
Hari-hari Puspa lalui dengan tenang, ia disibukkan memilih dan ikut membantu menyiapkan dekorasi. Mama Arga hanya diam saja, saat Puspa berkunjung ke rumah Arga pun ia hanya diam. Semenjak ia tau bahwa Puspa adalah anak dari sahabatnya, ia lebih banyak diam bahkan pada suaminya sendiri.
Arga tidak memusingkan hal tersebut, ia fokus pada pekerjaannya dan pada acara pertunangannya yang 3 hari lagi akan di gelar.
Berbeda dengan Andre yang makin hari makinn memikirkan Yuli yang tak kunjung kembali. Sedikit demi sedikit keberadaan Puspa dihatinya pun mulai tergeser. Setiap hari baik sewaktu berangkat maupun pulang dari bekerja ia selalu datang ke rumah Yuli danĀ harus merasakan kekecewaan saat Yuli tidak ada.
Ia terus memikirkan letak kesalahannya hingga Yuli menghindarinya seperti ini, namun sampai saat ini ia belum menemukannya. Saat bertanya pada tetangganya, yang ia dapatkan hanyalah jawaban 'Tidak Tau' darinya. Karena Yuli memiliki sedikit teman, maka sedikit pula informasi yang ia dapatkan. Dan semua temannya tidak mengetahui keberadaan Yuli, bahkan mereka pun terkejut saat Yuli memblokir semua akun sosmed teman-temannya
Elisa pun juga sengaja menonaktifkan kartunya, ia tidak ingin diganggu dulu. Dengan alasan liburan, ia berhasil menghindari Puspa dan Arga.
Elisa berdiri di depan cerminnya. Ia merasa rindu akan Puspa
"Apa aku pulang saja?" Gumamnya
Ia berjalan ke arah meja di samping ranjangnya lalu melihat kalender. Perjalanan pulang memakan waktu kurang lebih 24 jam
"Hmmm oke, sekarang masih tanggal 7 sekarang, aku akan pulang tanggal... Tanggal 10 saja, berarti aku akan berangkat tanggal 9"
Elisa mengganti pakaiannya dan merias wajahnya dengan make-up tipis, ia akan berbelanja oleh-oleh untuk Puspa, akan ketahuan bohongnya jika ia pulang liburan tanpa membawa oleh-oleh untuk sahabat satu-satunya itu
Ia pergi ke sebuah mall disana, ia langsung masuk dan berniat ingin membelikan sandal untuk Puspa
"Tunggu! Aaaarrghhh apa ya kesukaan Puspa?" Elisa berjalan ke arah pakaian
30 menit ia memutari tempat tersebut, namun belum menemukan sesuatu yang pas untuk Puspa
Keluar dari tempat pakaian ia menuju tempat tas, ia terkesima saat melihat tas-tas mewah di hadapannya. Elisa menggelengkan kepala
"Aiihhh malah aku yang kepingin beli"
Ia mencari-cari tas jalan yang cocok untuk Puspa. Harganya memang paling murah 200.000, namun hal tersebut tidak masalah bagi Elisa. Ia terus mencari.
20 menit mencari dan akhirnya sebuah tas menarik perhatiannya, warna cream dengan desain yang sederhana.
"Naaaah!"
"Tidak terlalu meriah, warnanya kalem. Puspa pasti suka!" Elisa melihat harganya yang sekitar 300.000 lebih.
Elisa tidak pikir panjang lalu meminta nota untuk tas nya dan menuju kasir. Setelah membayarnya Elisa tiba-tiba ingin membeli tas yang sama, ia ingin tas kembaran dengan Puspa
"Mbak, ada yang seperti ini lagi?"
"Ada Kak. Tapi warnanya beda"
__ADS_1
"Yaaah" sedikit kecewa
"Kalau yang warna cream dengan desain berbeda namun ukurannya sama dengan tas ini ada Kak"
"Mau lihat, deh"
"Mari ikut saya Kak"
Elisa pun mengikuti langkahnya
"Ini Kak, warna dan ukurannya sama seperti tas yang Kakak bawa. Dengan harga 400 ribuan saja Kakak dapat memiliki tas dengan kualitas bagus dan tentunya awet"
Elisa tampak berfikir
"Emmm..."
"Ya sudah, saya ambil ini"
"Baik kak, mari saya Nota dulu"
Elisa mengangguk. Walau sebenarnya ia tidak puas
Petugas kasir menyodorkan belanjaan Elisa
"Terima kasih atas kunjungannya" ucapnya
"Maafkan aku, ya. Aku egois terhadapmu" sambil tersenyum lalu melanjutkan aktivitasnya
Disisi lain di rumah Puspa
Ia masih terus berusaha menghubungi Elisa, namun tetap saja tidak bisa di hubungi
"Apa dia baik-baik saja?"
Hari mulai gelap, Bapak Puspa datang berkunjung. Puspa membawakan segelas kopi untuknya
"Luka Bapak sudah baikan, ya?"
"Alhamdulillah. Kamu jangan terlalu lelah, pertunanganmu sudah 3 hari lagi"
"Heheh siap!"
"Kemarin Puspa sudah memilih cincinnya, harganya mahal sekali" Puspa duduk
__ADS_1
Bapak Puspa hanya tersenyum.
"Bapak sudah izin sama Istri Bapak?"
"Hmmm kamu masih belum bisa menerima dia sebagai Ibumu ya"
"Tentu, aku tidak akan pernah menerimanya"
"Huuffft.. Bapak sudah izin padanya, Bapak mungkin akan menginap disini malam ini"
"Bukannya Puspa melarang, tapi itu nanti Istri Bapak akan membuat keributan kalau Bapak tidak pulang"
Bapak Puspa terdiam, ia merasa tertolak oleh darah dagingnya sendiri
"Aaaa maaf, maaf perkataan Puspa menyakitkan"
"Ahah tidak, tidak. Tidak masalah" sambil tersenyum
Bapak Puspa memandangi segelas kopi di tangannya,
"Eemmm... Bapak akan hadir kan?"
Bapak Puspa menatap Puspa,
"Eeee... Bapak tidak tau"
"Kenapa? Bapak tidak akan hadir?" Dengan nada sedih
"Bapak rasa... Bapak akan menunggu kabar terbaiknya saja" sambil tersenyum
"Hmmm apa karena Istri Bapak?" Puspa mulai kesal
"Tidak, tidak. Bukan karena dia kok"
"Lalu kenapa Bapak tidak mau hadir? Ini pertunangan anak kandung Bapak, bukan anak tiri Bapak"
"Puspa..."
"Acaranya malam hari, Pak. Bapak kan sudah tidak bekerja di jam itu"
"Bapak usahakan hadir ya" memegang erat gelasnya
"Bapak mampu selingkuh tanpa mempertimbangkan keluarga, tapi untuk hadir di acara pertunangan Puspa saja banyak alasan"
__ADS_1
"Puspa, bukan begi-"
"Puspa mau kepastian" Puspa berdiri dan berjalan ke dapur meninggalkan Bapaknya di ruang tamu