Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Bagaimana Menurutmu?


__ADS_3

"Huufffttt lelahnya..." Puspa membaringkan dirinya di ranjang. Elisa yang baru selesai mandi juga ikut duduk di ranjang Puspa.


"Apa yang kau lelahkan? Bukannya kau tadi di Mall hanya mengikuti aku?" Tanya Elisa sambil mengeringkan rambutnya.


"Lelah dengan kehidupanku" Puspa tersenyum.


"Ilih suka melow sekarang " Elisa melempar handuk ke muka Puspa.


Puspa memicingkan matanya dan melempar kembali handuk itu. Elisa mengambil bantal dan melemparnya ke muka Puspa.. Ya selanjutnya mereka saling melempar handuk dan bantal..


Hingga akhirnya keduanya roboh di atas ranjang.


"El, Apa kita akan seperti ini selamanya?"


"Maksudnya?"


"Menjadi sahabat." Puspa menatap Elisa sekilas


"Kwkwkw apa yang kau bicarakan? Tentu saja kita sahabat. Selamanya" Elisa tersenyum.


"Aku takut... Suatu hari ada masalah yang memisahkan kita."


"Maksudmu cowok? Wkkwkw Puspa.. Aku tidak mau merusak kebahagiaan orang lain. Kau tenang saja" Puspa tersenyum.


Hening...


"Menurutmu, Tuan Muda itu bagaimana, El" Puspa membuka suara.


Elisa yang sedang memainkan Hp nya menatap Puspa yang sedang memandang langit-langit kamar.


"Bagaimana apanya?" Tanya balik Elisa


"Ya bagaimana pendapatmu tentang Tuan Muda"

__ADS_1


"Eemmm dia? Dia tampan.... Kaya... Baik hati... Dan juga perfect" Elisa mengatakan itu dengan mata bebinar.


Puspa yang melihat itu agak tidak suka.


"Tau dari mana kalau dia baik hati?" Puspa mendudukkan dirinya


"Filling dong" Elisa terkekeh.


"Kau tidak tau dinginnya dia. Bahkan perkataannya pun sering menusuk hati. Tapi.. Dia juga baik sih" Bathin Puspa


"Kau yakin itu, El?"


"Yakin sekali Puspa.. Dia itu.. Idaman para wanita. Aku sih juga mau jadi istrinya."


'DEG' Puspa merasa sakit di bagian dadanya.


"Kamu? Jadi istri dia?"


"Oh ayolah Puspa.. Siapa sih yang tidak mau mendampingi cowok seperfect dia. Kau beruntung saat bekerja disana, bisa melihat wajahnya setiap hari. Aku iri deh" Elisa ikut duduk dan bersandar di bahu Puspa.


"Bahkan dalam mimpi pun aku tidak pantas berkhayal ada di sampingnya sebagai pendamping"


"El.. Aku merasa.. Suatu saat kita akan berpisah gara-gara satu hal" Elisa mengangkat kepalnya lalu menjitak pelan kepala Puspa. Puspa meringis kesakitan.


"Filling mu jelek. Pakai saja fillingku"


"Haha ada - ada saja" Puspa mencubit pipi Elisa pelan.


"Besok bangun pagi ya, El. Seragam mu kan ada di rumahmu" Elisa menepuk jidatnya pelan.


"Lupa. Hehehe"


🍀🍀🍀

__ADS_1


06:25


"Elisa.. Kamu pergi saja dulu ke kelas ya. Aku ada urusan" Puspa menghentikan langkahnya saat melewati ruang kepala sekolah dan melihat Arga disana beserta Papa nya


"Urusan apa?" Elisa penasaran


"Sesuatu. Kamu masuk saja dulu. Dan ya, hari ini aku piket. Mungkin aku akan di tegur nanti. Sampaikan aku akan sedikut terlambat"


"Hmmm baiklah.. Aku tunggu di kelas" Elisa melangkah meninggalkan Puspa tanpa bertanya lagi.


Setelah punggung Elisa tidak terlihat, Puspa melangkah masuk ke dalam ruangan Kepala sekolah.


'Tok tok tok'


"Permisi .." Ucap Puspa sopan.


"Masuk" Sahut Papa Arga.


3 orang pria itu melihat siapa yang datang.


'Puspa' Arga terdiam


"Puspa.. Ayo duduk dulu..." Ucap Papa Arga ramah. Kepala sekolah bingung atas reaksi Papa Arga. Kepala sekolah tidak tau jika Puspa pernah bekerja di keluarga Arga


"Ah terima kasih Tuan Besar.. Saya ada perlu dengan Tuan Muda. Bisa minta waktunya sebentar?" Tolak Puspa halus.


"Baiklah.. Arga sana" Papa Arga kembali mengambil dokumen-dokumen dari rak..


Arga berjalan mendahului Puspa.. Mereka berjalan ke atap gedung sekolah bagian belakang.


Puspa sedikit ngos-ngosan menaiki anak tangga yang terbilang lumayan banyak.


***

__ADS_1


Kini hanya ada Puspa dan Arga di atap gedung sekolah. Hening... Angin disini lebih leluasa menyentuh tubuh mereka berdua.


Nb: Atap sekolahnya cor-coran ya bukan genteng.


__ADS_2