Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Kamar Ortu Puspa


__ADS_3

🍀🍀🍀


22:00


Elisa memandangi bingkai foto yang berisi fotonya dengan Puspa. Senyum lebar itu sangat berbeda dengan senyumnya yang saat ini.


"Hhhh kenapa ini harus terjadi padaku? Apa disetiap kisah percintaan seorang sahabat akan menjadi pihak ketiga?"


"Cih, menyebalkan!" Elisa membalik bingkai foto itu dan meletakkannya di meja kamarnya


***


'Tok tok tok'


Puspa membetulkan selimutnya, samar-samar ia mendengar ketukan pintu


'Tok tok tok'


"Eenghhh"


Puspa berusaha membuka matanya


"Malam-malam begini" Puspa menyingkap selimutnya dan berjalan untuk membuka pintu


"Hooaaammmm"


'Tok tok tok'


"Sebentar..." Puspa membuka pintu dengan lemas dan mendapati Arga dengan tangan bersedekap


"Lama" protes Arga


"Tuan? Kau? Hooaammm"


Arga langsung masuk ke dalam dan menutup pintu


"Masih jam 10 dan kau sudah tidur"


"Dan kau kurang kerjaan di jam segini malah bertamu"


Puspa membuka matanya lebar-lebar, ia bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka


"Aaiissshh aku merasa lelah hari ini"


Puspa menyeduh teh untuk Arga sambil menahan kantuk


"Apa kau memasaknya sendiri tadi?" tanya Arga dari ruang tamu


"Dari hiasannya pun kau pasti tau, Tuan. Jangan mengejekku seperti itu" Puspa memanyunkan bibirnya


"Maaf hanya ada teh" sambil meletakkan teh di meja


"Hm, apa uang dariku habis?"


"Mmwweheheh sudah menipis" Puspa mengucek matanya


Arga menepuk kursi agar Puspa duduk disebelahnya

__ADS_1


"Hooamm!" Puspa dengan lemas dan langsung menjatuhkan dirinya di samping Arga


"Kau memang menyebalkan, menganggu waktu tidurku"


Arga merangkul bahu Puspa dan menariknya hingga Puspa bersandar di bahu Arga


"Tidurlah" ucap Arga


"Nanti kau malah macam-macam"


"Aku bukan pria mesum!"


Puspa terkekeh, ia pun menurut dan bersandar di bahu Arga. Tidak butuh waktu lama Puspa kembali terlelap.


"Terima kasih" Arga tersenyum sambil meminum teh


Melihat Puspa yang terlelap dengan mulut sedikit terbuka membuat Arga gemas, ia langsung mencium kening Puspa dan lebih mengeratkan rangkulannya


"Bersabarlah, aku sudah memutuskan akan menikahimu dalam waktu dekat" bathin Arga


"Aku tidak tau bagaimana cara mengutarakan perasaanku, aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi aku ingin selalu di dekatmu"


Arga melirik jam tangannya


Sudah jam 12 malam, tapi Arga masih tidak berniat angkat kaki dari kediaman Puspa. Merasa bahu dan lengannya mulai kebas, Arga mengangkat Puspa dan menidurkannya di kamar.


Arga berjalan ke dapur tidak menemukan bahan-bahan yang bisa di olah, ia mengelus perutnya yang mulai keroncongan


"Bodohnya aku tidak membeli apapun sebelum kesini" umpat Arga


Bukannya keluar cari makan Arga memilih untuk masuk ke kamar orang tua Puspa


Arga penasaran, ia masuk perlahan dan menekan saklar lampu


"Kalau tidak boleh di masuki harusnya dikunci, payah"


Arga menyisir ruangan itu dari sudut ke sudut.


"Memang sudah waktunya di renovasi" gumam Arga.


Kamar yang tidak di tempati dengan barang-barang yang masih utuh. Arga melepas tali yang mengikat kasur yang telah digulung, ia mengibas debu-debu saat kasur berhasil dilepaskan.


Arga duduk di ujung ranjang dan menyisir kembali kamar tersebut , ia merasakan hawa dingin dan sedikit aneh.


Tentu saja ia tidak percaya akan adanya hantu dan semacamnya karena saat ini adalah zaman modern, bukan zaman kuno lagi. Menurutnya hantu dan kawan-kawannya hanyalah ilusi semata bahkan hanya cerita yang dibesar-besarkan hingga mendarah daging di masyarakat, tetapi bukan berarti Arga tidak percaya pada semua yang berbau ghaib


"Karena lama tidak digunakan, ruangan ini terasa dingin dan tidak sedap di pandang" Arga merebahkan dirinya dan memandangi langit-langit kamar


Sangat berbeda dengan pemandangan dirumahnya yang megah, lampu di kamar tersebut juga terasa agak redup.


"Hm? Kenapa aura kamarnya berbeda? Siapa wanita itu? Ibunya Puspa?"


Samar-samar Arga melihat sosok perempuan yang tengah mengarahkan gunting ke pergelangan tangannya, Arga menebak hal itu bermaksud memutus urat nadinya.


"Bunuh diri?" Arga tidak habis fikir


Sosok tersebut batal bunuh diri dan berjalan untuk meletakkan gunting yang ia pegang tadi.

__ADS_1


"Hmmm"


Arga membuang nafas lega sosok itu tidak jai bunuh diri. Baru saja lega, Arga membulatkan matanya saat sosok perempuan itu tertusuk gunting yang ia duga itu mengenai jantung. Arga tidak bisa berkata-kata, ia bergetar saat melihat darah mengalir.


"Bodoh!" umpat Arga,


Arga berlari mendekati sosok tersebut untuk menolongnya, semakin ia berlari semakin ia jauh dari sosok perempuan itu, ia menghentikan langkahnya dan ia masih saja tetap di posisi tadi.


"Dia bisa mati!" Arga mengepalkan tangannya, ia berusaha lari lagi dan sama seperti tadi ia semakin jauh dari sosok perempuan itu


"Sial!!!" Arga berteriak, dan benar saja saat Arga berhenti ternyata ia masih di posisi tadi.


Arga mengatur nafasnya, walau posisinya tidak berubah sedikitpun tetapi lelahnya berlari tetap berefek padanya, hawa disekitarnya terasa dingin tetapi ia masih terus berkeringat


Arga mulai kebingungan dengan keadaan ini. Sosok perempuan itu tiba-tiba berdiri dan mencabut gunting dari dada kirinya, darah mengucur dari dada kiri sosok tersebut.


Arga mundur beberapa langkah, ia terkejut saat mundur bukannya menjauh tetapi membuat jarak mereka dekat.


"Siapa wanita ini, sialan!" Arga mengepalkan tangannya


Sosok perempuan itu semakin mendekat, Arga panik saat sosok perempuan itu mengangkat wajahnya dan sudah dilumuri darah. Sosok itu berjalan tertatih ke arah Arga dengan menahan darah yang terus mengalir dari dada kirinya


"Apa ini?! Jantungnya tertusuk dan dia masih bisa berjalan!" Arga mulai panik, wajahnya pucat


Sosok itu semakin mendekat, Arga mengatur nafas supaya tenang, ia memejamkan matanya berharap ini hanya mimpi. Saat membuka matanya, sosok perempuan itu telah berada di depannya, jarak mereka hanya 10 cm. Arga tidak bisa mengeluarkan suaranya.


Sosok itu melempar gunting tadi, sosok itu tersenyum pada Arga sambil mengoleskan darah di pipi Arga. Arga semakin shock karena darah itu terasa seperti darah asli


Sosok itu juga mengoleskan darah di dada Arga, Arga merasa ada yang mengikat dirinya hingga tidak bisa berkutik


"Tuan!"


"Tuan!!"


Suara yang mirip dengan Puspa menggema di kamar tersebut, Arga berusaha berteriak dan mencari asal suara


"Tuaaann!!! Bodoh!"


"Tuaaaannn!! Banguun!!"


Suara itu terus muncul tanpa kehadiran siapapun


"Tuaaaannnnnn!!!"


Arga membuka matanya dengan cepat, nafasnya tidak teratur. Ia langsung bangun dan memandangi sekelilingnya


"Halo? Tuan?" Puspa menepuk kedua sisi pipi Arga


"Tarik nafass" Puspa mengarahkan Arga


"Puspa!" Arga langsung memeluk Puspa dengan erat,


"Tuan, tubuhmu gemetar. Mimpi buruk?" tanya Puspa sambil mengelus punggung Arga


Tidak menjawab pertanyaan Puspa, Arga mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di dada Puspa


Puspa diam mematung, merasakan hembusan nafas hangat di buah dadanya.

__ADS_1


"Eh?!"


__ADS_2