Pantaskah Aku Untukmu

Pantaskah Aku Untukmu
Membujuk


__ADS_3

Puspa menceritakan sedikit apa yang terjadi, Papa Arga mengangguk memahaminya. Bi Ina semakin sedih setelah tau kebenarannya


"Jadi apa kau benar-benar menolak Arga?"


Puspa menggeleng.


"Maaf, saat itu saya tidak bisa membelanya" Puspa menunduk


"Hmm... Yah, anak itu sudah mengurung diri sih semenjak pulang dari sini. Pekerjaannya terbengkalai"


Puspa terkejut


"Mengurung diri?" panik


Papa Arga mengangguk,


"Apa yang telah ku lakukan?" batin Puspa. Ia panas dingin dan menyalahkan dirinya


"Kami sudah membujuknya, tapi dia tidak merespon sedikitpun. 2 hari ini dia mungkin hanya mengkonsumsi air. Aku penasaran dengan penampilannya saat keluar kamar nanti" ucap Papa Arga dengan santai


"Bisa-bisanya Tuan Besar santai begitu, padahal anaknya mungkin sedang tersiksa saat ini"


"Jika kalian berdua serius, aku akan bicara dengan Bapakmu itu"


Puspa mengangkat kepalanya, ia melirik Papa Arga


"Aku tidak bercanda. Tapi itu hanya berlaku jika kalian serius dan mau berjuang mendapat restu dari Bapakmu itu. Aku tidak akan menggunakan kekerasan, yah mungkin sedikit"


sambil menjetikkan jari


Setelah merasa sedikit lega, Puspa kembali murung


"Tapi saya sudah mengatakan hal yang tidak seharusnya. Tuan Muda pasti akan langsung berubah fikiran tentang hubungan ini"


"Hmmmm.. Arga baru kali ini sampai mengurung diri gara-gara perempuan"


'Deg' rasa bersalahnya semakin besar


Semuanya terdiam, Puspa bergelut dengan perasaan campur aduknya


"Kau juga harus bertanggung jawab atas apa yang di lakukan Putraku itu" Papa Arga berdiri


"Eh? Maafkan saya, Tuan Besar"


"Keluarkan dia dari kamar itu, kemudian selanjutnya kuserahkan pada kalian berdua"


"Apa saya bisa, Tuan?"


Papa Arga menghendikkan bahu, ia berjalan keluar rumah


"Jika kau bersedia, ikutlah sekarang dan keluarkan dia" Papa Arga berjalan ke mobilnya


"Eeeeeh"


Bi Ina menyentuh tangan Puspa dan meyakinkan Puspa. Puspa mengangguk, ia langsung menyeka sisa-sia air matanya dan masuk ke kamar untuk bersiap


Papa Arga tersenyum tipis,


"Aaaahh seperti mengulang masa mudaku" gumamnya


10 menit kemudian Puspa keluar dari kamar dengan pakaian rapi dan riasan wajah yang tipis, Bi Ina berdiri. Mereka keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil


Papa Arga tersenyum saat Puspa memilih untuk membujuk Putranya yang keras kepala itu. Papa Arga berfikir seorang Ayah model Bapak Puspa itu sangatlah mudah diatasi, dengan uang juga sudah cukup.

__ADS_1


"Semoga berhasil" ucap Papa Arga saat Puspa dan Bi Ina masuk ke dalam mobil


"Anu, terimakasih Tuan Besar. Maaf telah membuat masalah"


"Ah tidak, tidak. Arga saja yang terlalu lebay. Perempuan selalu benar"


Puspa tidak tersinggung, ia malah merasa sedikit terhibur


"Arga,"


Bi Ina terus menggenggam tangan Puspa supaya Puspa tidak terlalu gugup. Sesekali Bi Ina ingin menanyakan pada Puspa, apakah ia sudah makan atau belum, apakah dia menjaga dirinya 2 hari ini. Karena wajah Puspa terlihat lesu dan semakin kurusan


Ia tidak bisa bicara bebas karena ada majikannya, di dalam hatinya sudah banyak kehawatiran serta ingin menyerbu Puspa dengan pertanyaan


"Aku baik-baik saja" ucap Puspa sambil tersenyum pada Bi Ina


"Dia fikir bisa membohongiku" batin Bi Ina


Di sepanjang perjalanan Puspa merasa sedikit pusing dan sedikit mual. Namun ia tetap memasang wajah ceria dan sesekali menarik nafas untuk menghilangkan rasa gugupnya


***


Andre belum ada niatan Pulang. Ia berharap Yuli lekas muncul di hadapannya


***


'Ckiitt'


Kini mereka sudah sampai di kediaman keluarga Arga. Puspa menarik nafas dalam-dalam sebelum turun dari mobil


Bi Ina keluar terlebih dahulu, kemudian Papa Arga. Karena tak kunjung turun, Papa Arga membukakan pintu untuk Puspa


Puspa terkesiap


Papa Arga kembali memasang wajah datar, ia masuk ke dalam rumah di ikuti Bi Ina yang menggandeng Puspa


Hawa dingin menyambut Puspa, setelah beberapa bulan ia tidak lagi menginjakkan kaki dirumah mewah ini


"Tidak apa-apa. Tuan Besar yang membawamu" ucap Bi Ina yang mengerti Puspa masih takut pada Mamanya Arga


Langkah kaki Puspa rasanya berat sekali, apalagi saat ia mengingat momen-momen menuju keluarnya ia dari rumah ini. Tiba-tiba hadir ingatan semua perlakuan buruk Mama Arga.


"Anu, Nyonya?"


"Tenang. Ingat, kamu kesini untuk bertanggung jawab, bukan?. Laksanakan saja tugasmu"


Puspa mengangguk, ia mengumpulkan keberanian dan tersenyum


Bi Ina mengantar Puspa ke depan kamar Arga


"Bibi tinggal, ya. Semoga berhasil"


Puspa mengangguk,


Suasana mencekam kembali menemani Puspa saat Bi Ina sudah tidak lagi di dekatnya. Ia takut tiba-tiba Mama Arga nongol


Puspa menghirup oksigen sebanyak-banyaknya


'Tok tok tok'


"A-Anu, Tuan" Arga yang mendengar ketukan pintu serta suara Puspa, ia langsung lari kegirangan dari balkon dan mendekat ke pintu kamar


"Eh, anu, Argaaa" panggil Puspa

__ADS_1


'Tok tok tok'


"Ar-Argaaaa, ini aku"


Tidak ada sahutan. Puspa panik.


'Tok tok tok'


"Argaaaaa, ini aku. Tolong buka pintunya"


"Hm" sahutan dari dalam kamar


"Sudah kuduga akan sedingin ini"


"Keluarlah, aku ingin berbicara denganmu" Puspa menempelkan dahinya di pintu kamar


Di ruang keluarga Papa Arga sedang memegangi Istrinya yang siap mengamuk.


"Hm" hanya ini sahutan Arga


"Kumohon"


"Hm" sambil menyentuh pintu kamar, ia mendengar suara Puspa dari balik pintu dengan perasaan bahagia


"Kumohon, keluarlah. Aku ingin bicara"


"Bicara saja, kau tidak bisu kan"


Puspa mulai jengkel. Ia diam. 5 menit Puspa tidak bersuara membuat Arga penasaran namun ia ogah membuka pintunya


"Keluarlah" pinta Puspa dengan nada sedikit kesal. Arga tersenyum tipis mendengarnya


"Aku menolak"


Puspa tidak lagi bisa bersabar, ia memukul pintu dengan keras


"KELUAR!!" Arga dan orang tuanya terkejut


"Pa, lihat perempuan itu. Dia menggertak anak kita" Mama Arga berusaha lepas dari genggaman suaminya


Jujur saja Papa Arga juga terkejut, namun ia tidak boleh membiarkan Istrinya ikut campur dulu


Arga diam tidak menyahut lagi, Puspa dengan lemas berkata


"Yasudah kalau kau tidak mau keluar. Aku minta maaf atas perlakuanku maupun Bapakku. Aku pergi" Puspa mengelus pintu dan melangkah


Arga mengepalkan tangan. Sudah tidak ada suara Puspa lagi.


"Dia benar-benar pergi?" gumam Arga dengan kecewa


Tiba-tiba ia teringat akan laki-laki yang mengejar dirinya yang tidak lain adalah Ilham dan Andre


Dengan cepat Arga membuka pintu, ia kecewa saat melihat lurus di depannya dan sudah tidak ada Puspa


"Baaaaaaa!!" Arga terkejut, ia memutar pandangannya ke sebelah kanan dan mendapati Puspa sedang nyengir lebar tanpa rasa bersalah sedikitpun


Memang benar Puspa melangkah pergi tadi, hanya saja langkahnya menyamping.


"Bo*doh!!" dengan suara keras dan sedikit bergetar


Puspa menggaruk sikunya dan tersenyum lebar


"Apa aku mengejutkanmu?hihi"

__ADS_1


Puspa membuka matanya dan Arga langsung memeluk Puspa dengan erat.


__ADS_2