
Papa Arga mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras
"Mendengar ceritanya saja aku sudah ingin menghantammu, Dion" dengan nada yang dingin dan ditekan
Semuanya terdiam
"Baiklah, katakan keputusanmu mengenai hubungan mereka berdua" Papa Arga buka suara
"Aku minta waktu untuk memikirkannya" sambil menunduk
Papa Arga semakin emosi mendengar jawaban Bapak Puspa
"BRAK!"
"Prangg"
Gelas di meja berjatuhan dan pecah saat Papa Arga menggebrak meja. Semua orang terkejut.
"Papa" Arga memegangi lengan Papanya
"Tuan..."
Papa Arga berdiri dan di ikuti Arga, Bapak Puspa hanya menunduk menahan isak tangis. Bapak Puspa faham jika sampai Papa Arga murka berarti lawannya lah yang salah
Saat melihat raut wajah Rina yang menahan amarah, Puspa langsung berjongkok dan memunguti pecahan belingnya
Baru saja tangan Puspa menyentuhnya, Papa Arga langsung menarik Puspa ke sampingnya
"Jangan menyentuhnya"
"Sejak kapan kau menjadi orang yang plin-plan dan lembek seperti ini, Dion" sinis
"Maaf, ya! Ini rumahku, jangan membuat keributan!" Rina berdiri
Papa Arga tidak menanggapinya
"Kau benar-benar menyiksa anakmu" dingin
"Aku hanya meminta waktu, kenapa kau sangat murka? Dia Puteriku, dia milikku, jadi terserah padaku"
"Bawa dia keluar, Arga" Papa Arga menarik lengan Puspa dan menyerahkan pada Arga
"Tidak, aku akan ikut mengurus hal ini"
"Arga" memicingkan mata
"Aku tidak akan membiarkan Papa terluka sedikitpun" Arga kekeh
"Tuan.."
Papa Arga menepuk bahu Puspa
"Tidak apa, keluarlah dulu"
Puspa kebingungan melihat kekacauan ini. Ini tidak sesuai harapannya
"Arga, jangan keras kepala untuk saat ini"
Arga membuang nafas kasar,
"Baiklah, jika terjadi sesuatu jangan halangi aku untuk melakukan sesuatu"
"Ar-"
"Aku tidak menerima penolakan. Ayo keluar"
Arga menarik lengan Puspa,
"Tapi, mereka..."
"Jika terjadi hal buruk, aku akan bertindak"
Dengan berat hati Puspa mengikuti langkah Arga keluar rumah. Puspa menatap Arga dari belakang
"Sulit, ya?" batin Puspa
Puspa menggenggam tangan Arga, Arga hanya memasang wajah dingin, ia menyamakan langkah kakinya dengan Arga dan berjalan disampingnya
Mereka berdua berada di teras rumah, Arga berdiri dan Puspa duduk di lantai. Arga memandangi langit yang di penuhi bintang malam ini.
__ADS_1
"Arga" panggil Puspa
"Hm"
"Kemarilah"
Arga membalik badan, Puspa menepuk lantai dan meminta Arga duduk di sampingnya. Arga menurut, ia duduk disamping Puspa
Arga masih tetap mamandangi langit
"Apa kita berhenti disini saja?" tanya Puspa secara tiba-tiba
Arga yang mendengar itu langsung menatap Puspa dan memicingkan matanya.
"Kasta kita sungguh berbeda, walaupun orang tua kita bersahabat namun itu tidak dapat menutupi kelas kita" menunduk
"Aku tidak akan menyerah lagi" Arga mengangkat wajah Puspa dan mendaratkan kecupan lembut di pipi Puspa
Air mata Puspa tak mampu lagi di bendung
"Kita akan segera menemukan jalan bersatu" Arga langsung memeluk Puspa
"Jangan tinggalkan aku lagi"
"Tapi hikss.. Bapak..."
Arga semakin mempererat pelukannya
"Aku tidak akan diam saja"
***
"Kami sudah menerimamu, jangan seenaknya sendiri mengacau" Rina emosi
"Dion, aku tidak menyukai dirimu yang sekarang"
"Kau tidak mendengarku!" sela Rina
"Aku ingin bicara dengannya 4 mata saja. Jangan ikut campur" menatap sinis
"Aku ini Istrinya!"
"Apa katamu?! Orang luar? Sudah ku bilang aku ini Istrinya!"
"Kau bukan Ibu dari Puspa"
'DEG'
"Kurang ajar!"
"Rina, tolong tinggalkan kami" ucap Bapak Puspa
"Mas!"
"Biarkan kami berdua"
"Aku ini Istrimu!"
"Keluarlah atau ku talak"
Rina tidak dapat melawan, ia menghentakkan kakinya, ia pergi ke kamar dan meninggalkan mereka berdua
"Jangan terlalu kasar pada Istriku, Arya"
"Kau juga jangan menyiksa anakmu. Jika kau tidak bisa menanggungnya, serahkan saja dia kepadaku" Papa Arga duduk
"Sudah ku bilang kau tidak akan mengerti"
"Apa yang tidak ku mengerti? Keegoisanmu? Kebodohanmu? Atau lainnya?"
"Kau tidak merasakan di posisiku!" Bapak Puspa mengangkat kepala
"Apa yang harus di rasakan? Aku juga tidak mau merasakan posisi orang yang buta sepertimu"
"Ini pertemuan kita setelah belasan tahun. Tidak kusangka akan semenyakitkan seperti ini" ucap Papa Arga
Bapak Puspa menatap sahabatnya itu tanpa berucap
"Katakan, apa alasanmu menolak Puteraku" dengan tegas
__ADS_1
"Mereka baru mengenal, mereka sering tidur serumah, Arya!"
"Ada lagi?"
"Puteriku itu masih gadis, serumah tanpa status pernikahan tidaklah di perbolehkan! Bagaiamana jika ia ternodai?!"
Papa Arga menahan amarah
"Ada lagi?" dengan santai
"Kenapa kau malah santai, hah?! Bagaimana jika Puterimu melakukan hal yang sama seperti mereka berdua?"
"Pertanyaanku, siapa penyebab dari semua ini?" Papa Arga sambil menyeringai
Bapak Puspa langsung terdiam
"Jawablah, ulah siapa yang menyebabkan seorang gadis sampai berada di titik saat ini?"
"Arga adalah keturunanku, dan aku percaya Arga tidak akan berani menodai Puspa"
"Cukup Arya!" Bapak Puspa berdiri
"Berhenti bicara omong kosong, pulanglah atau aku akan menolak langsung malam ini"
Papa Arga ikut berdiri, ia berjalan kesamping Bapak Puspa
"Jawab pertanyaanku tadi?"
"Sudah ku bilang, pulanglah!" Bapak Puspa menitikkan air mata
"Jawab pertanyaanku" dengan tatapan dingin
"Kau tidak mengerti bahasa manusia?!" dengan suara keras
"Jawab pertanyaanku" dengan penuh penekanan disetiap katanya
"Pergilah!!"
"PLAAAK!!"
Tamparan keras mencium wajah Bapak Puspa hingga ia tersungkur ke lantai
Darah segar keluar dari sudut bibir Bapak Puspa, ia menyekanya.
Papa Arga menarik kerah kemeja Bapak Puspa hingga ia berdiri
"Jawab pertanyaanku. Ulah siapa hingga kita bisa sampai di detik ini"
Bapak Puspa berusaha melawan, namun Papa Arga langsung menendang kakinya dan menjatuhkan Bapak Puspa lagi
"APA KAU TIDAK MAMPU BELI CERMIN? MAU KU BELIKAN? APA KAU BUTUH CERMIN AJAIB YANG BISA MENJAWAB PERTANYAAN INI?! APA HATIMU SUDAH MATI? MATAMU BUTA? KAU TIDAK BUTA, TAPI KAU BERUSAHA MENJADI BUTA!"
Puspa dan Arga mendengarnya, mereka segera menuju ruang tamu. Puspa membeku melihat kedua lelaki itu, Arga merangkul Puspa
"KEMANA DIRIMU YANG DULU, HAH?!"
"Plaakk!!" tamparan lagi dari Papa Arga
"SELAMA INI AKU MENCARI KEBERADAANMU NAMUN KETIKA BERTEMU KAU SUDAH BUKAN DIRIMU LAGI! PRIA MACAM APA, KAU? BAPAK MACAM APA? SUAMI MACAM APA? KAU MEMBIARKAN PUTERIMU SENDIRIAN, BO*DOH!"
"DIA INGIN BAHAGIA, LAGI-LAGI KAU MENGHALANGINYA! SIAPA KAU SEBENARNYA?! PEREMPUAN ITU MERUSAKMU, MENGUBAHMU, DIA MENGAMBIL SAHABATKU!"
"Bugh" Papa Arga memukul wajah Bapak Puspa, sambil melancarkan pukulan, air mata Papa Arga terus mengalir, matanya memerah
"KENAPA KAU MELAKUKAN SEMUA ITU, DION! JAWAB AKU!! KAU PUNYA MULUT, BO*DOH"
Papa Arga berhenti memukul, air matanya menetes di tangan Bapak Puspa
"KAU MEMBUATKU BANYAK BICARA! KEMANA DIRIMU YANG DULU! HARUSKAH KU HABISI PEREMPUAN ITU SUPAYA KAU BISA MENJADI DIRIMU YANG DULU?!"
"Uhukk... Arya, Istriku tidak bersalah. Uhuk. Jangan sakiti dia"
"TIDAK BERSALAH? MATAMU BENAR-BENAR BUTA!!!"
"Bapak... "lirih Puspa
"Biarkan mereka menyelesaikannya" Arga mengelus kepala Puspa
"Papaku seperti ini karena peduli padanya"
__ADS_1
Puspa mengangguk