
Arga membuka pintu ruang rawat inap Puspa, Arga memasang tatapan tajam melihat yang ada di hadapannya
"Kau!" Arga bersiap untuk memukul orang itu
Ilham sontak terkejut dan melepaskan tangan Puspa yang masih belum sadarkan diri.
"Beraninya kau! Cari mati!" Arga langsung memukul wajah Ilham dan melempar tubuhnya ke lantai
Ilham tersungkur di lantai, ia berusaha bangun dengan menahan sakit yang di berikan Arga.
"Sial, sakit yang lama belum hilang, sekarang dia malah menambahnya lagi" gumam Ilham
"Apa hak mu melarangku!" Ilham mengepalkan tangannya
"Bodoh! Laki-laki lemah sepertimu tidak pantas untuknya. Karena dia hanya milikku" Arga berjalan mendekati Ilham,
Ilham berusaha berdiri dan mau melayangkan pukulan pada Arga, Arga yang lebih tinggi dari Ilham dengan mudah menangkis Ilham dan melemparnya ke lantai
Ilham tidak menyerah, ia bangkit lagi dan mengeluarkan sebilah pisau kecil yang ada di balik jaketnya tanpa sepengetahuan Arga.
Ilham menendang kaki Arga dari bawah hingga Arga terduduk, Ilham dengan cepat mengeluarkan pisau kecil itu dan mengarahkannya pada Arga
Arga terkejut, ia berusaha menghindari serangan Ilham
"Mati kau!" Ilham dengan mengerahkan tenaganya
Arga memicingkan matanya dan menatap tajam Ilham. Arga berusaha menangkis serangan Ilham dengan posisinya yang masih berlutut. Arga menangkis pisau itu menggunakan lengannya dan itu membuat lengannya tergores pisau.
"Cih" Arga berdecih, Ilham tersenyum dan menyerang Arga lagi, Arga berhasil menghindari tusukan Ilham dan tanpa ragu menendang perut Ilham hingga ia terjatuh ke lantai. Arga langsung berdiri dan melipat lengan kemejanya yang sudah robek akibat pisau Ilham tadi. Ilham memegangi dan merasakan sakit pada bagian perutnya.
"Rupanya kau memang cari mati" Arga menatap tajam Ilham . Ilham bangkit berdiri, ia tersenyum meremehkan Arga.
"Hoho, ini laki-laki yang ingin memiliki Puspa? Baru serangan kecil sudah terkena" Ilham menyeringai sambil memegangi perutnya dengan tangan kirinya
Arga merasakan perih di lengan kanannya yang terkena pisau tadi.
"Aku tidak akan mengampunimu" Arga berdiri tegap dan memasukkan tangannya ke saku celananya
***
Bapak Puspa memutuskan pulang saja, baru beberapa langkahan kaki, Bapak Puspa terdiam melihat siapa yang datang
"Rina" lirih Bapak Puspa
Rina datang dengan nafas menggebu dan langkah kaki buru-buru
"Bisa-bisanya kau!" Rina mempercepat langkahnya,
Bapak Puspa juga berjalan mendekati Rina, Bapak Puspa dan Rina saling berhadapan
__ADS_1
"Rina, kenapa kau kesini?" tanya Bapak Puspa
"Untuk ini" Rina langsung mengeluarkan batu dari dalam tas nya dan melempar ke rumah Puspa, batu itu mengenai jendela dan jendela itu pun pecah
Bapak Puspa terperangah, ia mengepalkan tangannya
"Rina!! Apa yang kau lakukan!" bentak Bapak Puspa
"Hal ini harusnya ku lakukan dari awal, Mas. Kau menyebalkan" Rina membalikkan badan dan meninggalkan Bapak Puspa
Bapak Puspa tidak menahan kepergian Rina, ia membersihkan pecahan kaca jendela rumah lamanya itu.
Rina semakin kesal karena ia tidak ditahan ataupun di kejar oleh suaminya itu
"Aaarrgghh!!" teriak Rina, ia kembali lagi ke rumah itu dengan emosi yang menguasai dirinya
"Kurang ajar! Akan ku musnahkan rumah sialan ini!"
"Menjijikkan" Rina berjalan setengah berlari, ia tidak mempedulikan kandungannya
Bapak Puspa menoleh
"Rina! Hati-hati, ingat kandunganmu!"
"Persetan! Aku sudah muak dengan keluarga lamamu" Rina berlari,
Rina dengan sekuat tenaga menendang pintu rumah lama Puspa, pintu itu masih terbilang kokoh hingga membuat kaki Rina ngilu
"Awwsss rumah ini juga menyebalkan!" umpat Rina
Bapak Puspa langsung menarik tubuh Rina, Rina memberontak dan ingin menendang pintu itu lagi hingga hancur
"Rina! Pulang sekarang" Bapak Puspa menarik lengan Istrinya itu untuk menjauh dari rumah lamanya
"Lepaskan aku! Akan ku hancurkan rumah sialan ini"
"Sial! Kau kasar, Mas!" Bapak Puspa tidak mendengarkan ocehan Rina dan tetap menyeretnya pulang
Rina menggigit tangan Bapak Puspa yang mencekal lengannya,
"Rinaa!"
"Lepaskan tanganku!!"
"Jangan membuat onar disini, itu membuatku malu!" Bapak Puspa tetap membawa Rina pulang
"Awas saja, akan ku hancurkan rumah beserta dirimu, Puspa" gumam Rina
🍀🍀🍀
__ADS_1
Kembali ke sisi lain di ruang rawat Puspa
"Aku tidak akan mengampunimu" Arga berdiri tegap dan memasukkan tangannya ke saku celananya
"Kau fikir aku akan membiarkanmu hidup?" Ilham menyamankan posisinya untuk menyerang Arga lagi
"Beraninya hanya menggunakan senjata. Pertarungan yang tidak seimbang" Arga menyunggingkan bibir
"Bilang saja kau takut!" Ilham setengah berteriak
"Bicaramu keras sekali, matamu buta. Jika ingin bertarung, mari kita ke suatu tempat" Arga menundukkan kepalanya dan tersenyum
'Deg' Ilham tersentak
"Benar, Puspa pasti terganggu" gumam Ilham
"Baiklah, ayo. Akan ku selesaikan dirimu hari ini. Ini pelajaran untukmu agar tidak menjadi penghalang" Ilham menurukan pisaunya
Arga mengangkat kepalanya dan tersenyum sinis
"Kita lihat saja, sebesar apa nyalimu" ucap Arga. Ilham merasa diremehkan,
"Cih"
Arga berjalan mendekati Puspa, ia menyentuh pipi halus Puspa dengan tangannya.
"Aku yang akan mendapatkanmu, apapun yang terjadi" Arga tersenyum memandangi wajah cantik Puspa
"Tunggu aku" imbuh Arga. Arga beralih menggenggam tangan Puspa.
Puspa mengerjapkan matanya, ia melihat Arga yang tersenyum
"Kau sudah sadar, tunggu aku. Aku ada urusan" ucap Arga lembut.
Puspa melihat ke samping dan mendapati Ilham. Puspa semakin terkejut saat melihat lengan Arga mengeluarkan darah. Arga yang mengerti itu langsung menenangkan Puspa.
"Aku akan kembali" Arga tersenyum,
Dengan tubuh lemasnya, Puspa menahan tangan Arga. Perasaannya tidak karuan
"Aku akan baik-baik saja. Dokter akan memeriksamu setelah ini" Arga meyakinkan Puspa. Puspa dengan berat hati mengiyakan hal tersebut.
Puspa melihat sekilas Ilham tersenyum licik pada Arga. Hal itu membuat Puspa semakin khawatir.
Arga dan Ilham keluar dari ruangan itu, Puspa memejamkan mata berharap Arga akan baik-baik saja
"Tatapan dan senyuman jahat Ilham itu membuatku takut"
"Tuan Muda..." Bathin Puspa
__ADS_1