalan mendekat pada Puspa dan melihat seprai di lantai dan ada bercak darah


"Ar-Arga" dengan berat ia berusaha memanggil nama Arga


Arga menatap sinis Puspa, ia mengambil seprai tersebut lalu merobeknya . Puspa semakin ketakutan. Bi Ina menutup mulut dengan tangannya, terkejut melihat apa di hadapannya


"Berani-beraninya kau!" bentak Arga


Puspa menangis ketakutan, Arga yang sudah gelap mata di kuasai amarah langsung menarik Puspa dengan kasar, Puspa berontak dan terus menangis


"Ja*lang!" Arga menarik Puspa dan berdiri di hadapan cermin


"Lihat dirimu!"


Dengan masih menangis Puspa menutupi kema*luannya dengan kedua tangannya dan enggan melihat ke cermin


"Bisa-bisanya kau bicara seperti ini!"


Arga melepas tangan Puspa yang menutupi kema*luannya dan Puspa terus menolak


"Tuan Mudaaaa!!" Bi Ina berlari dan memeluk Puspa, Puspa menangis di pelukan Bi Ina, Bi Ina mengelus punggung Puspa


"Aaaaarghhhh!!!" Arga memukul cermin


"Aaaaaaaaaaa!!"


"Tuan Muda, jangan melukai diri anda!"


Bersamaan dengan retaknya cermin, tangan Arga berdarah. Ia mengatur nafasnya lalu mengambil selimut dan menutupi tubuh Puspa dan Bi Ina membantunya


***


Mereka bertiga duduk di ranjang, Bi Ina masih menenangkan Puspa. Darah di tangan Arga terus mengalir, ia masih menenangkan dirinya sendiri


Arga menitikkan air mata, ia menyekanya dengan kasar.


"Biiiii"


"Tenang, Nak" Bi Ina menghapus air mata Puspa yang terus mengalir, Bi Ina juga ikut menangis.

__ADS_1


Arga menghela nafas kasar, ia berdiri dan mengambil seprai itu lalu membawanya keluar rumah. Arga masuk ke dapur dan mengambil korek, ia langsung keluar lagi dan membakar seprainya.


"Bi, Puspa tidak tau kenapa ini terjadi. Puspa tidak tau"


Bi Ina mencium kening Puspa dan tersenyum


"Aku percaya padamu, Nak" Puspa lega mendengarnya


"Arga, aku benar-benar tidak tau akan hal ini. Aku harap aku bisa meyakinkan dirimu"


☘☘☘


09:00


Mereka bertiga duduk di kursi tanpa mengucapkan sepatah kata. Mereka sama-sama diam, mata Puspa masih sembab dan Arga masih marah juga kecewa


Sesekali Puspa menoleh ke Arga namun Arga langsung membuang muka. Tidak tahan hanya diam seperti ini, Arga berdiri dan keluar rumah. Arga masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan kediaman Puspa


Puspa ingin mencegahnya, namun ia juga tidak mungkin bisa menghentikannya.


Flash Back ON


"Maaf Ilham, aku sedikit mengantuk" ucap Puspa, matanya terasa sangat berat untuk terbuka


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Selamat malam"


Puspa mengangguk. Saat Ilham berbalik dan berjalan menjauh, Puspa sudah tidak tahan. Puspa terjatuh ke lantai, ia dapat merasakan sakit namun ia juga mengantuk. Ilham terkejut, ia langsung kembali dan menolong Puspa


"Maaf" lirih Puspa


"Iya, tidak apa-apa. Kau harus istirahat" Ilham menggendong tubuh Puspa dan membuka pintu kamar dengan susah payah


Ilham menidurkan Puspa di ranjang dan berjalan keluar kamar


"Maaf" ucap Ilham pelan. Lampu kamar Puspa di matikan dan Puspa sudah pulas


Ilham keluar kamar, ia mematikan lampu dapur dan mengunci pintu depan. Setelah mematikan lampu, ia kembali masuk ke kamar Puspa


Dengan sinar cahaya bulan yang masuk ke kamar Puspa, Ilham tidak perlu menyalakan kembali lampu kamar. Ilham berjalan perlahan dan membaringkan dirinya di samping Puspa yang sudah tertidur pulas


Ilham mengelus wajah halus Puspa yang tanpa polesan make-up namun tetap cantik. Bib*r Puspa yang sedikit berisi disentuhnya, Ilham mendekatkan wajahnya dan menghirup aroma kulit wajah Puspa


"Aku mungkin tidak akan bisa memilikimu, tapi malam ini kau adalah milikku"


"Aku bersyukur obat tidur itu masih bekerja, maafkan aku"


Ilham menyingkap selimut Puspa dan berada di atas tubuh Puspa. Ia tidak melepas total pakaian Puspa untuk mempercepat waktu. Jantungnya berdebar saat batang miliknya akan merenggut kegadi*san Puspa. Walau susah karena masih tersegel, akhirnya ia pun bisa merenggutnya. Puspa kesakitan, ia langsung mengulum bi*bir Puspa. Ia merasa sedih saat Puspa mengucapkan nama Arga


Selesai dengan aksinya, ia melihat Puspa seperti akan terbangun. Dengan cepat Ilham mencium kening Puspa dan membuang jus timun tadi di kamar mandi lalu pergi dari rumahnya.


"Terima kasih dan maaf" ucap Ilham sebelum benar-benar pergi dari rumah Puspa

__ADS_1


FLASH BACK OFF


__ADS_2