
🍀🍀🍀
'Tok tok tok'
"Puspa.. Puspa. Ini aku."
'Tok tok tok'
"Woooyy dengar tidak.." Arga mendengus sebal.
"Apa tidak ada orang?" Gumam Arga..
"Hmm pintunya di kunci. Kemana dia?" Arga mengambil Hp nya. Lagi lagi dia lupa Puspa sudah tidak punya Hp lagi.
"Haissh menyebalkan." Gerutu Arga.
Ia tidak tau harus mencari kemana. Arga mendudukkan dirinya di teras sambil menunggu Puspa datang.
"Jika aku menunggu disini, lalu terjadi apa-apa padanya?" Arga bingung.. Ia berdiri.. Mondar mandir.. Dan kembali duduk.
Arga menjambak rambutanya kesal. Ia merasa bodoh.
"Gue haruss gimana!!. Dia kemana coba!" Arga tidak perduli teriakannya mengganggu ketenangan tetangga Puspa.
"Tunggu. Dia siapaku?" Arga bertanya-tanya.
"Dia bukan kekasihku, bukan keluargaku."
"Persetan dengan itu. Aku harus mencarinya sekarang" Arga melangkah menuju mobilnya. Langkahnya terhenti saat ia melihat Bapak Puspa datang.
"Bapaknya Puspa?" Tanya Arga
"Eh iya.. Kamu siapa ya? dan sedang apa di rumah saya?"
__ADS_1
"Oh... Wkwkwk kamu lupa ya... Emmm seingatku saat resepsimu kacau, kau pingsan bahkan sebelum aku muncul di hadapan orang-orang. Pantas saja kau tidak mengenaliku" Arga menyeringai
"Ka-kauu.. Penyebab itu semua?" Bapak Puspa melotot.
"Bukan aaku sepenuhnya.. Putrimu yang hebat itu yang telah malakukan hal yang pantas untuk kalian dapatkan.. Hahah" Arga tertawa.
"Puspa... Kau kenal" Bapak Puspa menyipitkan matanya
"Hmm.. Bukan urusanmu" Seketika Mood Arga jelek. Arga melangkah
"Itu tentu urusanku. Dia putriku" Bapak Puspa menahan lengan Arga. Lalu di tepis oleh Arga
"Siapa yang kau maksud Putrimu? Apa dia masih menganggapmu sebagai Bapaknya?" Bapak Puspa diam terpaku. Ia melepaskan lengan Arga.
"Hmm" Arga masuk ke mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Aku merasa dia tidak asing dengan pria itu. Siapa dia?" Bapak Puspa merasa mengenal Arga.
🍀🍀🍀
"Hmm aku mau warna netral" Puspa menolaknya. Matanya terus melihat semua Hp di sana.
"Hilih.. Semuanya warna netral tau. Kamu harus belajar lagi tentang warna. Kwkwk" Ilham menjulurkan lidahnya.
"Hmmm" Puspa memicingkan matanya.
Ilham terkekeh meleihat ekspresi Puspa yang menurutnya menggemaskan.
Puspa menemukan yang menarik perhatiannya.
Ia memilih Hp yang berwarna putih.
***
__ADS_1
"Ayo ku antar pulang" Tawar Ilham
"Mmmmm... Tidak perlu. Aku mau sekalian ke pasar dulu"
"Ngapain?" Ilham sok polos
"Beli kain kafan buat kamu" Ilham terbelalak
"Sadisnyaaaa..." Ledek Ilham.
"Sudah.. Kamu lanjutkan kerjanya. Aku masih mau belanja bahan-bahan dapur" Puspa berjalan di ikuti Ilham.
"Wahhh calon istri yang sempurna" Ilham kagum. Puspa merasa malu di puji seperti itu. Pipinya merona.
"Kau tau? Aku sangat suka melihat pipimu yang merona seperti ini. Cantik" Puji Ilham
"Bisakah kau hentikan rayuan mu itu? Seingatku saat kita kecil dulu kamu tidak separah ini. Wkwkk" Puspa terkekeh.
"Aku tidak merayu. Kamu memang sangat cantik. Boleh aku main ke rumahmu?" Puspa menghentikan langkahnya.
Ia belum bercerita kondisi dirinya yang sebenarnya.
"Lain kali saja deh.. Kamu fokus kerja saja. Wkwk" Puspa mengelak.
"Hmmm baru ketemu sudah di usir. Aku masih merindukanmu, Cinta" Puspa tersipu.
"Ya sudah kalau kamu tidak membolehkanku main ke rumahmu, aku temani kamu belanja ya. Aku tidak mau tangan gadisku lecet" Ucap Ilham lembut.
"Hmmm boleh deh. Tapi jangan mengeluh kalau lama ya" Puspa memberi syarat
Ilham mennagngguk.
"Bagaimana aku mau mengeluh. Aku merindukanmu" Gumam Ilham memandangi Puspa yang berjalan di depannya.
__ADS_1
"Kalau tabunganku sudah cukup, aku akan melamarmu." Ilham tersenyum.