
"Sedang apa disini?"
Elisa terkejut
"Puspa, kenapa kau disini?" Elisa kikuk
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu" Puspa berdiri di samping Elisa
Elisa melirik Puspa, Puspa sangat cantik saat di Make-Up begini.
"Kau ada masalah, ya?" tanya Puspa
"Tentu, kau tiba-tiba bertunangan seperti ini, aku masih jomblo loh" sambil terkekeh
"Hehehe maafkan aku" Puspa meraih tangan Elisa dan menggenggamnya
"Terima kasih ya sudah mau hadir, aku tau hatimu pasti sakit, bukan?"
"Eh" Elisa terkejut akan ucapan Puspa
"A-Anu, seperti yang ku katakan tadi, kau bertunangan tidak menunggu aku punya pasangan"
Elisa merasakan genggaman tangan Puspa semakin erat
"Aku tau yang sebenarnya, El" ucapnya pelan
Elisa mematung, hatinya berdesir. Dinginnya malam tak lagi terasa dingin, Elisa agak panik. Suasana menjadi tegang sampai akhirnya Puspa buka suara
"Sejak kapan Puspa tau?" batin Elisa
"Ahaha tapi aku yakin kau tidak akan melakukan hal yang tidak seharusnya kan? Karena kita adalah sahabat" ucap Puspa dengan ceria
Elisa mengangguk tanpa bersuara
"Jadi tolong maafkan aku, ya" sambil tersenyum lebar
Elisa langsung memeluk Puspa dengan erat
__ADS_1
"Kenapa harus minta maaf? Dari awal memang Arga adalah milikmu" ucap Elisa yang masih berpelukan
"Karena aku menyakiti hatimu"
"Tidak" Elisa menyangkalnya
"Aku tidak tersakiti, aku akan lebih tersakiti jika kau disakiti" Elisa mempererat pelukannya
Mereka tidak menyadari keberadaan Arga yang memantau Puspa, ketika mereka berpelukan Arga pun masuk kembali
Bagi Puspa Elisa adalah salah satu orang penting di dalam hidupnya. Elisa melepas pelukannya
"Aku membeli tas untukmu, aku lupa membawanya tadi"
"Eh? Berapa harganya? Nanti aku ganti"
"Tidak, anggap saja itu hadiah pertunangan untukmu"
"Aaaaa terima kasiiiihhh" Puspa kembali memeluk Elisa
Keesokan paginya
"Hmmm di rumah sebesar itu apa kau tidak merasa malu?" Rina meletakkan masakannya di meja
"Sahabatku memang kaya, dulu aku beberapa kali kesana, jadi aku tidak merasa asing"
"Hmmm, saranku kau harus cari pekerjaan yang gajinya besar, Mas. Apalagi kalau mereka jadi menikah nantinya. Malu, besan kita konglomerat seperti dan kita hanya seperti ini"
Bapak Puspa hanya diam. Ia teringat masa-masa dengan mendiang Ibu Puspa.
"Mas" panggilan Rina membuyarkan lamunannya
"Mas mendengar apa yang ku katakan tidak? Pagi-pagi begini sudah membuatku kesal saja" Rina masuk ke kamarnya
Disisi lain di rumah Arga
Puspa ikut sarapan dengan keluarga Arga, Mama Arga masih belum mengatakan apapun.
__ADS_1
"Kalau kau mau, kau bisa menginap disini lagi malam ini"
"Terima kasih, Tuan besar, tapi aku akan pulang"
"Jangan panggil aku seperti itu, kau akan segera menjadi menantuku"
Puspa jadi tersipu malu,
"Nah, kau harus lembur nanti. Semakin cepat uangnya terkumpul maka semakin cepat kalian menikah"
"Uhuuk" Arga terbatuk
"Pa, berhenti menggodaku"
"Bagaimana ya, kalau tidak di goda maka kalian terlalu lama untuk menikah. Kolega Papa sudah hampir punya cucu semua. Papa kan juga ingin mempunyai cucu"
Puspa semakin blushing. Belum selesai sarapan bersama, Mama Arga berdiri dan meninggalkan ruang makan. Puspa yang melihat itu jadi sungkan
"Jangan di fikirkan" ucap Papa Arga yang melihat raut wajah Puspa yang sedih
"Nanti Papa yang akan bicara dengannya"
****
"Terima kasih" ucap Puspa setelah di antar Arga
"Kalau mau kemana-mana beri kabar"
"Hmmm sudah mulai posesif nih"
"Hm. Aku berangkat"
"Iya, hati-hati. Selamat bekerja"
Kecupan hangat mendarat di kening Puspa
Puspa melambaikan tangan saat Arga sudah masuk ke mobil, Arga tidak membalasnya walau di dalam hatinya ia kegirangan
__ADS_1