
Sesampainya di Rs, Puspa langsung turun dari mobil dan membawa buah-buahannya tanpa menoleh pada Arga.
Puspa menghentikan langkahnya.
"Terima kasih tumpangannya. Lain kali akan ku bayar" Puspa berucap tanpa menoleh Arga
Arga menaikkan satu alisnya.
"Dia kira aku sopir taxi? Gila." Arga memukul setir mobil
"Apa dia marah? Konyol. Tentu saja marah" Arga turun dari mobil dan mengikuti Puspa dari belakang
Puspa merasa ada yang mengikutinya. Ia menoleh ke belakang sekilas.
"Sudah ku bilang lain kali ku bayar. Uangku tertinggal" Ucap Puspa menggembungkan pipinya dan menahan rasa jengkel di dadanya.
"Kau fikir aku sopir, hah?!" Pengunjung Rs menoleh pada Arga.
"Maaf" Ucap Arga spontan dan berjalan cepat untuk menyamakan langkah dengan Puspa. Puspa semakin mempercepat langkahnya saat Arga di sampingnya.
Arga juga mempercepat langkahnya
"Apa sih ikut-ikutan!" Puspa melirik Arga dengan tatapan kesal.
"Jelek sekali mukamu kalau sedang marah"
"Terserah" Puspa semakin mempercepat langkahnya. Entah kenapa rasanya ruangan Ilham di rawat terasa sangat jauh.
"Sial! Siapa sih yang membangun Rs ini. Terlalu lebar tau. " Gerutu Puspa.
Arga terkekeh pelan dan tetap menyamakan langkahnya dengan Puspa.
Saat melewati salah satu lorong yang agak sepi di Rs, Puspa terus saja mempercepat langkahnya. Ingin lari tapi kenapa rasanya berat. Tidak sengaja kaki kiri Puspa bukannya melangkah ke depan malah menendang kaki kanannya dari belakang.
Puspa jatuh tersungkur dan buah-buahan yang ia bawa jatuh ke lantai dan berserakan
__ADS_1
Arga terkejut. Ia langsung berjongkok.
"Nah. Siapa suruh menghindariku"
Puspa meringis kesakitan saat lutut dan sikunya mencium lantai.
"Kalau tidak mau menolongku jangan banyak bicara." Puspa mendengus sebal karena Arga berjongkok bukannya menolong malah memandangi dirinya.
Puspa berusaha berdiri. Namun terjatuh kembali.
"Butuh bantuan?" Goda Arga
"Tidak. Aku bisa sendiri. Pergilah" Puspa ketus.
"Hadeehhhh mau bilang 'Bantuin dong' saja susah. Karena aku baik hati, maka aku akan menolongmu" Arga membantu Puspa berdiri.
"Dih drama." Puspa melengos. Ia berjalan mendekati buah-buahan yang berserakan dengan langkah tertatih.
"Untung saja sepi. Kalau banyak orang kan malu" Puspa sedikit berjongkok tapi lututnya malah terasa linu.
"Menyebalkan" Umpat Puspa. Mood nya kacau hari ini.
"Wkwkwk setidaknya buah-buahan itu sudah jatuh ke lantai sebelum sampai di tangan laki-laki itu" Bathin Arga.
"Menyebalkan. Hari sial. Buruk. Sangat buruk. Sangat menyebalkan." Puspa terus mengoceh sambil memunguti buah-buahan itu. Ia menoleh Arga yang hanya memandanginya santai.
Puspa makin jengkel saat Arga tidak membantunya.
"Butuh bantuan?" Goda Arga
"Tidak!. Sama sekali tidak!"
Setelah selesai, Puspa melihat kantong plastik wadah buah-buahan itu
"Untung tidak ada yang sobek." Ucap Puspa. Ia langsung berjalan lagi meninggalkan Arga di belakang.
__ADS_1
"Sebaiknya aku cuci dulu buahnya."
Puspa berjalan tertatih. Sebenarnya Arga kasihan, tapi saat akan menolongnya ia jadi teringat tujuan Puspa kemari adalah untuk menjenguk laki-laki itu.
Itu sebabnya Arga memilih membiarkan Puspa tadi.
Arga teringat sesuatu.
"Jika ia masuk ke ruangan laki-laki itu, maka itu akan jadi kesempatan baginya untuk menyentuh Puspa. Tidak." Ia langsung berlari kecil dan menggendong Puspa.
Puspa sontak terkejut.
"Eh apa-apaan ini. Turunkan aku" Puspa berusaha berontak. Hingga ia sampai di lorong dengan banyak pengunjung yang berlalu lalang.
"Aaiihh malu. Turunkan aku"
Arga hanya diam.
"Hei! Aku mau ke kamar mandi dulu. Aku harus mencuci buah-buahan ini"
"Tidak perlu. Itu sangat lebay"
Mereka berdua menjadi pusat perhatian pengunjung. Puspa bersembunyi di dada Arga.
"Memalukan memalukan memalukan" Oceh Puspa.
"Bisakah kau berjalan lebih cepat. Aku malu" Gumam Puspa
"Aku bukan babu. Kau juga tidak sanggup membayarku. Jadi lebih baik diamlah"
"Kau ini sudah tidak punya urat malu ya?" Puspa mencubit dada Arga
"Awwsss. Jangan kurang ajar sebelum ku lempar kau dari atas gedung" Ancam Arga
"Gila" Umpat Puspa. Puspa dapat merasakan detak jantung Arga yang berdegup kencang
__ADS_1
"Mungkin efek lelah menggendongku, jadi jantungnya seperti ini" Gumam Puspa. Ia tidak sadar jika Arga tersenyum tipis.
^Maaf banyak typo😄^