Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Ganti Beras!


__ADS_3

Setelah siap, Mama Arga pun pulang dari Rumah Sakit pada sore harinya. Mereka menaiki mobil yang berbeda dan Adik Puspa di bawa oleh Papa Arga.


Puspa dan Arga sama-sama diam, Puspa menyesali perkataannya tadi terhadap Arga.


"Aku harusnya tidak berkata seperti itu" batin Puspa


Arga merasakan suasana yang berbeda semenjak Puspa diam sedari tadi.


"Hm"


Puspa hanya menoleh pada Arga yang berdehem


"Kau sudah sarapan?" tanya Arga yang membuat Puspa ingin tertawa


"Jangan melawak"


"Hm"


Puspa menahan tawanya, ia tidak tau maksud Arga bertanya seperti itu. Dan Arga mengutuk dirinya karen menanyakan hal bodoh itu


"Aku ingin mengajaknya makan siang, tapi yang keluar adalah perkataan lain" batin Arga


"Aku lapar" ucap Arga singkat


Puspa melirik tanpa menangapinya dengan perkataan, Arga juga melirik sekilas ke arah Puspa karena Puspa tidak merespon seperti yang ia ingin


Arga menarik nafas dalam-dalam


"Aku tidak menyukai dirimu yang seperti ini. Apa yang kau inginkan?"


"..."


"Benar, apa yang ku inginkan?" batin Puspa


Arga mulai kesal, ia menghentikan mobilnya di tepi jalan yang tidak ramai. Puspa mengerutkan dahi


"Kenapa berhenti?" Puspa celingak celinguk ke luar jendela mobil


"Disini tidak ada yang jual makanan" Puspa bingung


Saat Puspa kembali ke posisi duduknya, ia terkejut saat Arga sudah di dekatnya. Hembusan nafas mereka dapat di rasaka satu sama lain


"Aiiissshh" Puspa mendorong pelan badan Arga di bagan dadanya agar tidak terlalu dekat seperti ini


Wajah Puspa memerah ketika Arga mencekal pergelangan tangan Puspa dan jarak mereka semakin dekat.


Fikiran Puspa sudah kemana-mana, badannya juga gemetar. Puspa memalingkan wajah


"Sebegitunya kau menyukai dadaku?" tanya Arga tiba-tiba


Puspa mengedipkan mata berkali-kali, ia menarik tangannya dari cekalan Arga


" Apa sih, itu kan wajar. Memangnya kau mau ku dorong pakai kaki?" Puspa tetep memalingkan wajahnya


Ia malu sudah salah sangka pada Arga


"Kau memang mesum" dengan suara pelam namun Arga masih mendengarnya dengan jelas.

__ADS_1


Dengan posisi mereka saat ini, Arga bisa menghirup aroma wangi rambut Puspa dan melihat wajah Puspa dengan sangat jelas, terutama bentuk dan tekstur bibir Puspa


'Cantik' itulah yang Arga simpulkan


Arga terkejut saat ia merasa sesak di bagian bawah, ia langsung kembali ke posisi duduk normal dan menyalakan mobil kembali. Karena Arga adalah laki-laki normal, jadi ya begitulah. Puspa tidal sengaja melihat ada yang berbeda di antara perbatan paha atas dengan perut


Tidak ada yang memulai pembicaraan lagi hingga mereka sampai di kediaman keluarga Arga


Arga baru saja akan membukakan pintu untuk Puspa, namun Puspa keluar terlebih dahulu. Ia pun langsung masuk ke dalam dan meninggalkan Arga yang mematung di dekat mobilnya


Puspa menggeleng-geleng kepala setelah berhasil masuk ke dalam rumah.


"Ehem, ada apa ini?"


Puspa di kejutkan oleh Bi Ina yang melihatnya


"Tidak ada, hehe" Puspa menggeleng, wajahnya masih terasa panas


"Oh iya, Tuan Besar menunggu kamu dan Tuan Muda untuk di ruang makan"


"Eh? Terimakasih, Bi Ina. Puspa kesana dulu ya"


Bi Ina mengangguk, Puspa menuju ruang makan dan benar saja Papa Arga sudah duduk disana


"Eee.. Permisi" ucap Puspa


Papa Arga menoleh


"Duduk, Nak"


Puspa mengangguk. Ia pun duduk tidak jauh dari Papa Arga


"Ee..." Puspa bingung menjawab karena ia main masuk dan meninggalkan Arga


"Aku disini" Arga muncul lalu duduk di samping Puspa


Puspa langsung menunduk saat Arga duduk di sampingnya


"Kenapa kau di sampingku?" bisik Puspa


"Memang ini rumah siapa?" Arga bertanya balik dengan suara pelan


Puspa memanyunkan bibir


"Kalian bertengkar?" tanya Papa Arga


"Tidak" jawab Arga dengan santai. Bi Ina dan pembantu lainnya datang membawa minum dan beberapa buah-buahan


"Yang benar?" Papa Arga tidak percaya


Arga menyikut tangan Puspa dan Puspa langsung mengangkat kepalanya


"Eh?! Iya, kami tidak ada masalah kok" dengan senyum lebar


"Oke. Sepertinya cuaca sangat panas hari ini, wajah Puspa masih merah"


Mata Puspa membulat, ia langsung memegangi kedua pipinya yang terasa panas

__ADS_1


Papa Arga tersenyum tipis..


"Mari kita makan, Papa tau kalian juga lapar kan?"


Arga mengangguk, ia menunggu giliran untuk mengambil nasi setelah Papanya


Lapar dan malu, itu yang Puspa rasakan. Saat tiba gilirannya untuk mengambil nasi pun tangannya gemetaran. Arga langsung merebut centong nasi dari Puspa dan mengambilkan Puspa nasi


"Cukup?" tanya Arga dengan datar


Puspa mengangguk


"Tidak usah gugup begitu, kau pun sudah pernah ku suapi" bisik Arga


Mendengar itu Puspa refleks mencubit pelan paha Arga yang bagi Arga rasanya geli


Papa Arga merasa dirinya sedang menjadi obat nyamuk untuk pasangan di depannya ini


"A-Anu, Adik saya?" tanya Puspa


"Oh, dia tidur bersama Mamanya Arga. Tenang saja"


Puspa mengangguk pelan dan kembali fokus pada makanan di hadapannya. Puspa menyendok nasi dan tiba-tiba ingatan melihat 'fenomena' tadi membuatnya malu seketika.


Tanpa sadar ia menggeleng kepala dengan cepat dan membuat kedua orang itu keheranan


"Kau baik-baik saja?"tanya Arga


Puspa melototi Arga, Arga semakin kebingungan. Meski begitu ia melihat Puspa seperti ini membuat dirinya merasa gemas pada Puspa


"Puspa, kau baik-baik saja?" tanya Papa Arga


Puspa langsung menoleh pada Papa Arga dan tersenyum


"Iya, Saya baik-baik saja, kok" Puspa menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba gatal


Papa Arga mengangguk, ia melanjutkan makannya. Melihat Puspa yang tidak kunjung makan membuat Arga ingin menawari bantuan padanya


"Apa perlu ku suapi lagi?" tanya Arga dengan suara lantang


'Uhuukkk!'


Papa Arga tersedak, ia langsung minum dan mengatur nafasnya. Puspa menutupi wajah dengan tangan kirinya, dan Arga mematung. Ia merasa tadi sudah memelankan suaranya namun yang terjadi malah sebaliknya


"Aduh, ini nasinya kurang pulen, Bi. Nanti ganti beras!" bohong Papa Arga


Bi Ina datang dari dapur dan berdiri di hadapan Papa Arga sambil menundukkan kepala


"Maafkan saya, Tuan Besar. Sesuai perintah" Bi Ina kemudian kembali lagi ke dapur


Seakan tidak mendengar apa-apa, Papa Arga melanjutkan makan dengan santai sambil senyum-senyum tipis


"Kalian kenapa berhenti makan? Nasinya keras ya? Biar di ganti saja"


Papa Arga membuka mulut akan memanggil pembantu lagi namun Puspa langsung menahannya


"Tidak, tidak. Ini saya makan kok. Selamat makan" sambil tersenyum.

__ADS_1


Puspa langsung menyantap makanannya dengan gemetar dan rasa malu yang meledak-ledak dalam dirinya, sedangkan Arga ia gemetaran dan terus berusaha makan dengan normal.


__ADS_2