
πππ
Bapak Puspa pamit bekerja, ia memberi bingkisan yang ternyata isinya adalah uang hasil gaji yang ia sisihkan untuk Puspa. Dengan kantong plastik sedang, Bapak Puspa memasukkan 1 celana miliknya untuk mengelabui istrinya dengan mengatakan celana ganti.
Elisa duduk di kamar Puspa, ia masih tidak tenang. Takut Puspa mendengar apa yang ia katakan tadi.
Puspa masuk dan duduk di samping Elisa, hal itu membuat Elisa semakin gemetar
"El? Kau gemetar lagi. Apa ada masalah?" tanya Puspa.
Puspa menempelkan dirinya pada Elisa,
"Lihatlah, sebagian tubuhku ikutan bergetar haha. Ada apa, hah?"
"Puspa, kau benar-benar tidak dengar apa yang aku katakan tadi?"
"Kau ini bicara apa? Aku hanya kebelet dan kau ketakutan sampai saat ini. Jangan-jangan masakanku tidak enak ya?" Puspa semakin membuat Elisa dag dig dug
"Anu..."
"Yah, mungkin kau sungkan mengatakan masakanku kurang enak. Ayo katakan, katakan masakanku kurang apanya? Apa kurang banyak?"
"Puspaaaa kau ini"
Puspa tersenyum, ia merangkul Elisa dengan erat. Puspa juga bersandar di bahu Elisa
"Kumohon! Kumohon jangan hancur" bathin Puspa
****
Puspa melambaikan tangan pada Elisa, Elisa juga melambaikan tangan pada Puspa. Setelah Elisa tidak lagi terlihat, Puspa langsung masuk ke dalam rumah.
Seketika rumahnya terasa sepi lagi.
"Sepi lagi" Puspa masuk ke kamarnya dengan langkah gontai
'Dddrttt' Hp Pusoa berdering
Puspa langsung melihat siapa yang menelfonnya di jam segini
"Tuan," gumam Puspa. Jantungnya berdebar
"Eh, untuk apa menelfonku? Aku kan juga sedang marah padanya" Puspa menolak panggilan Arga
Puspa menjatuhkan dirinya di ranjang, ia menenggelamkan wajahnya di bantal. Menyembunyikan senyum dan perasaan berdebar saat Arga menelfonnya
"Dia mengacaukan perasaanku" ucap Puspa
__ADS_1
"Dasar..."
Setelah 5 menit, Puspa mengangkat wajahnya. Ia meraih Hp nya dan tidak ada panggilan lagi. Puspa sedikit sedih, tapi ia menepis perasaan sedihnya itu
"Aku kan sedang marah" Puspa meletakkan kembali Hp nya
"Tapi, apa dia sedang dalam masalah hingga menelfonku?" gumam Puspa
"Tidak-tidak. Pasti dia akan menyuruhku untuk menjauhi Elisa" Puspa lanjut membenamkan wajahnya.
Setelah beberapa menit, Puspa bangun dan berkacak pinggang. Ia melihat jam dikamarnya.
"Sudah jam 10. Ayo mandiiiii!" Puspa langsung tersenyum lebar dan mengambil handuk
Ia bergegas mandi. Langkahnya berhenti didepan kamar mandinya. Senyumnya memudar. Puspa menarik nafas dalam-dalam, dan ia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman lagi
Puspa masuk ke kamar mandi, ia membuka pakaian dan mengguyurkan air dari bagian kaki terlebih dahulu. Puspa merasakan sesak di dadanya.
Ia menghiraukan rasa sesaknya saat mendengar apa yang Elisa ucapkan tadi. Puspa mengambil shampo, bukannya di aplikasikan pada rambutnya, Puspa menggosok shampo itu di tangannya dan di beri sedikit air. Busa Shampo berjatuhan dari tangan Puspa, Puspa menghirup aroma wangi shampo tersebut.
Ia mengambil air, tangan kirinya di angkat ke atas. Puspa menyiramkan air di tangan kirinya dari atas, ia menikmati air yang mengalir. Sesekali ia tertawa karena yang ia lakukan ini tidak lebih seperti bocah saja.
Puspa menepuk-nepuk air di bak mandi, setelah puas dengan itu Puspa langsung mengguyur air ke seluruh tubuhnya. Puspa berulang kali mengguyurkan air, ia pun tertawa. Tapi suara tawanya sedikit berbeda.
"Hahaha..." lama-kelamaan tawa itu menjadi isak tangis
πππ
"Bersih, sepertinya aku harus merenovasi rumah ini" gumam Puspa sambil menyisir rumahnya dengan matanya
Puspa tersenyum manis, mengabaikan rasa sesak yang dari pagi tak kunjung hilang. Ia tidak ingin kehilangan Elisa, ia pun juga tidak ingin kehilangan Arga.
Puspa mengambil seember air dan membawanya ke samping rumahnya, Puspa mengguyur bunga-bunga pemberian Arga
"Cepat berbunga ya, kalian pasti cantik-cantik" ucap Puspa.
Puspa berjongkok sambil menyirami bunga-bunga itu. Sesekali Puspa mengajaknya berbicara.
"Hhaaahhh... Aku tidak sabar melihat kalian berbunga dan mekar" Puspa tersenyum
Lelah berjongkok, Puspa langsung duduk di tanah langsung. Puspa mengobrol dengan bunga-bunga itu, sesekali ia mengelus daun-daunnya. 30 menit berlalu...
"Kalian lihat? Mataharinya mulai terbenam. Aku harus pergi, cepat tumbuh dan berbunga yaaa" Puspa tersenyum lebar. Ia bangkit berdiri dan menepuk-nepuk celana bagian belakangnya yang kotor
"Babay" Puspa melambaikan tangan pada bunga-bunga itu.
Saat membalikkan badan, Puspa dikejutkan dengan kehadiran Arga yang sedang berdiri di belakangnya. Puspa mencari-cari mobil atau kendaraan lain, tapi tidak ada satupun di sskitar rumah Puspa.
__ADS_1
"Tuan? Sejak kapan?" tanya Puspa sambil celingak celinguk mencari keberadaan kendaraan Arga
"20 menit yang lalu" Arga memasukkan tangannya ke saku celananya
"Hah? 20 menit?" Puspa mengedipkan matanya dengan cepat
"Hm. Aku lapar" Arga langsung melangkah masuk ke dalam rumah Puspa. Puspa yang melihat itu hanya bisa terdiam
"Seperti biasa, dia seenaknya sendiri" gumam Puspa.
Puspa langsung mengikuti Arga. Puspa tidak melihat Arga di ruang tamu, ia langsung menuju kamarnya. Mengingat Arga dengan seenaknya sendiri tidur di kamar Puspa, ia takut Arga ada di kamarnya karena Puspa belum membakar kertas dari Dokter Andre. Bisa semakin kacau.
'Ceklek'
" Tuan" panggil Puspa, ternyata di kamarnya juga tidak ada.
Puspa beralih ke kamar Adiknya, tetapi Arga juga tidak ada disana. Puspa menggembungkan pipinya.
Puspa langsung menuju dapur, dan benar saja Arga sedang duduk dan berada di ruang makan, Arga memangku wajahnya memandangi meja makan yang kosong.
Jujur saja, Puspa merasa gemas pada Arga yang memangku tangan itu, Puspa ingin mencubitnya karena wajah Arga terlihat lucu. Seperti anak kecil yang kelaparan dan kecewa karena tidak ada makanan
Puspa menepis hal itu, tetap saja ia kesal padanya
"Kau!" Puspa menepuk dahinya sendiri
"Aku bisa tambah kurus tau, kesana kemari" Puspa mengoceh lagi dengan terus menyalahkan Arga yang tiba-tiba masuk ke rumahnya
Arga hanya diam mendengar ocehan Puspa. Ia tersenyum sangat tipis saat Puspa mengoceh, Puspa tidak menyadari senyuman Arga.
"Lain kali awas saja masuk sembarangan, kau fikir ini rumahmu, hah" Puspa berkacak pinggang di dekat Arga karena Arga seperti tidak mrnghiraukannya dari tadi.
"Tuan! Kau mendengarku kan?"
Arga masih diam dan memangku wajahnya. Puspa menahan emosinya.
Puspa terbelalak saat Arga tiba-tiba menariknya hingga ia jatuh di pangkuan Arga. Nafas Puspa terasa berat, jantungnya berdebar saat wajah mereka berdekatan
"Sudah mengocehnya? Aku mau makan" ucap Arga.
Puspa semakin tegang saat wajah Arga semakin dekat dengan wajahnya. Puspa sulit menggerakkan tubuhnya. Hembusan nafas Arga terasa hangat di wajah Puspa, Puspa mengepalkan tangannya.
'Cup'
Arga mengecup pipi Puspa. Mata Puspa membulat sempurna.
"Aku lapar" ucap Arga yang langsung menjatuhkan kepalanya di pundak Puspa
__ADS_1
Author : Plis deh, Puspa itu belum mandi lagiππ